Oleh : Rafiatul Hasanah
Mahasiswa UIN Imam Bonjol
Setiap malam. Jutaan pasang mata menatap layar, membiarkan jempol mereka menari di atas dunia maya. Scroll ke atas, tap ke kanan, lalu berhenti sejenak. “Kok dia bisa ya seglowing itu?” “Wow, umur segitu udah beli rumah.” “Wah, couple goals banget.”
Tanpa sadar, dada kita terasa sesak. Bukan karena iri. Bukan juga benci. Tapi karena kita mulai merasa tidak cukup.
Media sosial jadi etalase sempurna untuk kehidupan yang palsu. Semua orang tahu itu . Namun, tetap saja selalu membandingkan diri sendiri dengan potongan kecil hidup orang lain. Insecure itu tumbuh pelrlahan. Tanpa sadar, kita mulai mempertanyakan diri sendiri. “Apa aku tertinggal?”. Pertanyaan yang tidak hanya menyita
waktu, tapi juga energi mental yang seharusnya bisa dialokasikan untuk hal yang lebih produktif.
Overthinking jadi teman tidur yang setia. Mulai menyalahkan diri sendiri. Kenapa tidak seproduktif dia? Kenapa belum sehebat mereka? Kenapa masih di tempat yang sama? Padahal, hidup bukan perlombaan. Tapi algoritma membuatnya terlihat seperti itu. Kita jadi ingin cepat-cepat sampai, padahal tujuannya belum tahu akan ke mana?.
Overthinking bukan hobi. Ia adalah dampak. Dampak dari ekspektasi yang terlalu tinggi, tekanan sosial yang terlalu bising, dan dunia maya yang terlalu penuh pencitraan. Media sosial menjanjikan koneksi, tapi yang didapat sering kali cuma perasaan tertinggal. Takut terlihat gagal. Takut terlihat biasa. Padahal kenyataan hidup memang tidak selalu aestethic dan sempurna seperti Instagram story.
Overthinking bukan hanya soal pikiran yang ribut. Ia adalah gejala dari generasi yang dibesarkan dengan tuntutan terlalu banyak, ruang terlalu sempit, dan ekspektasi yang terlalu berat. Kita bukan lemah. Namun, hanya manusia yang terlalu sering dipaksa kuat.
Menurut data terkini, rata-rata orang menghabiskan 4 jam 37 menit di ponsel mereka setiap hari. Itu setara dengan lebih dari 1 hari per minggu atau 6 hari per bulan . Dalam setahun, itu sekitar 70 hari dihabiskan untuk menatap ponsel. Mungkin mengejutkan, rata-rata penggunaan gadget pada hari kerja lebih banyak daripada akhir pekan. Rata-rata, orang memeriksa ponsel mereka 58 kali per hari. Dan hampir 52% pemeriksaan telepon (30 per hari) dilakukan selama jam kerja.
Ironis bukan? Di tengah kemudahan terhubung dengan ribuan orang, kita justru semakin terasing dari diri sendiri. Media sosial yang diciptakan untuk “menghubungkan.” Tapi banyak dari kita justru merasa semakin sendirian. Kita menonton kehidupan orang lain dari balik layar, sambil merasa hidup kita sendiri kurang berwarna. Platform yang awalnya diciptakan untuk mendekatkan yang jauh, sekarang justru menciptakan jurang dalam psikis.
Terlalu sibuk dengan imajinasi, hingga lupa menjalani hari dengan penuh kesadaran. Sibuk memikirkan caption, filter, likes, dan views. Takut tidak relevan. Takut ketinggalan. Takut tidak dilihat. Hidup di dunia di mana validasi bisa diukur dengan likes. Di mana makna diri ditentukan dari jumlah views. Lucu, ya? Seseorang bisa merasa tidak berharga hanya karena algoritma tidak berpihak padanya minggu ini. Semuanya berlomba jadi yang paling sempurna. Tapi tak satu pun merasa utuh. Tapi yang lebih mengerikan, kecanduan validasi digital ini bukan sekadar masalah dewasa. Anak-anak, generasi yang bahkan belum matang secara emosional, sudah terpapar racun yang sama.
Masalah bukan di platformnya, tapi pada cara menggunakannya. Manusia tak sadar sedang terjebak di ruang pamer terbesar dalam sejarah manusia. Tempat orang-orang hanya menunjukkan bagian terbaik hidupnya, lalu menyembunyikan tangisnya di balik filter.
Kita lelah karena terlalu banyak membandingkan. Cemas karena terlalu sibuk mengamati orang lain, tapi lupa melihat ke dalam diri sendiri. Overthinking itu nyata, dan media sosial mempercepat prosesnya. Kita Butuh Diam yang Menyembuhkan. Bukan Scroll yang Membius. Kita tidak butuh algoritma yang memvalidasi keberadaan. Kita butuh ruang untuk pulih. Untuk sadar bahwa tidak apa-apa tidak sempurna. Tidak apa-apa tidak cepat. Tidak apa-apa belum tahu arah.
Berapa lama lagi kita rela menukar kesehatan mental demi validasi sementara?
Solusinya bukan meninggalkan media sosial sepenuhnya. Terlalu naif di era serba digital ini. Yang dibutuhkan adalah kesadaran dan kedewasaan digital. Mulai dengan sederhana. Tetapkan batas waktu berinternet, ciptakan ruang aman di luar dunia maya, dan kembalilah pada interaksi manusia yang sesungguhnya.
Perlunya membangun literasi digital yang tidak hanya fokus pada bagaimana menggunakan teknologi, tapi juga bagaimana teknologi menggunakan kita. Edukasi tentang bagaimana algoritma bekerja, bagaimana konten yang dikonsumsi secara perlahan membentuk persepsi diri, dan bagaimana validasi virtual sebenarnya tak lebih dari dopamin sementara.
Jadi, sebelum jempolmu kembali scroll tanpa arah, tanyakan pada dirimu. “Apakah aku yang mengendalikan media sosial, atau media sosial yang mengendalikanku?” Karena pada akhirnya, dari ribuan pengikut yang dimiliki, hanya satu yang akan mengikutimu seumur hidup. Dirimu sendiri. Diri itulah yang layak mendapatkan validasi paling utama, bukan dari like atau komentar, tapi dari penghargaan dan cinta pada diri sendiri
Secuil layar, segenggam tekanan, dan segunung harapan palsu dari dunia yang tak pernah benar-benar nyata.
Penulis : Opini
Editor : Nofal Wiska
















