Nasional

LDII Dorong Penerapan Digitalisasi di Dunia Pendidikan

Padang, Prokabar – Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mendorong penerapan digitalisasi di dunia pendidikan untuk menghadapi tantangan dalam era revolusi industri 4.0 yang betujuan meningkatkan kualitas pendidikan itu sendiri.

Bentuk seriusannya, LDII menggelar Lokakarya nasional di bidang pendidikan pada Kamis (12/9) di Jakarta yang menghadirkan Kepala Pustekom Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai pembicara utama. Sebelumnya juga digelar Lokakarya nasional bidang ekonomi pada Selasa (10/9) di Jakarta yang mendatangkan Duta Besar Singapura Anil Kumar, berbagi mengenai pemanfaatan teknologi di Singapura,

Ketua Umum DPP LDII Prof KH Abdullah Syam, Minggu (15/9) mengatakan kegiatan lokakarya bidang pendidikan itu dihadiri para tenaga pendidik, pengajar, perwakilan yayasan pendidikan, kepala sekolah, serta pamong pendidikan yang berjumlah sekitar 400 orang dari seluruh Indonesia,

Selain itu, Prof KH Abdullah Syam memperkenalkan tim Education Clearing House (ECH) yang merupakan output dari diskusi terpumpun (Focus Group Discussion) yang digelar sebelum kegiatan lokakarya. Tim tersebut telah merumuskan output bidang pendidikan berupa panduan kurikulum, panduan masalah anak didik, serta kelembagaan pendidikan.

Ia mengatakan ECH merupakan salah satu usaha LDII berkontribusi di bidang pendidikan dengan fokus menciptakan sumber daya yang profesional religius. Selama LDII terus berkontribusi bagi bangsa dengan berkelanjutan membina generasi muda mulai dari tingkat usia dini hingga mahasiswa,

“Dengan perkembangan era digital, kami berupaya untuk memanfaatkan teknologi informasi guna meningkatkan kualitas pendidikan, yakni dengan pembinaan pendidikan berbasis digital,” katanya.

Sementara itu Ketua Panitia Pengarah (SC) Prasetyo Sunaryo mengatakan penggunaan teknologi digital bukan sekedar alat yang dipasang lalu dipakai tapi juga merupakan sinergi antara perangkat keras, dengan struktur dan kultur.

“Teknologi yang digunakan seorang diri tidak terasa kegunaannya, tapi jika dalam satu komunitas, maka akan sangat berguna,” katanya.

Kepala Pusat Teknologi, Komunikasi dan Informasi Kemendikbud Gogot Suharwoto mengatakan pendidikan bisa bertahan dan bersaing kuncinya ada pada guru.

“Guru harus bisa memahami, karakteristik anak didik sekarang secara genetik berbeda dengan para orangtua,” ujarnya.

Ia mengatakan revolusi industri 4.0 memiliki risiko melahirkan terminologi baru. Gambarannya, jika dulu pekerjaan produsen dan konsumen terpisah, maka sekarang konsumen bisa mengerjakan pekerjaan produsen.

Guru juga harus memperhatikan prinsip mampu menerapkan teknologi yang terintegrasi, sistematis, dan efektif. Walaupun demikian, teknologi tetaplah alat. Agar siswa-siswa di era milenial mampu bekerja sama dan termotivasi, guru memiliki peran yang penting.

Untuk mengakomodir hal itu, Kemendikbud memiliki platform digital berupa Rumah Belajar. Di dalamnya terdapat konten audio visual yang dapat diunggah oleh para pakar pendidik. Contohnya adalah simulasi pembelajaran yang dilakukan para pengajar.

Di waktu yang sama, LDII melaunching Pondok Belajar Profesional Religius yang bisa diakses di Pondokbelajar.ldii.or.id. Platform digital ini mengakomodasi para pelaku dan pakar pendidikan dilingkungan LDII  seperti guru, mubaligh mubalighot, orang tua, pamong, yayasan, hingga ketua pesantren.

Ketua DPW LDII Sumatera Barat M Ari Sultoni SH MH mengatakan pihaknya mengirimkan tiga perwakilan untuk mengikuti kegiatan Lokakarya Nasional yang digelar DPP LDII di bidang ekonomi dan pendidikan tersebut yakni Wakil Ketua H Bustari Badal, Wakil Sekretaris Rohmat Syahrin dan Ketua Biro EPM H Novrialdi Djoelius

LDII telah menggelar lokakarya nasional di bidang pendidikan dan ekonomi. Hal tersebut dilakukan, agar warga LDII dapat memanfaatkan revolusi industri 4.0, untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pemanfaatan bisnis-bisnis baru, akibat menyatunya komputer, internet, dan teknologi komunikasi.

Masalah kultur menjadi penting, sebab secanggih apapun teknologi tanpa perubahan kultur atau karakter, hal tersebut mengakibatkan teknologi menjadi tak berfaedah

“Misalnya, ada pesan penting dalam Whatsapp yang masuk, lalu diabaikan karena memiliki budaya menunda,” katanya.(mbb)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top