Padang, Prokabar — Muhammad Sjafe’i atau akrab dipanggil Engku Sjafe’i merupakan pendiri INS Kayu Tanam. Bersama Ibrahim Mara mendirikan perguruan tersebut pada tahun 1926. Banyak seniman terkemuka lahir di sini. Seperti pelopor kartunis, pelukis Noerdin, Nurdi BS, Zaini, Mochtar Apin, Mara Karma, Anwarsyam, Osmania, Pematung Hasan Basri, Musisi Sjaiful Bahri dan Sastrawan A.A. Navis.
Pada suatu kesempatan, Dewan Harian Daerah (DHD) Badan Pembudayaan Kejuangan (BPK) 45 Provinsi Sumatra Barat menggelar seminar sehari di Auditorium Gubernur Sumbar, Selasa (27/8) kemarin. Pertemuan tersebut sempat mengupas tulisan Profesor Mestika Zed tentang Jejak Pemikiran Pendidikan Engku Sjafe’i dan INS Kayu Tanam.
Selain Bupati Padang Pariaman, Ali Mukhni, turut dihadiri sejarawan Profesor Dr. Phil. Gusti Asnan, Kepala Dinas Pendidikan Sumbar Adib Alfikri, mantan Bupati Solok Syamsu Rahim dan Ketua DHD BPK 45 Provinsi Kalimantan Barat Syafruddin.
Seminar nasional DHD BPK 45 Sumbar tersebut diselingi Pelantikan Pengurus DHD BPK 45 Sumbar oleh mantan Wapres RI Jenderal TNI (Purn) H. Try Sutrisno.
Mestika Zed, dalam tulisannya mengupas kiprah dan jejak sejarah tokoh pendidikan INS Kayu Tanam itu.
“Engku Sjafe’i telah ikut mengharumkan nama daerah Padang Pariaman. Kayu Tanam semakin dikenal karena ada INS tersebut. Setiap orang mengulas kiprah Engku Sjafe’i nama Kayu Tanam dan Padang Pariaman ikut disebut,” ujar Ali Mukhni saat berkesempatan menjadi penanggap karya ilmiah Mestika Zed tersebut.
Ali Mukhni membenarkan apa yang ditulis Sejarahwan asal UNP itu, tentang pemikiran pendidikan Engku Sjafe’i yang melampui zamannya.
“Pemikiran pendidikan Engku Sjafe’i sangat modern dalam zaman yang belum modern,” ungkap Ali Mukhni,seraya mengulangi ungkapan Mestika Zed.
Pemikiran pendidikan Engku Sjafe’i, lanjutnya, berbeda dengan pendidikan zaman sekarang. Engku Sjafe’i mengajarkan kejujuran, akhlak, moral dan keterampilan yang sesuai dengan adat istiadat, budaya dan tradisi di Minangkabau. “Suatu konsep yang komprehensif dibandingkan sistem pendidikan sekarang,” tuturnya.
Namun kondisi sekarang berbanding terbalik dimasa kejayaannya tempo dulu. Cahaya pencetak sastrawan, seniman dan budayawan tersebut sudah sirna ditelan waktu.
Ali Mukhni kemudian mengajak seluruh stakeholder untuk ikut memikirkan dan mempedulikan kondisi warisan Engku Sjafe’i tersebut.
“Kondisi INS Kayu Tanam dari tahun ke tahun semakin mundur dan sulit berkembang akibat kompetisi yang sangat tinggi. Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman pernah membantu memberikan beasiswa kepada siswa INS, namun tentu sesuai kesanggupan. Untuk itu, mari bersama-sama ikut memikirkan pembangunan INS,” harapnya.
Ia menambahkan, walau INS berada di wilayah Kabupaten Padang Pariaman namun tentu membutuhkan perhatian semua pihak. Terutama turut peduli dengan dunia pendidikan dan warisan berharga Engku Sjafe’i,” pungkasnya. (rud)
















