Kreatif, Di Kampung Ini Gunakan Kincir Air Untuk Pembangkit Listrik

Penulis -

Sabtu, 16 Februari 2019 - 22:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Agam, Prokabar — Terletak di daerah pelosok dan belum memasuki aliran listrik tidak membuat masyarakat Muaro Kandang,  Jorong Tapian Kandih, Nagari Persiapan Salareh Aia Barat, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, kehilangan akal untuk inovatif mencari solusi. Mereka memanfaatkan aliran arus sungai untuk menghasilkan daya listrik.

Ide atau gagasan tersebut dirancang oleh Zaharudin Katik Bagindo (42) bersama masyarakat setempat. Usaha tersebut dilaksanakan sejak tahun 2005.

“Muaro Kandang memang tidak terjangkau oleh listrik dari PLN. Hal tersebut memaksa kami untuk berfikir kreatif dan berinovasi. Memanfaatkan alam untuk menjadi membangkitkan aliran listrik,” ungkapnya.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Pemukiman kami lanjutnya, cukup terpelosok. Memiliki jarak sekitar 3 km dari Jalan raya Padang – Pasaman. Jalan harus melalui jalan setapak. “Agar mampu memiliki penerangan dan aliran listrik secara mandiri, kami memanfaatkan aliran sungai untuk memutar turbin,” ujarnya.

Sebelumnya, di malam hari warga setempat  menggunakan penerangan lampu yang memiliki berbahan bakar minyak tanah. Akibat minyak tanah sudah langka dan sulit didapatkan, serta harganya sudah mahal, membuat Zaharuddin berfikir keras untuk mendapatkan solusi.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Gagasan itu didapat dari salah seorang temannya, di Jorong Matua Mudiak. Pada saat itu masyarakat di sana juga belum memiliki aliran listrik. Dengan modal seadanya, pria tersebut membeli turbin dan membangun kincir air. 

“Dulu kincirnya terbuat dari kayu. Setelah mendapat ide baru agar tahan lama, saya ganti dengan kincir roda yang terbuat dari  besi,” terangnya.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Daya yang dihasilkan tidak tahu pasti, karena beliau tidak memiliki keahlian ilmu fisika. Setidaknya, kekuatan daya yang dihasilkan tergantung dari debit air yang mengalir ke sawah masyarakat. Jika debit air berkurang lampu akan redup. Sebaliknya, bila alus air kencang dan besar, maka lampu akan menyala dengan terang. 

“Saya tidak tau berapa daya listrik yang dihasilkan. Akan tetapi setidaknya cukup untuk menerangi 5 buah rumah,” pungkasnya. (rud)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB