Tanah Datar, Prokabar – Dari salah satu gudang di komplek perumahan asrama Polsek Lintau Utara ini lahir karya kreatif dari tangan seorang gadis. Karya karya tersebut berupa macam macam souvenir yang berbahan baku jerami. Dia adalah Novia Wella, gadis berusia 25 tahun
Saat disambangi prokabar.com. gadis yang akrab disapa dengan Wella ini tengah sibuk membuat ragam hewan dari jerami. Di gudang tersebut juga tersedia lengkap alat alat untuk membuat hasil karya inobatifnya tersebut.
Wella, perempuan kelahiran 23 November 1993 silam ini menceritakan jika awal mulanya ia memulai kreasinya tersebut saat masih duduk di bangku sekolah. Saat itu setiap siswa diharuskan menyerahkan hasil pekerjaan tangan mereka oleh guru. Atas karyanya tersebut, iapun mendapatkan nilai yang membanggakan dari guru.
Hasil karya Wella juga tak terlepas dari peran sang ayah. Dimana sang ayah yang sempat gulung tikar dari berdagang alat dapur kemudian mencoba untuk meneruskan hasil karya sang anak. Usman, sang ayah akhirnya memproduksi hasil-hasil karya dari jerami dan kemudian dijual ke pasar pasar sebagai usaha untuk menafkahi kelualrga.
“Sebenarnya saya berasal dari Nagari Batu Bulek, Kecamatan Lintau buo Utara, dan sejak tahun 80an ibu dan ayah merantau ke Bangkinang, Riau. Saya pun lahir dan menghabiskan masa kecil dan remaja di Bangkinang,” ujar Wella.
Sejak saat itu hingga saat ini, Wella mulai fokus memproduksi hasil karyanya yang diberi nama Jerami Handicraft.
“Meski saya juga bekerja dibagian Humas dan Protokol Pemkab Tanahdatar menjadi tenaga honorer, namun tidak meninggalkan usaha ini,” tutur anak dari pasangan Usman dan Yuharli ini.
Wella mengatakan, untuk satu hasil karyanya dijual dengan harga bervariasi dan tergantung pada ukuran, mulai dari harga Rp 10 ribu hingga Rp 2 juta.
“Untuk pembuatannya juga mengalami tingkat kesulitan yang berbeda, semakin banyak lekuk tubuh hewan yang dibuat, semakin rumit pembuatannya,” jelas Wella.
Untuk ukuran kecil, Wella mampu menghasilkan 10-20 ekor hewan perhari. Sedangkan untuk ukuran yang besar hanya mampu diproduksi 5-10 ekor perhari. Untuk mendapatkan pasokan jerami, Wella juha menggunakan tenaga kerja yang diperbantukan.
“Jerami bisa didapatkan saat warga panen, dan ada juga yang dibeli. Untuk pernak-pernik dibeli ke Bukittinggi,” jelasnya.
Wella saat ini mengakui jika dirinya kekurangan modal untuk mengembangkan usahanya. Oleh karena itu, juga berimbas pada hasil karyanya. Wella berharap usahanya mampu berkembang dan menampung tenaga kerja lebih banyak dan mampu menghasilkan hasil karya yang lebih bagus dan merambah pasar lebih besar.
Pemasaran hasil karya Well saat ini telah menembus provinsi tetangga seperti Pekanbaru, Teluk Kuantan, Bangkinang, Padang, dan Pasir Pangiraian.(eym)
















