Oleh : Chandra Firman Hr, Alumni Sastra Indonesi, UNP
Pasaman, Prokabar — Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diperpanjang di Sumbar. Duduk manis bapak-bapak pejabat di Pasaman mendengar arahan perpanjangan melalui telekomunikasi bergambar di Sekretariat Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pasaman, Selasa (5/5).
Sambil mangguk-mangguk, pede pula Bapak Bupati Pasaman, Yusuf Lubis mengatakan, Pasaman juga bakal memperpanjang PSBB, karena satu kesatuan dari bagian daerah di provinsi.
Pecah gelak masyarakat mendengar dan membaca informasi perpanjangan ini. Bahkan ada juga masyarakat yang selengah santai dan tetap berselancar di dunia maya, usai melihat sekilas info di facebook akunnya Kominfo Pasaman itu.
“Diperpanjang PSBB Pasaman, asa kemelambai saja aturan itu,” tanggap masyarakat.
Di Sumbar dan mengikut di Pasaman, PSBB tahap pertama, sudah dua pekan berjalan, sebelum diperpanjang hingga 29 Mei mendatang. PSBB tahap pertama ini, PSBB orang PSBB pula awak. Masyarakat disuruh kerja dari rumah, ibadah dari rumah, apa-apa dari rumah, yang penyuruhnya tak kunjung sampai-sampai.
Banyak pula baliho yang berisikan himbauan apa-apa dari rumah terpajang di sudut dan tengah kota Lubuk Sikaping.
“Pak pejabat ya senang, ongkang kaki di rumah, awal bulan berdenting juga buku tabungan. Nan kami, kalau nak berputar mesin sinso, nak abih suara bersorak di tengah pasa, nak mamarkir onda jo oto lurus-lurus di pasar, belum berasap dapur. Kalau masyarakat bederai macam kami ini, menyuruh PSBB pakai penyuruh, semacam bantuan. Bukan kami nakal, tak patuh PSBB, dari pada mati pula asap dapur kami, biarlah masuk telinga kiri keluar kanan aturan itu,” tanggap masyarakat.
Di Pasaman, memang keadaan PSBB seperti pertanyaan mana dulu ayam dari pada telur. Pemerintah menyalahkan masyarakat, tidak patuh PSBB, sehingga lahir PSBB pakai tahap-tahapnya untuk menekan penyebaran corona. Malahan yang ada, kasus positif semakin bertambah.
Sementara itu, di tengah PSBB pakai tahap ini berlangsung, pemerintah sendiri tidak siap untuk menjaga asap dapur masyarakat badarai agar tetap hidup. Entah berapa pekan sejak aturan penanganan corona berlangsung, yang bantuan belum juga cair. Jadi siapa yang salah dalam penerapan PSBB tidak efektif, pemerintah atau masyarakat. Mana dulu ayam dari pada telur, habis di situlah pikiran bapak pejabat dibuatnya.
Ironisnya, informasi perihal bantuan ini, minim pula. Ditanya ke nagari, minggu besok ke minggu besok jawabannya. Ditanya Dinas Sosial, nunggu data dari nagari. Seperti main bola, opor sana-sini. Semakin hilang gairah masyarakat untuk patuh PSBB.
Pantauan penulis, dua pekan PSBB di Pasaman, yang ada malah masyarakat tetap beraktifitas tidak jauh seperti biasa, hanya sedikit terjadi pengurangan aktifitas. Sore hari, hilir mudik warga mencari takjil tanpa menggunakan masker, pedagang juga begitu tak pakai sarung tangan. Tak ada bedanya PSBB atau tidak di Pasaman.
Bila PSBB mau efektif penerapannya, pemerintah harus siap menjaga asap dapur masyarakat badarai agar tetap ada. Jadi tidak ada alasan lagi, bagi mereka untuk tidak menerapkan PSBB. Karena PSBB Pasaman sudah diperpanjang, ya sudahlah, percepat lah bantuan itu dicairkan. Jangan sampai habis pula masa PSBB tahap dua ini, bantuan baru ke cair. Kalau ini terjadi, selamat datang pula PSBB tahap tiga, empat, lima, enam, tujuh dan PSBB sampai letih pemerintah menerapkannya. (*)
















