Padang, Prokabar — Lonjakan harga cabai merah yang dipasarkan di ritel modern di Kota Padang ikut memicu inflasi di kota tersebut. Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Barat mencatat, tingkat inflasi di Kota Padang pada November sebesar 0,19 persen.
“Sebetulnya ini karena ritel modern hanya ada di Kota Padang. Dan kenaikan harga cabai merah hanya di ritel modern. Bila dihitung dari pasar tradisional saja, sebetulnya cabai merah justru deflasi, ” ujar Kepala BPS Sumbar Sukardi, Senin (3/12).
Di Kota Padang, cabai merah berada di urutan keempat sebagai komoditas pendorong inflasi dengan capaian inflasi 1,29 persen. Cabai merah berada di bawah beras, bawang merah, dan tarif pulsa ponsel yang bertengger di 3 besar penyumbang inflasi tertinggi di Padang.
BPS juga merilis, laju inflasi tahun kalender hingga November 2018 di Kota Padang sebesar 2,38 persen. Sementara laju inflasi tahun ke tahun (yoy) Kota Padang sebesar 3,12 persen.
“Sumatra Barat ini di tahun 2018 ini dari bulan ke bulan cukup stabil dibandingkan 2016. Asumsi APBN kita (inflasi) 3,5 persen. Artinya Sumbar masih stabil di bawah itu. Desember ini mudah-mudahan inflasi tidak tinggi,” kata Sukardi.
Sebagai tambahan informasi, ada beberapa komuditas yang dominan mengalami penurunan harga sehingga menyumbang deflasi di Padang
Untuk Padang, komoditas penyumbang deflasi adalah tarif angkutan udara, jengkol, kelapa, minyak goreng, dan daging ayam ras. (Gas/Hdp)
















