Maaf dan Lautan Rasa Sakit

Penulis -

Selasa, 29 April 2025 - 21:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Nurhafizah Alhusna

Mahasiswa UIN Imam Bonjol

“Memaafkan adalah hadiah yang kamu berikan untuk dirimu sendiri” (The Secret of Heart Note.)

Semua manusia pernah sakit hati. Begitu juga dengan Nana alias Ragil (23) yang sakit hati lantaran tidak dipedulikan oleh rekan kerjanya ketika diajak mengobrol. Nana juga merasa kesal karena rekan kerjanya berbicara songong dan sok pintar, membuat Nana seolah-olah harus diajari. Alih-alih membalasnya dengan perbuatan serupa, Nana malah melakukan pembunuhan terhadap Al-Bashar (32) rekan kerjanya.

Dilansir dari detikNews (25/4), pembunuhan tersebut terjadi ketika korban yang sedang bekerja disikut oleh pelaku, dan dipukul menggunakan shockbreaker hingga tak sadarkan diri. Tak hanya itu, Nana juga menyayat jari korban. Pada saat korban berusaha untuk berdiri, Nana membenturkan kepala korban ke lantai sebanyak tiga kali dan memukul leher kanan korban dengan shockbreaker, serta beberapa pukulan lagi di leher dan kepala korban. Pelaku kini telah ditangkap.

Melanjutkan Hidup adalah Tugas Manusia

Semua manusia pernah punya luka. Tapi menyimpan luka terlalu lama hanya akan menjadi beban. Ibarat batu yang disimpan lama dan dibawa kemana mana, perasaan terluka adalah penghambat perjalanan.

Sebagai manusia yang harus melanjutkan hidup, luka adalah bagian dari perjalanan. Dan berdamai adalah skill yang harus dikuasai.

Sangat banyak ditemukan, orang-orang yang hidupnya telah sukses dan makmur, tetapi tidak bisa menikmatinya karena masih terjebak dengan masa lalu. Mereka selalu mengenang kejadian-kejadian menyakitkan yang pernah dialami, entah itu perselisihan dengan orang tua atau perundungan. Mereka yang tidak bisa berdamai dengan masa lalunya, serta selalu menunggu maaf dari orang lain, akan terus berenang dalam lautan rasa sakit tanpa pernah merasa bahagia.

Bahkan, lebih buruk dari itu, ada juga orang-orang yang kehilangan hidupnya karena terbakar oleh dendam dan amarah yang dipelihara. Meraka terlalu fokus menyusun skenario balas dendam, tanpa pernah memikirkan skenario memperbaiki hidup.

Bagaimana tidak? Sangat sering kita temukan di media kabar tentang mereka yang mendekam di penjara karena membunuh orang-orang bermulut nyinyir. Orang-orang itu terpaku pada sakit hatinya, tanpa memikirkan dampak dari perbuatan yang  direncanakan akan menghancurkan hidupnya. Kisah diatas adalah segelintir contoh bahwa menyimpan dendam dan amarah adalah prilaku yang sama sekali tidak menguntungkan.

Maaf dan Lautan Rasa Luka

Memaafkan ibarat menjahit luka. Terasa perih diawal. Namun, seperti benang yang menutup luka, memaafkan adalah bentuk pencegahan dari infeksi. Memaafkan adalah satu kata yang bisa menyelesaikan banyak masalah.

Memaafkan berarti berdamai, karena hidup harus tetap berjalan. Masa lalu adalah masa lalu, biarlah ia ditinggal di belakang. Tak perlu diingat apabila mengulang luka. Sudah seharusnya kita menyambut masa depan dengan memaafkan diri sendiri dan orang lain, demi menjemput masa depan yang lebih cerah.

 

Penulis : Opini

Editor : Nofal Wiska

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB