Daerah

Lima KK Korban Banjir Bandang Galapuang Bersedia Ke Pemukiman Baru

Agam, Prokabar — Lima Kepala Keluarga dari 49 jiwa korban Banjir Bandang di Jorong Galapuang, Nagari Tanjung Sani, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat telah bersedia untuk pindah dan menempati pemukiman yang baru. 5 KK tersebut merupakan korban pemilik 5 unit rumah yang mengalami rusak berat.

Wali Jorong Galapung Zafri Yendi (38) menjelaskan 5 Kepala Keluarga tersebut yakni Ernawati (51) dengan beserta 3 orang anak, Murniati (68) bersama 1 orang anak. Salman (66) bersama istri 1 dan 6 orang anak, Sudirman (74) berdua sama istrinya. Rusdi (58) bersama istri dan 3 orang anaknya.

3 kepala keluarga, bersedia pindah di lahan miliknya sendiri. Menempati tempat tinggal di lokasi dianggap aman dan keluar zona merah. Sementara itu, 2 kepala keluarga lainnya menempati pemukiman Dama Gadang, relokasi korban bencana longsor sebelumnya.

“5 kepala keluarga, korban dengan 5 unit rumah terparah itu telah bersedia untuk pindah. Sesuai hasil rapat Pemda Agam dengan masyarakat setempat. Meski demikian, korban yang pindah ke Dama Gadang, sangat berharap dapat lahan pertanian baru, agar dapat bertahan hidup di sana,” terang Zafri Yendi kepada Prokabar.com, Selasa (3/12).

Rata-rata penduduk yang tinggal di Zona Merah, terutama di Jorong Galapuang sangat bersedia untuk pindah, lanjutnya. Hanya saja menempati tempat baru, tentu akan memulai kehidupan yang baru pula. Sementara, lahan pertanian yang akan digarap di lokasi baru tidak ada.

Mereka sejak nenek moyang dahulunya dan harta pusako yang dimiliki saat ini, hanya di Jorong Galapuang. Lahan yang sangat subur, meski sering dilanda bencana longsor dan banjir bandang.

Zulfahmi Imam Sinaro, tokoh masyarakat setempat menambahkan Pemerintah Daerah Agam hendaknya memahami dan memberi kebijakan dalam hal tersebut. “Menempati tempat yang baru, tentu dibutuhkan pula penghidupan baru pula. Masyarakat yang sudah pindah, tidak akan mungkin untuk kembali menggarap lahan ditempat yang lama. Apalagi jarak Dama Gadang ke Galapuang cukup jauh,” ujarnya.

Ia mengharapkan komitmen dan konsisten Pemerintah Kabupaten Agam dalam mensejahterakan masyarakatnya. Tidak hanya memberi solusi sekedar tempat tinggal semata. Akan tetapi juga tempat berkehidupan dan mampu bertahan hidup yang baru pula.

“Pindah tentu saja mudah, akan tetapi memulai kehidupan yang baru itu yang sulit. Biasa hidup berkeramba dan bertani di daerah dataran rendah, tentu jauh berbeda di dataran tinggi seperti di Dama Gadang. Dan kami sangat mengharapkan solusi dari Pemerintah Daerah dalam hal tersebut,” pungkasnya. (rud)

Berani Komen Itu Baik

Tirto.ID
Loading...
To Top