Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

Libur Panjang, Sepanjang Risau


Oleh : Vinna Melwanti

Dibaca : 162

Rabu 28 Oktober sampai 30 Oktober bahkan bisa sampai 2 November, adalah libur panjang, sepanjang angan, sepanjang kerisauan, sepanjang rasa suntuk yang menumpuk. Hati riang dibawa keluar rumah, di luar bertemu segala hal. Salah satunya: wabah Covid-19.

Di rumah saja, tak seindah yang diminta. Bisa bagai kapal pecah. Bertikai saja sendok dan piring, beradu bapak dan anak, berembut mandi, berebut rimot TV. Maka lelah diurai dengan kepak sayap ke “alam bebas.” Dalam libur itu, memberi makan mata dan jiwa, melihat yang indah-indah, terutama panorama. Juga makan. Santap di rumah makan, mesti menjadi perhatian serius, sebab siapa tadi duduk di kursi ini, tangan siapa tadi di meja ini, tak ada yang tahu.Betapa susahnya hidup sekarang. Biarlah susah sebentar, untuk nyaman dalam waktu yang lama. Jika ragu, sebaiknya bawa saja rantang dari rumah, makan bersama keluarga di alam bebas, lain pula nikmatnya.

Maka: Mari jaga kesehatan, imunitas, pakai masker, jaga jarak, cuci tangan dan setiba di rumah bersalin, lalu mandi. Seperti imbauan guru PKK waktu SD, tapi begitulah dunia kini. Ha-hal elementer yang kita lupa melaksanakannya dulu, kita dikrjakan lagi. Ini agar semua anggota keluarga yang berlibur itu, sehat semua. Sehat pergi, sehat pulang.

Sumatera Barat diprediksi akan diserbu oleh warga provinsi tetangga saat libur, terutama Riau. Walau takkan membludak, tapi ada. Ini bisa terjadi karena libur aik pesawat kini riskan, yang gampang bawa mobil sendiri. Maka hotel akan penuh, tak libur panjang saja, hotel-hotel di Bukittinggi penuh, sebelum atau saat musim Covid ini.
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid Sumbar, Jasman Rizal di Padang, Rabu (21/10) meminta, agar warga yang libur berhati-hati dalam berbelanja dan “menyerbu”obyek wisata. Di rumah makan, kata dia, harus benar-benar menjaga protokol kesehatan. Pelayan rumah makan dan restoran, wajib memakai masker dan mencuci tangan secara berkala. Jika tidak, maka bisa ditutup.
Yang jadi masalah, seperti dikatakan Kepala Labor FH-Unand, masyarakat Sumbar cuek saja soal Covid, tapi kalau sudah kena, maka stressnya minta ampun. Panik luar biasa. Tak percaya kalau masih sehat, ampun-ampuni kalau sudah sakit. Hilir-mudik keluarganya cari obat dari akar kayu sampai herbal semahal gaban. Tak peduli obat itu berpengaruh atau tidak. “Penambah-nambah obat kimia dari dokter,”kata mereka.

Pemangku kekuasaan cemas, libur panjang akan memperpanjang daftar korban Covid. Itulah sebabnya, sebelum terjadi diingatkan sejak sekarang. Apalagi belakangan rumah sakit di Sumbar pada beberapa hari penuh. Mencari rumah sakit saja susah. Saat libur petugas juga akan mengingatkan, agar jangan lalai akan protokol kesehatan. Yang jadi kerisauan itu soal masker. Masker ada, dipasang menutupi hidung dan mulut, sekejap kemudian dia resah, maka masker turun ke dagu.Lama-lama turun ke leher. Ada petugas, masker naik lagi ke mulut. Menjauh, turun lagi ke leher.
Tapi, petugas tak perlu risau benar sebab rakyat juga takut sakit, meski ada yang anggap enteng Covid. Yang jelas, libur panjang itu, adalah kesempatan, juga bisa menjadi keresahan karena hati ingin kemana-mana tapi tak bisa kemana-mana. Maka mari bakar ikan saja di halaman rumah. **


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top