Padang, Prokabar — Upaya Majelis Dosen Muda Universitas Andalas (MDM Unand) dalam memperjuangkan aspirasi kepada rektor akhirnya membuahkan hasil. Rencananya audiensi ini akan dilaksanakan di Ruang Rapat Auditorium Sayap Kanan, Selasa (10/12) sore.
Upaya audiensi ini telah dilakukan sejak dua rektor yang telah menjabat sebelumnya. Namun, tidak ada tanggapan dari pihak rektorat. Sampai akhirnya rektor berganti lagi, ajakan berdialog pun datang dari Prof. Yuliandri sebagai rektor terpilih periode 2019-2024.
Dengan adanya ajakan tersebut anggota MDM segera menyiapkan aspirasi yang akan disampaikan.
Virtuous Setyaka, selaku salah satu anggota MDM mengatakan, Prof. Yuliandri akan mengundang MDM duduk bersama membahas masalah-masalah kampus, diketahui oleh anggotanya pada Jumat kemarin. Tanpa berlama-lama, para dosen muda itu segera menyusun hal-hal apa saja yang akan disampaikan dalam kesempatan tersebut.
“Aspirasi pun tidak hanya datang dari para dosen muda, tapi juga mahasiswa. Dalam waktu tiga hari, dengan menggunakan media sosial kami berhasil menampung dan menyerap pesan yang ingin disampaikan mahasiswa pada pemimpin tertinggi di Unand.” ungkapnya melalui siaran Pers, Selasa (10/12).
Lebih lanjut dirinya menjelaskan, dalam audiensi ini mahasiswa memang tidak diundang, tapi mereka tetap memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat lewat MDM selaku yang diundang.
Virtuous menambahkan, keresahan muncul karena didorong oleh permasalahan akademik dan administratif kampus. “MDM ini ada karena tata kelola kampus yang tidak demokratis, tidak transparan, dan tidak adil. Untuk memahami majelis ini, dapat dilihat dari manifesto MDM,” ujar Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unand tersebut.
Manifestonya sendiri berisi lima poin, yaitu:
1. Majelis Dosen Muda adalah wadah aspirasi dosen Universitas Andalas yang bukan Guru Besar.
2. Majelis Dosen Muda menjunjung tinggi semangat kritis dan keberpihakan pada kebenaran dan keadilan berdasar hati nurani dan pikiran jernih.
3. Majelis Dosen Muda berperan sebagai ruang diskusi kritis dan terbuka terhadap dinamika akademik dan administratif di Universitas Andalas.
4. Majelis Dosen Muda bertindak sebagai forum independen mewakili semua dosen bukan Guru Besar dalam penentuan sikap dan pembuatan kebijakan yang diperlukan dalam merespon dinamika kampus demi mewujudkan Universitas Andalas yang demokratis, transparan, berkeadilan, dan bermartabat.
5. Majelis Dosen Muda bekerja sama dengan semua pihak khususnya civitas akademik yang kritis, berpihak pada kebenaran dan keadilan berdasar hati nurani dan pikiran jernih, dalam mewujudkan Universitas Andalas yang demokratis, transparan, berkeadilan, dan bermartabat. (*/hdp)
















