Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

Masuk Sekolah, Lain Dulu Lain Sekarang

Dibaca : 791

Oleh: Rizal Marajo

LAIN  dulu lain sekarang, termasuk soal bersekolah. Dulu bersekolah itu gampang, gampang masuknya, gampang pelajarannya, dan gampang pula cabutnya. Malah di sela-sela sekolah, masih sempat cabut demi main bola ciek piah cup di sawah atau lapangan kecil belakang sekolah.

Dunia memang sudah berubah, bersekolah jaman dulu sudah menjadi memori, indah tentu saja, dan membuat kita tersenyum kalau diingat-ingat sekarang. Sampai-sampai banyak yang rindu masa-masa lalu saat menjalani sekolah dari SD, SMP, sampai SMA.

Dulu bersekolah otak tidak terforsir seperti sekarang. Masih banyak waktu untuk bermain, bergembira, dan kepala tetap ringan. Dunia anak-anak sampai usia remaja masih bisa dinikmati selain buku, PR, dan setumpuk tugas yang harus diserahkan besok pagi.

Dunia SD di kampung, adalah dunia bersekolah yang bebas, merdeka, dan ceria. Untuk masuk sekolah pun tak perlu membuat kepala orang tua pusing tujuh keliling. Mendaftarkan anak tak habis waktu berhari-hari. Bahkan ketika diserahkan anak ke sekolah, hari itu juga bisa langsung duduk di kelas, walau belum punya baju seragam.

Hari-hari berikutnya rutinitas sekolah berjalan indah, pagi-pagi disambut para guru yang rata-rata sudah gaek tapi, berjiwa pendidik sejati.  Rutin senam pagi atau SKJ, dan upacara bendera ala kadarnya setiap hari Senin. Ditunjuk jadi petugas upacara bangga bukan main, walau hanya jadi “ajudan” kepala sekolah,  tukang bawa teks Pancasila.

Bagi guru yang penting murid mau belajar yang rajin, tidak pemalas, tidak mada. Guru tak terlalu melihat penampilan anak muridnya, mau pakai terompa japang ke sekolah, atau celana pendek merah sudah ada “mata” di pantat, tidak terlalu penting.

Semuanya dimaklumi masa itu, tak ada aturan murid  harus bersepatu yang warnanya hitam. Tidak pula ada aturan tiap hari ganti seragam, Senin pakai pakaian merah putih, Selasa batik, Rabu pakaian olahraga, Jumat  baju koko,  atau Sabtu seragam pramuka.

Sang guru sudah tersenyum senang dan bangga, karena cita-cita anak-anak kampung itu rata-rata tinggi ditengah kepolosan mereka.  Ada yang ingin jadi presiden seperti Pak Harto, jadi tentara, atau cita-cita yang paling klasik berbakti kepada orang tua, nusa dan bangsa.

Bagi sang guru, mau saja para orang tua menyerahkan anaknya masuk sekolah sudah mujur.  Bukan apa-apa,  saat itu masih ada pola pikir, bahwa sekolah itu hanya untuk orang kaya.  Itulah dunia sekolah dasar di kampung, bersahaja, tapi dirindukan.

Masuk jam 8 pagi, pulang jam 1 siang bagi kelas 3-6, atau hanya sampai jam 11 siang bagi kelas 1-2. Tidak ada anak-anak masih berada di sekolah dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore, karena tak ada les tambahan dan mengaji di sekolah seperti sekarang. Pulangnya sudah litak, letih, dan langsung terkapar. Malamnya masih diperas otaknya membuat PR yang selalu ada setiap hari.

Dulu, mengaji itu tempatnya di surau, sore atau malam bersama angku Labai yang selalu siap siaga dengan rotan ditangan saat mengajar mengaji. Tidak perlu pula anak-anak SD les bersama guru di sekolah dengan biaya ratusan ribu rupiah/bulan, karena mereka sudah bisa membaca, hapal kali-kali, dan sudah bisa menulis, dikte, dan mengarang singkat.

Dulu pelajaran tak susah-susah amat. Belajar matematika sangat simple, dan rumusnya sederhana, gampang dimengerti. Belajar IPS, murid hapal ibukota 27 Provinsi, ada juga yang hapal siapa gubernurnya. Pancasila, Sumpah Pemuda, teks Proklamasi, bahkan Pembukaan UUD 1945 jangan disebut lagi, hapal luar kepala.

Mereka tetap lulus dengan nilai baik, dan bisa menyambung ke SMP. Ujung-ujungnya ketika besar tahu-tahu sudah jadi guru, jadi pegawai, jadi pedagang grosir sukses, pemilik bengkel mobil, punya toko di Tanah Abang, dan ada juga yang jadi wartawan, bahkan jadi anggota DPRD.

Masuk SMP era 1980-1990 an juga tak memusingkan kepala wali murid. Tidak ada istilah online-online, PPDB, zonasi, afirmasi, dan syarat umur segala macam. Yang penting ada STTB SD, bisa diterima di SMP dalam rayon. Kalau mau SMP luar rayon, kalau nilai mencukupi aman tenteram  saja masuk. Orang tua tak perlu demo ke Diknas, apalagi ke kantor Bupati atau DPRD.

Masuk SMA pun begitu, kalau otak lumayan encer, nilai bagus, bisa masuk ke sekolah impian. Kalau kurang, terpaksa masuk SMA swasta. Kalau berminat sekolah kejuruan, STM, SMEA, atau SPG siap juga menampung,

Ya, dunia memang sudah berubah, tuntutan zaman menghendaki. Kemajuan ilmu dan teknologi akan selalu mengiringi dan tak bisa ditahan. Sayangnya semua kemajuan itu belum membuat semua proses masuk sekalah menjadi lebih memudahkan bagi warga, tapi justru membuat makin sulit.

Tahun ajaran baru menjadi masa-masa paling “menegangkan” bagi para orang tua. Takut anak tak dapat masuk sekolah negeri, kalau sekolah swasta dengan apa dihadang biayanya, disaat ekonomi makin sulit. Bagi kaum berduit itu bukan masalah, dan tetap bisa bersiul-siul tanpa beban. Sayangnya negeri ini masih jauh lebih banyak kaum tak berduit.

******

Perempuan kampung itu sudah terlihat letih, hari ini dia sudah jauh berjalan. Ke kantor Diknas, Kantor lurah, pergi ke salah satu SMA. Dia makin pusing dengan nasib anak gadisnya yang mau masuk SMA. Sejauh ini di website PPDB yang tak berkelincitan itu, nama anaknya gadisnya tidak kunjung keluar di SMA favorit pilihannya.

Padahal anak gadisnya termasuk bintang di sekolahnya di MTsN terbaik, nilainya hanya kurang sedikit 100. Ditambah setumpuk piagam penghargaan hasil juara kompetisi bidang studi, entah itu namanya Olimpiade Fisika, OSN, kompetisi sains, dan segala macamnya seperti tak berarti.

Putri semata wayangnya kalah saing masuk sekolah dengan anak-anak yang yang rumah orang tuanya disamping, dibelakang, atau didepan sekolah. Sekarang harapan tinggal satu, melalui jalur prestasi. Itupun juga peluangnya fifty-fifty, karena penerimaan di jalur ini juga terbatas jumlahnya.

Secara domisili dia memang tak tak masuk warga kota dimana SMA dimaksud, walau jaraknya rumahnya dengan SMA kota itu tidak jauh, dan sejatinya masih dalam jangkauan zonasi. Tetapi  angku palo kota sudah mengeluarkan perintah mengutamakan anak-anak kotanya.

Dulu semasa belum ada aturan zonasi-zonasian, masuk sekolah itu aman-aman saja kalau nilai dan prestasi mengkilap. Malangnya perempuan anggun itu, ketika anaknya tamat SLTP dia harus berhadapan dengan sistem dan aturan bernama zonasi itu.

Dia tak puas, tak mengerti, dan hanya bisa pasrah, dan tak kuasa menjawab ketika si anak gadisnya semakin gelisah dan menangis. Impian sang anak bersekolah  di sekolah favorit demi merajut cita-cita untuk berkuliah di Universitas bergengsi di Indonesia ini sepertinya mulai kandas.

Diam-diam perempuan itu mulai menangis dalam hati, sembari membelai rambut panjang anak gadisnya yang terisak-isak di bahunya. Dia hanya satu dari ribuan orang tua yang sedang galau berat saat ini. Sang anak, satu dari ribuan tunas-tunas bangsa yang masa depannya  dibenturkan begitu saja oleh sebuah sistem (*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top