Padang, Prokabar – Masjid Raya Sumbar, siapapun yang melihat pasti terkagum. Arsitekturnya anti mainstream, tidak ada kubah. Arsiteknya adalah Rizal Muslimin yang memenangkan sayembara menyisihkan 300 an peserta.
Arsitektur Masjid Raya Sumbar menyerupai gonjong rumah gadang, tapi tidak tersusun seperti atap rumah adat Minangkabau, bentuknya segi empat, lancip di empat sisi. Ini juga menggambarkan bentangan kain saat Nabi Muhammad mengangkat batu Hajar Aswad ketika renovasi Ka’bah. Bentangan kain itu juha sebagai simbol persatuan suku di Mekah pada saat itu.
Atas mahakarya ini, Masjid yang dibangun diatas lahan 40 ribu meter persegi dinobatkan sebagai salah satu dari tujuh masjid dengan arsitektur terindah di dunia. Penghargaan itu diterima oleh Konsulat Jendral RI di Jeddah Eko Hartono.
Mesjid ini mulai dibangun tahun 2007 dan resmi bisa digunakan tahun 2019. Pembangunan menelan biaya tidak kurang dari Rp 330 miliar.
Dibalik masjid megah ini banyak cerita yang terjadi, mulai dari pemindahan sekolah pertanian, nasib yang terkatung katung karena tidak ada biaya pembangunan, kasus korupsi dan bantuan dari banyak pihak, termasuk Masyarakat Papua. Banyak cerita suka dan duka dalam proses pembangunan.
Pembangunan Masid termegah di Sumbar ini dilakukan oleh tiga gubernur, diawali oleh Gamawan Fauzi, dilanjutkan oleh plt Gubernur Redonyzar Moenek yang membawa banyak bantuan dari luar, dan dituntaskan oleh Irwan Prayitno. Ini adalah legasi dari komitmen pemimpin Sumbar.
Masjid Raya Sumbar kini tidak hanya sebagai tempat ibadah, di komplek itu juga ada gedung LKAAM dan Bundo Kanduang, melambangkan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah secara nyata.
Banyak pelajaran berharga dari masjid kebanggaan Sumbar ini, dan Penghargaan Abdullatif Al-Fozan membuktikan bahwa Masjid Raya Sumbar adalah arsitektur penting pelekat adat dan agama, serta pemersatu seluruh umat beragama di Sumatera Barat. (laf)
















