Padang Pariaman, Prokabar – Tambika adalah media tempat pengolahan atau mendulang emas atau sejenis benda serpihan berharga lainnya. Biasanya, alat ini digunakan sering digunakan oleh pencari emas dari serpihan tanah dari pedagang emas yang mengolah emas. Nama lain dari Tambika adalah Gerabah.
Di Nagari Kapalo Koto, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat, Tambika diproduksi secara massal oleh masyarakat dan permintaan dari salah seorang pengusaha. Jadi, tidak heran bila ke negeri ini setiap rumah warga berjejeran puluhan Tambika. Konon, di Perkampungan ini adalah penghasil Gerabah atau Tambika terbesar di Pulau Sumatra.
“Namun sejak harga emas tidak lagi stabil, membuat produksi Tambika terganggu dan semakin menurut,” kata Karmila (35), salah seorang pengusaha Tambika Nagari Kapalo Koto kepada Prokabar.com, Kamis (26/7).
Saat ini lanjutnya, produksi kami kurangi karena permintaan sangat minim. Untuk menutupi kebutuhan, kami terpaksa mencari usaha lain, seperti membuat kerupuk.
“Tambika akan semakin banyak diproduksi bila pengusaha atau penambang emas banyak memasan. Ukuran Gerabah ini pun beragam. Mulai ukuran nomor 1 sampai ukuran nomor 15,” ungkapnya.
Untuk harga 1 kardus dengan rata-rata berjumlah 800 buah ukuran nomor 1 hingga nomor 5, Rp150 ribu. Sedangkan ukuran lebih besar dijual perbiji dari harga Rp5 ribu rupiah hingga Rp20 ribu. Bila diisi dalam satu kardus dapat berjumlah 300 buah.
Suami dari Ristono Resa (37) ini juga menjelaskan ia dan keluarganya sudah 10 tahun mengeluti usaha tersebut. Bahkan dari sejak nenek moyang dahulunya, masyarakat Kapalo Koto sudah membuat Tambika. Karena rata-rata mereka asal Kapalo Koto atau umumnya dari Padang Pariaman, banyak menjadi pengusaha emas di Perantauan.
“Untuk produksi tergantung permintaan. Mulai dari Se-Sumatra hingga ke Jawa dan Kalimantan. Bahkan asal perantau di negeri Jiran, Singapura dan Brunai Darussalam juga sering membeli,” tutur Ibu Muda ini.
Ia kembali menerangkan saat ini tersedia 100 ribu biji Tambika di stanbay di gudang, menampung permintaan dari pembeli nantinya. “Namun sangat disayangkan, sejak 6 tahun belakangan ini, permintaan mulai menyusut. Mungkin akibat harga emas tidak lagi stabil,” tutupnya. (rud)
















