Wisata

Melihat Bukittinggi dari Sisi Lain


Bukittinggi, Prokabar. Gerimis mungkin bakal turun. Jam Gadang seolah lelah, di kakinya bendi masih berjejer. Jika dulu ada 1.000 bendi, maka kini tak sampai sepertiganya. Inilah kota dengan 300 tenaga kuda.

Kuda dan bendi yang lain melangkah jauh, membiarkan kotanya dirampas kud-kuda besi. Selamat tinggal ibunda.

Kota ini tak perlu kau tahu luasnya. Di sini ada 70an bukit yang namanya tak hafal oleh walikota Bukittinggi sekalipun.

Tapak Jam Gadang, itulah Bukit Kandang Kabau, pasar paling hebat di Minangkabau pada zamannya. Sekarang bernama Pasa Ateh karena letaknya di atas.

Jam Gadang itu dibangun 1926 oleh Belanda. Ya siapa lagi kalau bukan bangsa Eropa itu. Menurut kisah dari mulut ke mulut monument berdentang itu batang tubuhnya dibuat beton dengan adonan putih telur. Tentu saja ini salah, sebab di Padang pada 1910 saja sudah berdiri pabrik semen. Semennya pasti dari sana.

Baca Juga :  Ada Sepeda Gantung di Fort de Kock

Jam Gadang  pada angka 4 ditulis IIII, kata orang aneh, sesungguhnya tidak, semua jam besar di tengah kota di Belanda, angkanya juga seperti itu.

Yang aneh tentu jika Anda berada di sekitar Jam Gadang lantas bertanya-tanya, “sekarang jam berapa?” Tak usah lakukan itu, menengadah saja ke arah Jam Gadang maka waktu akan terlihat jelas.

Di sebelahnya ada Istana Negara Bung Hatta, rakyat menyebutnya gedung Triarga. Nyaris dempet ada Hotel Novotel berdiri gagah di tanah milik pemerintah dibangun swasta. BOT nama kerja samanya.

Baca Juga :  Kejar Target 1 Juta Kunjungan, Tanah Datar Gelar Iven Seru di Akhir Tahun

Bukitttinggi tempat wisatawan datang dan pergi, sudah ditulis mungkin jutaan kali entah siapa. Sepanjang sejarahnya Jam Gadang pernah ditutup kain sekali saat perayaan tahun baru. Yang ditutup jamnya bukan kawasannya. Itulah tindakan hebat atau konyol yang pernah ada.

Jangankan orang lain, warga Sumbar saja tak jemu-jemunya ke kota tempat bank swasta pertama berdiri di Sumatera Tengah itu. Mungkin di Sumatera,  Bank Nasional letaknya di dekat Jembatan Limpapeh yang menghubungkan kebun binatang dan benteng Belanda For de Cock. Bank itu didirikan pedagang Bukittinggi. Kini sudah tak ada yang tersisanya hanya gedungnya.

Di depannya jalan bersimpang tiga. Di pinggir simpang tiga itu ada warung martabak. Bukan martabak mesir biasa sebab sudah ada sejak 1923 atau 3 tahun sebelum Jam Gadang dibuat.

Baca Juga :  Panorama Tabek Patah di Sini Angin Menari-nari

Ketipak langgam kuda terdengar di aspal kota. Seekor kuda putih gagah, membawa bendi beroda dua. Seorang kusir lelaki setengah baya, memegang erat tali kekang.

“Huisss…huissss” katanya. Kuda melaju. Binatang piaraan ini sudah hafal jalan di sini, kota yang tanpa sadar ikut dibangunnya.

Tiga wisatawan yang duduk di atas bendi sibuk memoto kiri kanan.

Sebentar lagi senja. Ini Minggu 21 Mei 2017.

Datang-datang jugalah ke kota kami. 

(Kiriman Mardiwan Ali anak  dagang kaki Jam Gadang)

Berani Komen Itu Baik

To Top