Maninjau, Prokabar.com – Bencana Banjir Bandang melanda Nagari Maninjau dan Sungai Batang, di Kecamatan Tanjung Raya memporak-porandakan wilayah tersebut. Peristiwa besar terjadi di kawasan bersejarah dengan nilai-nilai penting itu berdampak buruk pada sejumlah benda, bangunan dan kawasan cagar budaya dan sejumlah situs-situsnya.
Menanggapi kondisi itu, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang melalui Menteri Kebudayaan, Fadli Zon dan Dirjen Kebudayaan langsung melakukan tindakan penyelamatan terhadap sejumlah bangunan Cagar Budaya di Nagari Maninjau dan Sungai Batang.
Menyikapi hal itu Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Provinsi Sumatera Barat, Nurmatias menghubungi jajaran untuk dapat melakukan segera identifikasi keberadaan dan kondisi Situs Cagar Budaya yang terdampak.

“Berdasarkan pelcakan dan identifikasi ini terdapat empat objek wilayah Cagar Budaya terkena bencana banjir bandang di Sumatera Barat. Objek pertama di Surau Latiah dan Makam Syekh Sialahan, Kota Solok. Objek kedua berada di Surau Gadang Syekh Burhanuddin, Kabupaten Padang Pariaman. Ketiga berada di PLTA Batu Busuak Kota Padang dan Keempat berada di Nagari Maninjau dan Sungai Batang, Kabupaten Agam,” ungkapnya.
Kepala BPK Wilayah III Sumatera Barat, Nurmatias mengatakan, wilayah Cagar Budaya yang paling banyak terdampak berada di Nagari Maninjau dan Sungai Batang. Berdasarkan identifikasi dan pendataan awal, terdapat 7 objek bangunan cagar budaya di Maninjau. Namun setelah mendapat data tambahan dari tim lapangan, terdapat 3 objek lagi.

Adapun data awal bangunan cagar budaya yang terdampak itu adalah Lapas Lubuk Basung (Rutan Kelas IIB Maninjau), Kantor Polsek Danau Maninjau (Tanjung Raya), Rumah Batu Tuo Pasar Maninjau, Guess House Mutiara (Rumah Batu H. Mhd. Amien Datoek Toenaro), Rumah Batu Anduang Cimpuk, Rumah Batu Tuo Usman Bagindo Panghulu Rajo Silek, Guess House Annisa.
Sedangkan data tambahan yakni Masjid Ummil Qura Duo Sidang, Rumah Baanjuang Nur Sutan Iskandar, Kutub Chanah Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan SMPN 1 Tanjung Raya. “Data awal melalui pantauan peta bencana sementara dan sejumlah informasi, dapat kita analisa bangunan cagar budaya sepanjang Pasar Maninjau, terdampak. Namun berkat cepat tanggap bencana di Kabupaten Agam dengan kolaborasi semua pihak, penanganan dan penyelamatan rumah padat penduduk termasuk bangunan Cagar Budaya cepat teratasi.” Ungkap Wilyanif, Tim Pemetaan Wilayah, Pelestarian dan Penyelamatan BPK Wilayah III Sumatera Barat kepada Prokabar.com saat berdiskusi, Jumat (9/1/2026) kemaren siang.
Penyelamatan dan pemeliharaan Cagar Budaya yang berada di Nagari Maninjau dan Sungai Batang, berkat informasi penggiat Rudi Yudistira sekalu ketua komunitas pemerhati dan penggiat kebudayaan sekaligus Tenaga Ahli Cagar Budaya Kabupaten Agam. Melalui Komunitas Pemuda Generasi Hamka atau KPGH, Rudi Yudistira bersama tim merangkul Pengurus Masjid Ummil Qura Duo Sidang.
“Kami berkolaborasi dengan Pengurus Masjid Ummil Qura Duo Sidang Maninjau, bergerak melakukan pembersihan manual sesuai arahan Kepala BPK Wilayah III Provinsi Sumatera Barat beserta penuhan administrasi, kami langsung bergerak,” ungkap Rudi Yudistira, Ketua KPGH.
Sebanyak 30 orang bersama sejumlah pihak lainnya perdana melakukan aksi pembersihan di SMP Negeri 1 Tanjung Raya. Kondisi lokasi salah satu situs bangunan sekolah Belanda yang berlanjut menjadi sekolah negeri Indonesia ini termasuk terparah. Lokasi ini selain berkolaborasi dengan Pengurus Masjid Ummil Qura Duo Sidang, juga guru-guru SMP Negeri 1 Tanjung Raya dan 10 orang anggota TNI Angkatan Laut kops Marinir Padang.
“Kegiatan berlangsung selama dua hari berturut, terhitung dari Selasa, 6 Januari dan Rabu, 7 Januari 2026. Lokasi kedua, beralih ke Masjid Syekh Muhammad Amrullah dan berlangsung dua hari berturut dari Kamis, 8 Januari sampai 9 Januari 2026.” terang Rudi.
Berdasarkan hasil penelitian lebih lanjut, Rutan Lubuk Basung dan Polsek Danau Maninjau, secara mandiri telah melakukan pembersihan dari pihak jajaran Rutan Kelas II Maninjau dan Polsek Tanjung Raya sendiri. Sehingga tim komunitas tidak perlu lagi melakukan pembersihan di dua lokasi itu.
Hal yang serupa pada Rumah Batu Tuo Pasar Maninjau, Guess House Mutiara, Rumah Batu Anduang Cimpuk, Rumah Batu Tuo Usman Bagindo Panghulu Rajo Silek, Guess House Annisa, Rumah Baanjuang Nur Sutan Iskandar dan Kutub Chanah Dr. H. Abdul Karim Amrullah. Semuanya aman dari banjir bandang dan lumpur. Sehingga kegiatan terlaksana di SMP Negeri 1 Tanjung Raya, Masjid dan Makam Syekh Burhanuddin serta Masjid Ummil Qura Duo Sidang.
BPK Wilayah III Provinsi Sumatera Barat mendampingi dan mengawasi langsung kegiatan itu melalui anggotanya Selfiani Rozalina, Jaka, Wilyanif dan Robi. Selama dua hari ikut mengawasi dan memandu tim kpgh dalam penyelamatan, perlindungan dan pelestarian Cagar Budaya yang terlaksana di Nagari Maninjau dan Sungai Batang tersebut.
“Terimakasih Bapak Fadli Zon selaku Menteri Kebudayaan RI bersama Bapak Nurmatias selaku Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III Provinsi Sumatera Barat. Perhatikan yang tinggi terhadap situs Cagar Budaya Maninjau dan Sungai Batang ini. Apresiasi tertinggi kami selaku anak kandung sekaligus pemerhati nilai-nilai beserta benda, bangunan, dan kawasan cagar budaya kepada Bapak Menteri Kebudayaan dan Kepala BPK Wilayah III Provinsi Sumatera Barat,” Ungkap Amir Sakib Hamka, pembina KPGH. (rud)
















