Kolom: Ragam Kejutan di Piala Dunia, dari Tragedi Maracanazo Sampai Keajaiban Cape Verde

Penulis -

Senin, 29 Juni 2026 - 23:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama)

Setiap edisi Piala Dunia selalu punya cerita sendiri. Diantara cerita-cerita itu, selalu ada kejutan-kejutan yang tak terduga dan akan selalu dikenang, bahkan tercatat dalam sejarah Piala Dunia.

Sejak penyelenggraaan Piala Dunia pertama tahun 1930 sampai edisi 2026 yang sedang berjalan sekarang, tercatat sejumlah kejutan besar.

Dimulai dari Piala Dunia tahun 1950, ketika Brasil sudah bersiap-siap berpesta juara di rumah kebanggaannya Stadion Maracana. Brasil sebenarnya hanya butuh hasil imbang melawan Uruguay di laga terakhir untuk jadi juara.

Siapa sangka, Uruguay yang “dikepung” dan diteror 100 ribu pendukung Brasil di Stadion terbesar dunia masa itu, justru mengalahkan Brasil 2-1, dan tampil sebagai juara. Seketika Maracana hening seperti kuburan, karena Brasil sudah yakin 100 persen bakal juara.

Namun, sepakbola adalah tempat hadirnya keajaiban dan kejutan tak terduga. Kejutan itu masih membekas dihati masyarakat Brasil sampai saat ini. Mereka menyebutnya Maracanazo, atau tragedi Maracana.

Setelah itu kejutan demi kejutan terus terjadi di setiap edidi Piala Dunia. Misalnya, masih tahun 1950, Amerika Serikat yang timnya diisi pemain amatiran dan bekerja paruh waktu, justru mampu menjungkalkan Inggris yang diisi pemain top dan profesional.

1966, tim antah berantah Korea Utara mengguncang Piala Dunia yang digelar di Inggris itu. Meraka mampu mengalahkan Italia salah satu tim calon juara 1-0 lewat gol Park do Ik. Tidak hanya mengirim Italia pulang, Korea Utara lolos ke babak berikutnya.

Mereka nyaris membuat kejutan lagi, melawan Portugal yang diperkuat pemain terbaik dunia saat itu Eusebio. Korea utara langsung unggul 3-0 dan membuat dunia melongo seakan tak percaya dengan aksi negara yang tertutup dari dunia luar itu.

Tapi beruntung Portugal punya Eusebio, yang kemudian mengamuk mencetak empat gol dan membalikan keadaan menjadi kemenangan Portugal 5-3 dengan satu gol tambahan dari Agusto. Kejutan Korea Utara pun terhenti dalam sebuah pertandingan paling mendebarkan sepanjang sejarah Piala Dunia.

Aljazair datang bikin heboh Piala Dunia 1982 dengan mempermalukan Jerman Barat 2-1. Ini aib tak terkira bagi Jerman Barat yang berstatus juara Eropa 1980. Kekalahan ini nyaris membuat Jerman Barat teringkir, kalau saja mereka tak bermain mata dengan Austria di laga terakhir grup untuk menyingkirkan Aljazair. Ini juga menjadi salah satu skandal terbesar di Piala Dunia.

Moment kejutan yang monumental juga tersaji di laga pembuka Piala Dunia 2002, tatkala Senegal sebagai tim debutan dari Afrika, mampu mempermalukan Prancis yang sarat bintang sekaligus juara bertahan. Efek dari kekalahan itu, Prancis gagal lolos ke babak gugur.

Masih tahun 2002, tak kalah mengerikan aksi tuan rumah Korea Selatan yang melaju sampai semifinal, dengan menyingkirkan tim-tim elit Eropa seperti Spanyol dan Italia. Tim Asia lolos ke semifinal adalah sebuah kejutan besar di arena sekelas Piala Dunia.

12 tahun kemudian, tepatnya Piala Dunia Brasil 2014. Tuan rumah Brasil yang tengah berambisi meraih gelar juara untuk menebus tragedi Maracanazo 1950, justru kembali menelan pil pahit. Di semifinal, di Stadion Maracana juga, Brasil tanpa ampun dibantai Jerman 1-7.

Jerman memang bukan tim kecil, tetapi kalah dengan skor itu di Maracana adalah aib yang tak terkira dan tak masuk akal bagi publik Brasil. Bahkan mereka menyebutnya sebagai tragedi Maracana jilid 2.

Kejutan terbesar lainnya yang tak akan terlupakan sepanjang sejarah Piala Dunia adalah kemenangan Arab Saudi atas Argentina dengan skor 2-1 pada fase grup Piala Dunia Qatar 2022. Saat itu, Argentina datang sebagai juara bertahan Copa America dan tim unggulan dengan rekor tak terkalahkan dalam 36 pertandingan, namun secara dramatis ditumbangkan oleh Arab Saudi.

Kini, di Piala Dunia 2026, kalau bicara kejutan atau keajaiban mungkin tak bisa dipungkiri itu adalah sepak terjang negara bernama Cape Verde.

Cape Verde atau orang Indonesia menyebutnya Tanjung Verde, mungkin banyak orang mengerinyitkan jidatnya. Dimana negara itu dan kenapa bisa-bisanya ikut Piala Dunia. Sejak zaman Nabi Adam nyaris tak terdengar kiprahnya di sepakbola, tiba-tiba ikut Piala Dunia 2026.

Tidak sekadar ikut, tapi langsung membuat orang terheran-heran dengan aksinya tak terkalahkan di Grup H. Selain menahan imbang dua mantan juara dunia Spanyol dan Uruguay, mereka juga berbagi angka dengan Arab Saudi. Tiga angka yang membuat tim ini lolos ke babak berikutnya atau fase gugur di 32 besar.

Jika dilihat negaranya, Cape Verde hanya negara dari kepulauan kecil di lepas pantai barat Afrika. Ibu kotanya Praia, dan penduduknya hanya 500 ribu orang. Tapi hal itu tak membuat negara kurcaci itu takut membuat sejarah.

Timnas Cape Verde bukanlah tim yang dibangun di atas kemewahan. Ratusan tahun lalu, kepulauan ini hanya hamparan tanah tak berpenghuni di Samudra Atlantik. Kedatangan bangsa Eropa pada abad ke-15 mengubahnya menjadi pusat perdagangan budak. Itu sejarah kelam yang membentuk identitas dan daya juang rakyatnya hingga hari ini.

Dalam dunia sepakbola, Cape Verde lama berkutat di bawah bayang-bayang raksasa Afrika seperti Nigeria, Ghana, Maroko, atau Pantai Gading. Pertandingan internasional pertama mereka baru dimainkan pada 1978, dan selama bertahun-tahun nama Cape Verde nyaris tak terdengar di percaturan sepakbola Afrika, apalagi level dunia.

Pasti banyak yang bertanya-tanya dari mana datannya pemain-pemain Cape Verde, disaat mereka bahkan tak punya liga domestik sendiri. Ternyata, berabad-abad sebagai jalur persinggahan bangsa Eropa membuat keturunan Cape Verde tersebar luas terutama di Portugal, Belanda, dan Prancis.

Beberapa di antara mereka berkarier sebagai pesepakbola profesional di liga-liga top Eropa. Hal inilah yang disambar Federasi Sepakbola Cape Verde yang menjalankan program rekrutmen pemain diaspora secara selektif dan terencana.

Persis seperti yang saat ini lakukan Indonesia melalui PSSI yang memburu para diaspora untuk membangun Timnas. Bedanya, jika program diaspora Cape Verde sudah berbuah tampil di Piala Dunia, Indonesia masih harus bersabar menunggu giliran.

Cape Verde tidak melakukan naturalisasi asal-asalan, melainkan pembangunan identitas tim yang punya akar kuat namun kaki yang berpijak di tanah sepakbola Eropa. Inilah cikal bakal terbentuknya timnas Cape Verde yang hari ini membuat heboh Piala Dunia 2026.

Hari ini, dunia mulai melirik serius ke pulau kecil di lepas pantai barat Afrika itu. Ramai-ramai berselancar di dunia internet untuk memburu apa saja tentang negara bernama Cape Verde, khususnya tenatang sepakbolanya.

Lolos ke babak 32 besar, tentunya bukan akhir cerita negara kecil ini. Justru di sinilah keajaiban Cape Verde di Piala Dunia 2026 mencapai puncaknya. Berjuluk tim “Hiu biru” atau Blue Sharks, kini mereka akan berhadapan dengan Argentina di 32 besar.

Melawan Argentina di pentas Piala Dunia, mungkin ini sesuatu yang tak pernah terlintas dalam pikiran dan mimpi pemain-pemain Cape Verde. Tapi keajaiban itu datang, mereka akan melawan tim juara bertahan Piala Dunia dan dihuni sederet pemain terbaik dunia. Apakah kejutan ala Cape Verde akan berlanjut?

Bagi banyak pengamat sepakbola, melawan Argentina dengan Lionel Messi-nya mungkin itu adalah undian terburuk yang mungkin mereka dapatkan. Tapi bagi rakyat Cape Verde, itu adalah anugerah.

Bahkan Presiden Cape Verde Jose Maria Neves angkat bicara atas prestasi 26 pemauda terbaik bangsanya itu. “Jika hari ini, 50 tahun setelah merdeka, kita berada di Piala Dunia, kita telah membuktikan diri sebagai bangsa yang mampu bersaing,” tegas sang Presiden sedikit lebay.

Faktanya, kecil bukan berarti harus minder. Secara historis, Cape Verde kini berdiri di posisi yang sangat langka, yakni negara terkecil kedua berdasarkan populasi yang pernah tampil di Piala Dunia. Mereka hanya kalah kecil dari Islandia tahun 2018.

Di Afrika, mereka adalah yang terkecil yang pernah mencapai turnamen ini. Namun angka-angka itu hanyalah konteks. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi di dalam jiwa sebuah bangsa ketika mimpi yang dulu terasa mustahil akhirnya terrwujud dan nyata, bukan mimpi lagi.

Sementara negara-negara dengan populasi ratusan juta jiwa masih berjuang untuk sekadar lolos kualifikasi. Cape Verde dengan penduduk lebih sedikit dari satu Kabupaten di Sumatra Barat. Bahkan setara populasi sebuah kecamatan di DKI Jakarta sudah berdiri di panggung terbesar sepakbola dunia.

Tanpa terkalahkan sejauh ini. (*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB