Wisata

Labuan Bajo, Negeri Gersang yang Mendunia


Laporan perjalanan ekspedisi merdeka (1)

Labuan Bajo, Prokabar – Siang itu, matahari tegak tali. Panasnya menyentuh ubun ubun. Tergesa – gesa, rem pesawat Batik Air mencicit di landasan pacu sepanjang 2.250 meter itu. Setelah pesawat parkir dengan sempurna, satu per satu, penumpang turun. Sengaja tidak melalui garbarata, karena terlalu sia sia jika tidak menyempatkan diri berswafoto di landasan, dengan latar belakang tulisan Bandar Udara Komodo.

Bandara Komodo, tidak pernah sepi pengunjung. Rata-rata, penerbangan selalu penuh. Penumpang dari Jakarta, Surabaya dan Bali, turun silih berganti. Tujuannya adalah menikmati keindahan Flores.

Bandara ini diresmikan Desember 2015 lalu, oleh Presiden Jokowi. Bandara dengan arsitektur modern ini menjadi pintu gerbang utama untuk berwisata ke Flores. Daya tampung Bandara dengan sign LBJ ini mencapai 1,5 juta orang. Cukup mumpuni untuk menyambut tamu di Destinasi prioritas nasional ini.

Senin (12/8), enam jurnalis asal Sumatera Barat menginjakkan kaki pertama kali di Labuan Bajo. Mereka datang mengikuti ekspedisi yang difasilitasi oleh Kementrian Desa dan PDTT, melalu Staf Khusus Menteri, Febby Datuak Bangso. Peserta ekspedisi ini adalah Firdaus Abi, Revdi “Ope”, Adrian Tuswandi, Defri Mulyadi, Agusmardi dan Nofal Wiska.

“Panas, suhunya diatas rata rata,” ujar Adrian Tuswandi, ketika keluar dari bandara.

Flores ini memang unik. Suhunya terbilang panas. Maklum saja hujan tidak selalu datang. “Hujan terakhir di sini Bulan Februari lalu,” kata Marthen, Driver yang menyambut tim ekspedisi di pintu kedatangan.

Bentang alam Flores, memang terlihat unik dari udara. Pepohonan merenggas karena kekurangan air. Rumput di perbukitan tidak lagi hijau. Air bagi sebagian masyarakat NTT memang barang langka. Tapi ini adalah keunikan tanah Flores.

Setelah istirahat sekedarnya di hotel. Lapar menjalar. Tim melanjutkan ekspedisi berburu kuliner. “Ada Se’i dan ikan kuah asam,” kata Marthen, driver yang merangkap pemandu.

“Kita cari nasi Padang saja lah,” timpal Defri Mulyadi. “Dasar orang Padang,” sambut Adrian Tuswandi, diikuti tawa yang lain.

Alhasil, tim tersesat di Rumah Makan Padang milik Uniang Siti. “Pergedel kentangnya, rasa Pariaman sekali,” ulas Agusmardi. Uniang Siti sudah melanglang Nusantara berjualan nasi. Bahkan sampai ke Papua.

Keindahan Labuan Bajo adalah saat matahari terbenam. Matahari perlahan turun, dibalik pulau nan tandus. Di ujung sana Pulau Padar dan Pulau Komodo menunggu. Cara yang paling indah menikmati keindahan, dengan menginap di kapal. Tapi kami tidak ke pulau. Cukup menikmati flores di tepian dermaga.

Nama kawasan favorit pada malam hari adalah Kampung Tengah. Di sini, berjejer kuliner khas Labuan Bajo. Seperti pujasera. Desain pondok dibuat semenarik mungkin. Makanannya jangan ditanya, ikan panggang menjadi menu istimewa di malam itu.

Untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung harus membeli voucher. Voucher itu lalu ditukar pada saat belanja. Harganya tidak mahal mahal sekali.

“Pantai Padang seharusnya bisa dibuat seperti ini, tidak ada kendaraan lalu lalang, dan suasananya tertib, bersahabat dan jauh dari pakuak mamakuak,” komentar Firdaus Abi.

Sementara itu, disepanjang Pantai Bajo, bule lalu lalang saja, kafe, homestay dan dive centre tampak ramai. Labuan Bajo memang terus berkembang. Pariwisata mengangkat ekonomi masyarakat.

“Sudah seperti Legian dan Kuta, sebentar lagi mungkin lebih ramai,” komentar Nofal.

Malam itu, tim ekspedisi harus rehat. Besoknya akan dimulai petualangan utama, ke Kampung Wae Rebo, Negeri Diatas awan.(laf)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top