Daerah

Manggani, Belanda Pernah Kenyang di Sini

Tambang Manggani ketika masih beroperasi, Foto-ist

LimapuluhKota,Prokabar – Memiliki luas tidak lebih 700 hektare, Manggani tercatat sebagai hutan dan kawasan terlarang untuk ditambang.

Statusnya masuk Hutan Suaka Alam Wisata, dalam hamparan Bukit Alahan Panjang. Ini tercatat di peta lama, peta Belanda yang masih jadi pegangan Pemerintah.

Gaung Manggani, sudah bergema sejak zaman baheula. Saat Belanda menjajah, Manggani jadi saksi, jika sebuah Kota kecil pernah berdiri di sana. Hasil tambang mangan dan emas di Manggani, diangkut dengan kereta api. Bekas relnya masih bisa terlihat di Danguang Danguang dan Suliki.

Emas Manggani, adalah rangkaian sejarah panjang dari rimba raya tak bertepi. Namanya emas, perjalanannya sampai ke brankas kuat kokoh di bawah tanah bank central Amerika.

Inilah Manggani, di perutnya emas berurat sampai ke Bonjol. Juga ke Solok. “Tidak banyak yang berani menambang di Manggani,” kata sejumlah sumber Prokabar.

Praktik menambang emas di manggani, sebenarnya diduga sudah terjadi sejak lama. Tapi diam diam. Tak satupun penambang yang berani terbuka.

Maklum, di satu sisi, mereka mengais rejeki. Mengadu untung berteman maut. Sisi lain, mereka juga dihadapkan dengan aturan dan status hutan yang jadi paru paru dunia.

“Paruik kami litak lo,” kata mereka. Di medio 2012-2013 an, sejumlah penambang emas di Manggani dilaporkan tewas di lobang tambang.

Sejak saat itu, kabar menambang di hutan Pua Data, redup redup saja terngiang.

Polisi mengusut kasusnya dan menetapkan beberapa orang menjadi tersangka. Ini sewaktu Polres 50 Kota dipimpin Partomo Iriananto, (kini Kombes Pol -red) dan bertugas sebagai Direktur Reserse dan Kriminal Umum Polda Kalimantan Utara.

Dulu, selain masyarakat lokal, ikut menambang di Manggani, sejumlah pekerja asal Pulau Jawa. “Orang Jawa ini, didatangkan ke sini,” kata sejumlah bekas pemain tambang.

Namanya juga menambang emas di bawah tanah, tanpa galian mesin, pekerja tak selalu untung. Banyak buntung juga. Bekal makanan habis, kadang serbuk emas pun tak dapat. Lalu balik lagi dan keluar hutan.

Sejumlah tetuah nagari Koto Tinggi mengaku, cerita moyang mereka, dulunya Manggani adalah pusat
pertambangan emas. Belanda yang jadi bintangnya.

Bukti bukti Manggani menjadi pusat pertambangan, bisa diliat dengan bekas bekas sisa bangunan di sana. “Manggani, adalah sebuah bekas kota di tengah hutan,” kata mereka.

Kini, di ujung 2018, Manggani heboh oleh kedatangan orang asing. Banyak spekulasi bermunculan. Dari survai hingga menchek potensi tambang, sampai kabar mereka menghilang. (vbm)

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top