Sungai Batang, Prokabar — Abduk Karim Malik Amrullah, atau lebih dikenal Buya Hamka menjadi panutan masyarakat Minangkabau, hingga saat ini. Beliau lahir di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat.
Dan Bukti sejarah almarhum, masih dapat dirasakan beliau melalui Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Agar komplek tersebut dapat termanfaatkan untuk peningkatan perekonomian masyarakat, dibutuhkan program terencana dan terpadu dari semua pihak. Sehingga potensi museum beserta Keindahan Alam di Selingkar Danau Maninjau, dapat teroptimalkan dengan baik.
Di tahun 2019 ini, Pemerintah Kabupaten Agam melakukan terobosan. Mengoptimakan pengelolaan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka dibenahi. Dalam hal ini, Pemerintah Kecamatan Tanjung Raya, dipercaya Bupati Agam, Indra Catri sebagai ujung tombak perubahan tersebut.
Sebelumnya, sejumlah OPD dan Pemerintah Nagari Sungai Batang, diharuskan menganggarkan untuk program Save Maninjau berupa peningkatan pariwisata.
Merangkul Ninik Mamak beserta tokoh masyatakat lainnya bekerjasama merancang program terpadu, sehingga anggaran yang telah dibuat dapat termanfaatkan secara saty kesatuan di satu titik.
Penuntasan persoalan pertama tertuju pada pengelola dan pemandu wisata di Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Agam sebagai penanggungjawab Museum ini, selalu terkendala akibat dominasi seorang oknum petugas kebersihan yang sudah mengambil alih tugas pemadu. “Dan permasalahan tersebut, Alhamdulillah sudah berhasil kita tuntaskan bersama,” kata Handria.
Hari ini lanjutnya, kami pikir adalah hal yang sangat luar biasa, karena di Kantor Walinagari ini kita kumpulkan bantuan dari seluruh OPD terkait. Ada Dinas Pariwisata, Lingkungan Hidup, DPMN, Pendidikan Dan Kebudayaan termasuk Tokoh Masyarakat Sungai Batang.
Sekretaris Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Agam, Atriswan menambahkan selain pemanfaatan pantai dan tambatan perahu Danau Maninjau, agar marwah Buya Hamka kembali hidup, tapak tilas beliau harus diangkat kembali. Sejarah kehidupan masa lalu beliau beserta orang tuannya juga harus diceritakan melalui tour pariwisata ini.
“Kita harus menggiring wisatawan melihat lokasi dimana Buya Hamka Lahir, Mengaji, Bermain Silat dan Randai,” terangnya.
Alizar Kahar Datuk Satu, Ninik Mamak Nagari Sungai Batang menyambut baik gagasan tersebut. Terobosan dilakukan Pemeritah Kabupaten Agam dipimpin Camat Tanjung Raya itu memberi berita membahagiakan masyatakat. Pasalnya, selain mengangkat marwah Ulama Besar, juga akan meningkatakan perekonomian masyarakat.
“Hendaknya, marwah ketokohan, kealiman, kesusastraan Buya Hamka kembali hidup dan diwarisi generasi penerus nantinya. Kita sangat senang dan bangga, ini dapat terwujud dan berkelanjutan,” Pungkas Alizar Kahar Datuk Sati. (rud)
















