Pasaman, Prokabar — Sebanyak 25 nagari persiapan yang dicanangkan bakal defenitif di Pasaman, ternyata, memiliki sisi tersendiri di tengah masyarakat. Pada satu sisi, banyak masyarakat yang menanti nagari-nagari ini didefinitifkan. Banyak untungnya. Mulai dari lebih mudah memantau perkembangan sebuah nagari dan masyarakat di dalamnya hingga memudahkan pembangunan yang merata melalui program-program pemerintah pusat, seperti dana desa.
Namun, di tengah masyarakat Pasaman, keraguan tersendiri hadir menyelimuti semangat pemekaran. Dari mana anggaran pemerintahan nagari diambilkan Pemkab Pasaman. Inilah pertanyaannya.
“Pasaman sejatinya saat ini sedang dilanda badai. APBD terus berkurang. Serapan terus menerus rendah setiap tahun. Tidak sedikit APBD Pasaman mengalami pemangkasan. Dari mana anggaran pemerintahan nagari persiapan diambilkan jika jadi definitif,” kata Maryan (45), salah satu mantan perangkat nagari di Kecamatan Lubuk Sikaping.
Tidak itu saja, saat inipun, nagari persiapan tidak bisa berbuat banyak. Beruntung ada dana desa dari pemerintah pusat, sehingga nagari persiapan bisa berjalan meski anggaran melekat di nagari induk.
“Memang itu realitanya saat ini. Kalaupun definitif, sanggup tidak Pemkab Pasaman memberikan anggaran pemerintahan nagari. Jangankan itu, saat ini saja, sudah banyak mata anggaran yang di pangkas. Baik itu di tingkat pemerintahan nagari maupun di SKPD yang ada,” tukas Maryan.
Meski begitu, masyarakat berharap, pemerintah setempat bisa keluar dari polemik ini. Memgingat pemerintahan Yusuf Lubis-Atos Pratama sudah di ujung-ujung masa. Diharapkan, ini tidak menjadi PR di masa pemreintahan yang akan datang.
Di sisi lain, saat ini Pasaman memiliki 37 nagari induk, ditambah 25 nagari persiapan. (Ola)
















