Trending | News | Daerah | SemenPadangFC

Artikel

Melestarikan Kembali Permainan Tradisional Minangkabau Yang Mulai Punah

Ilustrasi / Internet
Dibaca : 117

Oleh : Syavira Marthadilla, Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Universitas Andalas


Padang, Prokabar — 
Permainan rakyat Minangkabau memiliki variasi yang bermacam-macam tergantung pada daerahnya. Misalkan, daerah darek dan daerah Pasisia memiliki corak dan gaya permainan yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat terjadi karena dua hal: baik pengaruh dari luar serta perbedaan geografis. Permainan rakyat Minangkabau, memiliki sifat terbuka sehingga mudah dipengaruhi oleh pihak luar. Misal, daerah Pasisia memiliki ragam permainan yang lebih banyak dikarenakan banyaknya orang luar yang masuk ke daerah Pasisia. Contoh permainan rakyat daerah Pasisia seperti: tabut, debus, indang, dan salawat dulang.

Sedangkan untuk daerah darek, memiliki gaya dan corak yang lebih banyak melihat kepada alam. Sehingga permainan pada daerah darek ini pun lebih dominan bersifat Minangkabau, seperti musik, nyanyian, tarian dan bela diri. Yang dimaksud bersifat Minangkabau dalam hal ini adalah bentuknya yang sederhana dan temanya yang juga sederhana. Permainan rakyat yang bersifat Minangkabau yang terpenting pada dasarnya bertolak dari kaba sebagai tema dan pencak silat sebagai gerakan dengan dendang sebagai karawitan sebagai alat pembantu.

Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin modern, maka kini semakin banyak pula permainan-permainan yang sangat canggih dan didukung dengan teknologi tinggi, dan  biasanya permainan-permainan ini ditujukan bagi anak-anak. Maka tak heran jika anak-anak sekarang tidak mengenal beragam permainan tradisional yang ada di Minangkabau. Berbeda ketika beberapa tahun atau beberapa puluh tahun yang lalu, ketika kita masih kecil mungkin kita lebih mengenal permainan-permainan tradisional seperti, Sipak Rago, Cak Bur, Badia Batuang danSepak Tekong.

Permasalahannya adalah, bukan kita tidak ingin menerima kemajuan teknologi yang terjadi saat ini. Namun perlu kita menyadari bahwa, kemauan teknologi tidak seluruhnya membawa dampak positif bagi kita  namun juga membawa dampak negatif yang tanpa kita sadari, hal ini tentu cukup mengkhawatirkan bagi kita, terutama bagi anak-anak yang sedang mengalami fase perkembangan.

Saat ini berbagai macam permainan modern telah mudah kita dapatkan, baik secara online ataupun offline dan sangat mudah untuk diakses oleh anak-anak, dan tidak sedikit orang tua yang membiarkannya bahkan ada pula orang tua yang menfasilitasi di rumah, dengan alasan sebagai hiburan anak ketika anak-anak berada di rumah. Selain disediakan di rumah, banyak juga orang-orang yang membuka usaha game seperti playstation, game online, dan lain-lain.

Sumatera Barat selalu menarik untuk diperbincangkan. Selain kotanya yang menarik dijadikan tempat wisata, Sumatera Barat juga memiliki makanan khas daerahnya sendiri plus baju adat, rumah adat, dan sebagainya. Banyak sekali tradisi khas Minagkabau ini. Selain budaya dan ada istiadat, Minangkabau juga memiliki permainan tradisional. Memang setiap suku pasti memiliki permainan khas tradisionalnya amsing-maisng, namun ini berbeda. Permainan tradisional khas Minangkabau ini menarik untuk disimak karena unik dan bermanfaat juga untuk kesehatan. Banyak sekali permainan tradisional yang diwariskan secara turun temurun . Namun, seiring bergesernya budaya masyarakat, permainan ini mulai jarang ditemukan. Apa saja permainan tradisional khas Minangkabau?

Sipak Rago, dalam bahasa Indonesia, Sipak Rago adalah sepak raga. Permainan ini dulunya sangat populer di daerah Minagkabau. Banyak yang mengatakan bahwa sipak rago inilah asal mula dari sepak takraw. Terlepas dari benar dan tidaknya, namun siap rago ini biasanya dimainkan oleh laki laki. Pemainnya akan membentuk lingkaran lalu menyepak bola yang terbuat dari anyaman kulit rotan maupun daun kelapa. Aturan mainnya cukup mudah dimana bola tidak boleh jatuh ke tanah. Sipak rago ini tidak menggunakan jaring seperti sepak takraw. Mungkin  jaring inilah yang menjadi pembeda sipak rago dan sepak takraw.

Badia batuang, permainan tradisional khas Minangkabau selanjutnya adalah Badia. Badia sendiri memiliki arti bedil atau meriam, sedangkan batuang berarti bambu besar. Ya, anak-anak Minangkabau sering sekali bermain badia batuang ini. Badia batuang biasanya akan wamai dimainkan kala bulan Ramadhan. Anak-anak akan berkumpul untuk membuat merian dari bambu yang besar. Meriam ini akan diberi minyak tanah dan diberikan sumbu. Bambu aka dilubangi ujungnya dan lubang kecil sebelum pangkalnya. Saat disulut, badia batuang akan menghasilkan dentuman yang keras. Saat ini sulit ditemui anak-anak yang masih bermain badia batuang ini karena anak-anak lebih memilih menyalakan petasan.

Cak Bur sering dimainkan oleh kanak-kanak. Nama lain dari permainan ini adalah galah panjang. Kenapa Cak bur? Karena para pemainnya harus mengucapkan cak dan bur. Cak bur akan dimainkan oleh dua gelanggang dan biasanya dibuat dengan menarik garis dari atas tanah dengan ukuran sekitar 2×2 meter dan dibagi lagi menjadi beberapa kotak. Tidak ada ukuran baku, sebab ukurannya dapat disesuaikan. Keuda tim haruslah memiliki jumlah anggota yang sama.

Dalam permainan tradisional khas Minangkabau ini, satu tim akan berperan sebagai penjaga dan tim lain sebagai pemain. Tim pemain bertugas untuk melewati kotak-kotak yang ada hingga sampai ke ujung tanpa boleh tersentuh penjaga. Permainan akan dimulai oleh penjaga paling depan dnegan mengucap cak dan diakhiri dengan pemain yang berhasil melewati penjaga dan mengucapkan bur untuk menandai kemenangannya. Permainan akan diulang hingga semua anggota tim berhasil lolos.

Sipak tekong ini adalah permainan petak umpet ala Minang. Sipak sendiri artinya sepak dan tekong artinya kaleng. Yang membuat permainan tradisional khas Minangkabau ini berbeda adalah pemain yang dahulu tertangkap dapat diselamatkan. Seperti petak umpet pada umumnya akan ada satu orang yang bertugas sebagai penjaga dan yang lainnya akan bersembunyi. Akan ada kaleng yang diletakkan ditengah lingkaran. Penjaga akan mencari teman-temannya yang bersembunyi. Penjaga harus menyebutkan nama dan meyentuh tekong sambil berkata sipak tekong. Jika hal ini tidak dilakukan, maka orang yang bersembunyi tadidapat bersembunyi kembali dnegan menyepak tekong tersebut.

Berikut beberapa cara mempertahankan permainan tradisional. Pertama, mengenalkan kembali kepada anak tentang permainan tradisional. Ajaklah anak dan lingkungan terdekat bermain permainan tradisional. Atau adakan lomba-lomba permainan tradisional baik di lingkungan sekolah ataupun di lingkungan tempat tinggal.

Kedua, membuat permainan tradisional menjadi lebih menarik. Sebagai generasi yang masih peduli, kita bisa mengubah permainan tersebut menjadi lebih menarik. Misal, mengajak anak-anak bermain permainan tradisional dan menyediakan hadiah bagi yang banyak memenangkan permainan.  

Permainan tradisional khas Minangkabau  kebanyakan menuntut pemainnya untuk terus bergerak aktif, sehingga dnegan memainkan permainan ini tubuh akan sehat dan bugar. Namun, patut disayangkan karena permainan ini perlahan mulai ditinggalkan seiring bergesernya budaya. Marilah kita melestarikan budaya kita sebelum akhirnya benar-benar hilang. (***)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top