Membangun Kampung Mulai dari yang Kita Bisa

Penulis -

Sabtu, 31 Mei 2025 - 17:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Febby Dt Bangso

Di Minangkabau, membangun nagari bukan semata soal proyek, anggaran, atau pembangunan fisik. Ia adalah proses merawat nilai-nilai, menyambung silsilah sosial, dan memperkuat jalinan adat yang hidup dalam tatanan salingka nagari. Oleh karena itu, pembangunan tidak bisa diseragamkan. Setiap nagari memiliki akar, cara pandang, dan bentuk tatanan adat yang khas.

Sebagaimana ditegaskan oleh budayawan Minangkabau, Gusti Asnan (2020), “Nagari itu bukan sekadar wilayah administratif, tapi sistem sosial budaya yang hidup dengan adatnya. Kalau dipaksa satu model, ia bisa mati pelan-pelan.” Ucapan ini mengingatkan kita bahwa penghormatan terhadap keberagaman lokal adalah fondasi penting dalam membangun nagari secara berkelanjutan.

Adat Salingka Nagari—sistem nilai dan tata laku sosial di Minangkabau—sejak dahulu telah menjamin otonomi dan fleksibilitas dalam pengambilan keputusan lokal. Dalam sistem ini, musyawarah mufakat, aleg nagari, dan pakarasa menjadi fondasi etis yang mengatur kehidupan bersama. Seperti ditulis oleh Taufik Abdullah (1971) dalam Adat dan Islam di Minangkabau, kekuatan masyarakat Minang justru terletak pada kemampuannya merespons perubahan tanpa kehilangan jati dirinya, karena “adat tidak berada dalam teks beku, tetapi dalam praktik sosial yang hidup”.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Namun kini, pembangunan nagari kerap didorong dengan pendekatan seragam: semua nagari harus membuat RPJMDesa, renstra, hingga indikator keberhasilan yang sama. Padahal, bagaimana mungkin nagari yang berbeda akar sosial, sejarah, dan kepemimpinan adatnya bisa disamakan dalam satu kerangka kerja?

Di sinilah pentingnya memahami peran perantau dalam konteks yang lebih dalam. Banyak suara yang mempertanyakan mengapa perantau tidak selalu aktif dalam pembangunan kampung. Namun pertanyaan ini kadang lahir dari cara pandang yang sempit: menganggap kontribusi harus seragam, berbentuk materi, atau pulang kampung secara rutin. Padahal dalam struktur sosial Minangkabau, tanggung jawab perantau bersifat kultural dan komunal, bukan administratif.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Febby Dt. Bangso, Ketua KAN Nagari Gurun (2025–2030)

> “Perantau itu tidak harus datang membangun jembatan untuk disebut berbuat. Kalau ia bisa menjaga rumah gadangnya dari pecah, membantu kemenakan sekolah, atau jadi rujukan damai dalam keluarga saparuik—itu sudah bagian dari ketahanan nagari.”

Prinsip ini selaras dengan nilai saro jo basandi, di mana ukuran kontribusi bukanlah rupa, tapi dampaknya terhadap keseimbangan sosial. Perantau bisa saja aktif membentuk forum saruak di perantauan, melestarikan bahasa Minang untuk anak-anak diaspora, atau menjadi simpul jaringan informasi dan pendidikan bagi nagari asalnya. Semua itu adalah kontribusi konkret—meski tak selalu terlihat dalam data APBDes.

Oleh karena itu, pembangunan nagari yang berakar kuat tidak memerlukan seragam, tapi memerlukan arah yang sesuai dengan pangkal yang elok. Pangkal ini bukan hanya tempat berangkat, tapi niat dan nilai yang menopang setiap langkah: adat yang dipakai, orang kampung yang dijaga, dan hubungan kekerabatan yang dirawat.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Seperti ungkapan dalam tambo adat:

> “Indak ado nagari nan tumbuah, kalau pangka ka langang. Jagoan kampuangnyo barek, barulah nagari indak galanggang ka luko dek angin.”

Penutup: Membangun dari Akar, Bukan Cetakan

Ke depan, pembangunan nagari harus dimulai dari pengakuan atas keberagaman lokal dan penguatan sistem sosial berbasis adat salingka nagari. Perlu ruang legal dan politik yang membolehkan nagari tumbuh dengan cara dan nilai sendiri, termasuk dalam hal pelibatan perantau.

Tidak perlu seragam untuk bisa berbuat. Perantau cukup menjaga apa yang diwariskan: rumah gadang, saparuik, dan pakarasa. Selama itu hidup, nagari akan tetap kuat—meski diterpa angin.

Penulis : Febby Dt Bangso

Editor : Nofal Wiska

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB