Pesisir Selatan, Prokabar – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumbar, mendesak serta menyorot PT Incasi Raya harus wajib memenuhi kewajiban plasmanya.
Berdasarkan data perusahaan, Prokabar.com berhasil menghimpun, luas lahan perkebunan yang dikelolanya mencapai 26 ribu Hektare. Sementara, hingga kini jumlah perkebunan hanya sekitar 1.136 Hektare. Artinya belum mencapai 20 persen dari total luas lahan yang dimaksud.
Wakil Ketua Komisi II, Jamalus Yatim, mengatakan, hingga kini luas kebun plasma Incasi Raya masih jauh dari harapan. Padahal, pembentukan dan luasan kebun plasma sudah diatur dalam peraturan menteri.
“Ini dapat diduga manajemen tidak peduli dengan masyarakat sekitar,” ungkapnya saat Rapat Dengar Pendapat Komisi II DPRD dengan Incasi Raya di Painan, Kamis (6/2).
Rapat dengar pendapat dihadiri unsur pimpinan dewan lainnya, Hakimin. Ketua Komisi II, Alikisman, Wakil Ketua Komisi Aljufri dan Anggota Komisi, Rinaldi
Sehingga dalam Peraturan Menteri Pertanian nomor 26 Tahun 2007 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan menegaskan perusahaan Perkebunan Besar Swasta dan Perkebunan Besar Negara wajib membangun kebun plasma 20 persen dari total konsesinya.
Namun kenyataannya, lanjut Jamalus, hingga perkebunan plasma yang disediakan Incasi Raya di Pessel tidak sampai 20 persen dari luasan konsesi yang dimilikinya.
“Jangan mentok dengan satu masalah saja. Harus ada solusi lain dari Incasi Raya,” ujarnya dengan nada lantang, sembari menunjuk data yang dimiliki politisi Demokrat itu.
Selaras dikatakan Wakil Ketua Komisi II, Aljufri berkata, Incasi Raya harus transparan. Data yang disampaikan soal plasma harus detail.
Sebab, tahun pengembangan perkebunan perusahaan tidak sama. Masing-masing Hak Guna Usaha (HGU) yang dikantongi berbeda.
“Berapa kebun inti dan berapa plasma. Tolong secara rinci. Jangan secara umum. Karena setiap kebun beda tahunnya,” pungkasnya.
Sementara, Humas Incasi Raya, Syahrial mengakui, target pembangunan plasma belum terealisasi. Menurutnya, ada beberapa permasalahan, sehingga target belum tercapai.
Kendati demikian, upaya pengembangan plasma telah dilakukan dengan cara lain. Salah satunya dengan pemberian kredit bibit pada petani.
“Sebenarnya dulu kami targetkan 2.900 Hekatare, tapi kendala yang kami hadapi adalah masalah ketersediaan lahan yang mau kami bangun,” tuturnya.(min)
















