Trending | News | Daerah | Covid-19

Olah Raga

Lebih Dekat dengan H. Yasman Yanusar, Pria Rambut Putih Jantungnya Futsal Sumbar

Dibaca : 540

Oleh Rizal Marajo 

(Wartawan Utama)

Padang, Prokabar – Berbicara tentang olahraga Futsal di Sumatra Barat, ada satu sosok yang tak boleh dilupakan. Pria paruh baya yang ramah dan supel itu, adalah orang paling bertanggungjawab dengan semakin berkembangnya cabang olahraga varian sepakbola itu di Bumi Ranah Minang.

Nasrul Abit Indra Catri

Ya, H. Yasman Yanusar, orang umumnya memanggilnya Pak Haji. Putra Sungayang kelahiran 17 Agustus 56. Boleh dikatakan, pria berambut putih itu adalah jantungnya futsal Sumbar. Jabatan resminya adalah Ketua Asoasiasi Futsal Provinsi (AFP) Sumatra Barat. Sekarang sudah memasuki periode kedua jabatannya.

Sebenarnya, dikalangan dunia sepakbola Sumbar pun Pak Haji bukanlah sosok yang asing lagi, karena dia adalah seorang “gila bola” yang sudah terdeteksi sejak era 1990-an. Pengusaha sukses yang bergerak di bidang distributor apparel olahraga berbagai brand itu memang awalnya aktif sebagai pelaku sepakbola di Sumbar.

Kiprahnya di lapangan bola konvensional, diantaranya pernah menjadi manejer tim PON Sumbar tahun 2004 dan 2008. Selain itu, sebelumnya dia sudah terlanjur kondang sebagai “komandan” tim Jordus FC Sungayang, yang rajin mengikuti turnamen-turnamen antar klub di Sumbar, Riau dan Jambi.

“Semasa aktif tarkam bersama Jordus, ibaratnya tak ada lapangan di Sumbar yang belum pernah dijajal Jordus FC. Mulai dari Pasaman Barat, sampai Dharmasraya. Saking seringnya ikut turnamen, para pemain sampai tidur di mobil, karena rentang waktu satu turnamen waktunya berdekatan sementara jarak yang harus ditemuh dari ujung ke ujung Sumbar.”ujarnya mengenang masa indah bertarkam-ria bersama Jordus.

Pasai di sepakbola, menjelang 2010 Pak Haji mulai melirik futsal yang saat itu mulai booming di Tanah Air. Uniknya, alasan tertarik pada futsal, salah satunya karena di futsal tidak ada aturan off side-nya seperti sepakbola.

Ditambah ketegangan, keindahan, dan sisi dramatis yang kerap terjadi di pertandingan futsal juga membuat Pak Haji semakin tertarik, maka dibuatlah klub futsal yang diberi nama Rafhely Futsal Club.

Sebagai pengusaha dan bisnismen, futsal juga dilihatnya sebagai sebuah potensi dan trend. Berangkat dari situ, dia membangun lapangan futsal di Ulak Karang Padang, namun lapangan itu belum memenuhi standar untuk sebuah iven futsal resmi. Walau begitu, niatnya untuk total di futsal semakin tak terbendung.

Dari totalitas itulah terbentuk tim Futsal PON Sumbar 2012 yang singkat cerita langsung menyabet medali emas di PON 2012 di Tembilahan Riau. Sebuah prestasi yang menjadi tonggak sejarah futsal Sumbar. Walau hanya mayoritas diisi anak-anak lokal Sumbar, tapi bisa meraih medali emas saat futsal perdana dipertandingan di PON

Imbas emas PON semakin mengukuhkan futsal sebagi cabor primadona baru di Sumbar selain sepakbola. Dari situ pulalah pemain-pemain futsal asal Sumbar mulai dilirik, bahkan sampai menembus timnas dan bermain di Liga Profesional Futsal Indonesia.

Siapa tak kenal Randi Satria, Yudhi Fatra, Ade Andyka, sampai era Efrinaldi dan Muhammad Sanjaya. Semuanya adalah buah-buah matang pohon futsal Sumbar yang terus dibangun dan dipupuk oleh Pak Haji.

Ditengah gejolak futsal itu, Sumbar pasti membutuhkan sarana dan prasarana lapangan yang standar pertandingan resmi. Karena itu, Pak Haji memutuskan kembali berinvestasi untuk lapangan futsal yang lebih representatif dan standar nasional, yang dibangun di km 11 By Pass Kota Padang yang rampung 2013.

Itulah lapangan futsal berstandar nasional pertama yang ada di Sumbar. Investasi yang sangat besar untuk sebuah niat dan keinginan memajukan futsal Sumbar. Lapangan itu tak ubahnya menjadi simbol futsal Sumbar, karena tak hanya dijadikan lapangan komersil, tetapi juga menjadi venue iven atau kompetisi resmi yang menjadi gawe AFP Sumbar, seperti Liga Futsal Nusantara (LFN). Selain itu juga menjadi tempat TC tim-tim Sumbar, semisal tim Pra PON Sumbar.

Tak cukup dengan itu, Lapangan ketiga Rafhely Futsal pun berdiri di Sungayang, kampung halaman pria humoris itu. Persembahan untuk kampung halaman tentunya, disamping misi makin memperbanyak lapangan representatif di daerah sebagai upaya menggali potensi-potensi pemain futsal di daerah. Jika tak ada aral melintang, dalam beberapa bulan kedepan akan hadir pula lapangan berstandar nasional di Situjuh, Kabupaten Limapuluh Kota.

Apa yang dicari Pak Haji di Futsal? sehingga begitu bersemangat membangun lapangan lapangan representatif itu. Sederhana saja, baginya melihat lahir dan berprosesnya pemain seperti Randi Satria, Sanjaya dan lain-lainnya, adalah sebuah kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan uang sekalipun. Dia ingin melihat ke depan akan semakin banyak lahir pemain-pemain futsal berkualitas nasional di Ranah Minang.

“Mereka sukses berkarir, bisa menjadikan futsal sebagai masa depan mereka, disitulah kepuasan yang sesungguhnya kalau kita memposisikan diri sebagai pembina. Tak ada kita menuntut pamrih, apakah mereka akan ingat dasarnya dari mana, semuanya kita pulangkan pada mereka.”ujar Pak Haji, yang tak salah kalau disebut sebagai “Bapak Futsal Sumbar”.

Mungkin disisi yang lebih tersembunyi, futsal seperti ingin dijadikan sebagai investasi akhirat oleh pria paroh baya ini. Setidaknya hal itu tercermin dari ucapannya saat memberi closing statment dalam peresmian lapangan Rafhely Futsal di Sungayang, beberapa hari lalu. Lahirnya futsal untuk mencari kawan, bathinnya futsal untuk mencari Tuhan. WAllahualam bissawab.(*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top