Padang, Prokabar – Pelaku LGBT misalnya tukang salon, sedih dipojokan. Saban hari banyak yang menanfaatkan jasanya.
“Kalau ka wisuda di Padang kami diimbau ka rumah,” kata seorang tukang salon.
Sejak sebelum subuh dia sudah menghias anak gadis yang akan menjadi sarjana. “Tiap tahun seperti itu,” katanya.
Kini hidupnya merasa sempit karena nafkahnya hanya di salon itu.
“Sampai sekarang pelanggan kami tetap banyak,” kata seorang tukang salon yang curhat pada prokabar.com, kemarin.
Cuma saja mereka menyadari, makin tahun, batinnya luka.
“Luko diak, ibo ati tapi baa lai mode dalam tangsi wak dalam diri wak surang,” katanya. (nrs)
















