Masjid Raya Sumbar Dari Kisruh Pembangunan Hingga Terbaik di Dunia

Penulis -

Selasa, 21 Desember 2021 - 22:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar – Masjid Raya Sumbar, siapapun yang melihat pasti terkagum. Arsitekturnya anti mainstream, tidak ada kubah. Arsiteknya adalah Rizal Muslimin yang memenangkan sayembara menyisihkan 300 an peserta.

Arsitektur Masjid Raya Sumbar menyerupai gonjong rumah gadang, tapi tidak tersusun seperti atap rumah adat Minangkabau, bentuknya segi empat, lancip di empat sisi. Ini juga menggambarkan bentangan kain saat Nabi Muhammad mengangkat batu Hajar Aswad ketika renovasi Ka’bah. Bentangan kain itu juha sebagai simbol persatuan suku di Mekah pada saat itu.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Atas mahakarya ini, Masjid yang dibangun diatas lahan 40 ribu meter persegi dinobatkan sebagai salah satu dari tujuh masjid dengan arsitektur terindah di dunia. Penghargaan itu diterima oleh Konsulat Jendral RI di Jeddah Eko Hartono.

Mesjid ini mulai dibangun tahun 2007 dan resmi bisa digunakan tahun 2019. Pembangunan menelan biaya tidak kurang dari Rp 330 miliar.

Dibalik masjid megah ini banyak cerita yang terjadi, mulai dari pemindahan sekolah pertanian, nasib yang terkatung katung karena tidak ada biaya pembangunan, kasus korupsi dan bantuan dari banyak pihak, termasuk Masyarakat Papua. Banyak cerita suka dan duka dalam proses pembangunan.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Pembangunan Masid termegah di Sumbar ini dilakukan oleh tiga gubernur, diawali oleh Gamawan Fauzi, dilanjutkan oleh plt Gubernur Redonyzar Moenek yang membawa banyak bantuan dari luar, dan dituntaskan oleh Irwan Prayitno. Ini adalah legasi dari komitmen pemimpin Sumbar.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Masjid Raya Sumbar kini tidak hanya sebagai tempat ibadah, di komplek itu juga ada gedung LKAAM dan Bundo Kanduang, melambangkan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah secara nyata.

Banyak pelajaran berharga dari masjid kebanggaan Sumbar ini, dan Penghargaan Abdullatif Al-Fozan membuktikan bahwa Masjid Raya Sumbar adalah arsitektur penting pelekat adat dan agama, serta pemersatu seluruh umat beragama di Sumatera Barat. (laf)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB