Agam, Prokabar — Terletak di daerah pelosok dan belum memasuki aliran listrik tidak membuat masyarakat Muaro Kandang, Jorong Tapian Kandih, Nagari Persiapan Salareh Aia Barat, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, kehilangan akal untuk inovatif mencari solusi. Mereka memanfaatkan aliran arus sungai untuk menghasilkan daya listrik.
Ide atau gagasan tersebut dirancang oleh Zaharudin Katik Bagindo (42) bersama masyarakat setempat. Usaha tersebut dilaksanakan sejak tahun 2005.
“Muaro Kandang memang tidak terjangkau oleh listrik dari PLN. Hal tersebut memaksa kami untuk berfikir kreatif dan berinovasi. Memanfaatkan alam untuk menjadi membangkitkan aliran listrik,” ungkapnya.
Pemukiman kami lanjutnya, cukup terpelosok. Memiliki jarak sekitar 3 km dari Jalan raya Padang – Pasaman. Jalan harus melalui jalan setapak. “Agar mampu memiliki penerangan dan aliran listrik secara mandiri, kami memanfaatkan aliran sungai untuk memutar turbin,” ujarnya.
Sebelumnya, di malam hari warga setempat menggunakan penerangan lampu yang memiliki berbahan bakar minyak tanah. Akibat minyak tanah sudah langka dan sulit didapatkan, serta harganya sudah mahal, membuat Zaharuddin berfikir keras untuk mendapatkan solusi.
Gagasan itu didapat dari salah seorang temannya, di Jorong Matua Mudiak. Pada saat itu masyarakat di sana juga belum memiliki aliran listrik. Dengan modal seadanya, pria tersebut membeli turbin dan membangun kincir air.
“Dulu kincirnya terbuat dari kayu. Setelah mendapat ide baru agar tahan lama, saya ganti dengan kincir roda yang terbuat dari besi,” terangnya.
Daya yang dihasilkan tidak tahu pasti, karena beliau tidak memiliki keahlian ilmu fisika. Setidaknya, kekuatan daya yang dihasilkan tergantung dari debit air yang mengalir ke sawah masyarakat. Jika debit air berkurang lampu akan redup. Sebaliknya, bila alus air kencang dan besar, maka lampu akan menyala dengan terang.
“Saya tidak tau berapa daya listrik yang dihasilkan. Akan tetapi setidaknya cukup untuk menerangi 5 buah rumah,” pungkasnya. (rud)
















