oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama)
Kemarin, seorang teman lama ketika sama-sama mengurus sepakbola lokal daerah tiba-tiba muncul tanpa berkabar di pondok kecil lahan bawang merah saya.
Dia langsung terkekeh melihat penampilan saya yang bak petani tulen. Pakai kupiah koboi, baju kampanye lengan panjang bergambar paslon guberur satu setengah tahun lalu, celana jeans lama yang robek di lutut, lengkap dengan sepatu boot bercorak militer.
Dulu kami saling mengenal, ketika saya jadi CEO merangkap manejer klub Liga 3 Sumbar di Kota Solok. Sedangkan dia menejer klub Liga 3 juga di kota Sawahlunto. Tapi sekarang dia berdomisili di Kota Padang Panjang, dengan status nyaleg gagal tahun 2024 lalu.
Klub kami sempat berhadapan pada babak fase grup di Stadion Muhammad Yamin Muaro Sijunjung, dan klub saya menang tiga gol tanpa balas. Itulah awal perkenalan, saling komunikasi, dan sekarang bertemu lagi.
“Lebih enak dinikmati, dan uangnya pun lebih manis,”ucap saya enteng ketika dia menyinggung profesi saya sekarang, yang dilihatnya begitu enjoy jadi seorang petani. Kami kembali terkekeh ketika dia sibuk menghitung-hitung panen bawang merah saya. Tiga pekerja saya yang sedang sibuk menyortir bawang merah ikut tertawa.
Ujung-ujungnya kami kembali ke laptop, cerita soal bola. Bernostalgia soal suka duka mengurus bola di daerah, saling terkekeh dan sesekali saling memanasi. Terutama ketika dia menyinggung klub saya juara Liga 3 Sumbar 2018, karena ada faktor ownernya Anggota Exco PSSI.
Singkat cerita, kami akhirnya sampai pada pembahasan soal final Piala Dunia malam nanti. Tak disangka dia berceloteh penuh semangat, bak muntahan peluru AK 47. Sibuk memuji-muji manjagokan ayamnya yang bernama Spanyol.
Bak pengamat bola profesional, menyaingi Muhammad Kusnaeni di layar TV, dia mengulas kekuatan Spanyol. Lengkap dengan ramalan AI, statsitik tim terbaru segala macam, dia sudah memastikan keyakinannya bahwa Spanyol akan mengalahkan Argentina, dan tampil sebagai juara. Saya mendengarkan dengan mengangguk-angguk balam.
Tak ketinggalan dia menyebutkan segala kelemahan Argentina yang disebutnya terlalu tergantung pada Lionel Messi. “Matikan saja Messi, habis Argentina.”ucapnya berapi-api sambil menyeruput kopi yang saya suguhkan.
Belum puas, dia juga menyentil perjalanan Argentina yang penuh kontroversi untuk sampai ke final. Bermacam sentilan negatif diarahkan ke Argentina, misalnya disebut anak kesayangan FIFA, dibantu wasit, dan VAR yang tak berlaku untuk Timnas Argentina.
“Bro terlalu banyak scrool short video di Medsos kayak anak ABG.”ucap saya menyela, sambil menyalai sebatang A Mild mencoba menghentikan cerocosnya yang seperti sepeda tak berlampu dan tak punya rem.
“Faktanya memang begitu, masa bro tak paham hal itu.”balasnya sengit.
Singkat cerita saya dapat giliran bicara. Mencoba berargumen dengan analisis yang lebih berimbang. Saya mengakui kompetensi Spanyal yang sangat meyakinkan sampai mendarat di final. Bagaimana Matador menunjukan diri sebagai tim yang konsisten, kuat di segala lini, dan punya kekuatan terbesarnya ada dalam permainan secara tim yang solid.
Tapi saya juga tak bisa menafikan perjuangan keras Argentina untuk sampai bertengger di partai final, terlepas dari beragam kontroversi yang muncul menyertainya. Saya menghargai perjuangan mereka yang tak kenal lelah sampai menit-menit akhir, seperti yang mereka lakoni di empat laga fase gugur.
“Saya melihat keindahan paling dramatis dari sepakbola pada sisi itu bro. Apapun bisa terjadi, sepanjang pertandingan belum selesai.”kata saya.
“Tapi apa artinya kalau perjuangan itu disertai perlakuan istimewa dengan menggunakan perangkat im pertandingan, itu sama saja bermain curang, dimana letaknya fair play.”potongnya tak mau kalah. Saya tersenyum, lalu melanjutkan penejelasan saya.
“Okelah, sebuah tim diuntungkan perangkat pertandingan, tapi kalau tim itu tidak mempunyai kemampuan yang tinggi dan memadai, semua bantuan itu juga tak akan ada artinya, tidak akan bisa berbuat apa-apa.”kata saya menegaskan. Dia pun terdiam, sampai disana dia sepertinya cukup paham.
Saya katakan lagi, saya juga sangat menghargai totalitas seorang Messi. Pria gaek 39 tahun yang masih punya energi membawa timnya ke final. Saya paparkan sedikit bagaimana perjuangan Lionel Messi sejak tahun 2006 bersama Timnas Argentina.
Dia tak pernah berhenti menggendong timnas Argentina, walau setiap iven besar selalu gagal. Tapi Messi selalu mencoba lagi dan mencoba lagi. Walaupun dia harus menghadapi tekanan demi tekanan dari publik negaranya sendiri yang sangat kejam, tapi dia tak runtuh.
“Bayangkan bro, dia sudah dapat segalanya di tempat lain. Semua penghargaan dan gelar terbaik sudah diraihnya di level klub. Hanya juara Piala Dunia bersama Timnas yang belum, dan itu baru didapatkannya saat usianya sudah 35 tahun tahun 2022 di qatar.”kata saya panjang lebar.
“Perjuangan jatuh bangun, penuh ujian dan tekanan, itu yang membuat saya suka Messi. Mungkin berbeda dengan banyak orang yang membencinya, tapi Messi telah merampas hati saya bagaimana melihat sebuah perjuangan di lapangan sepakbola.”lanjut saya.
“Dasar wartawan, pakai rokok ciek lu ha.”ucap si bro menjangkau A Mild saya. Sepertinya dia gusar dengan penjelasan saya.
“Jadi intinya bagaimana, bro pegang Argentina ceritanya.”
“Ya jelas bro, apapun hasilnya nanti. Bagi saya Argentina sudah juara.. Saya akan menikmati pertandingan dengan sepenuh hati, tak perlu sport jantung, sesederhana itu,”jawab saya terkekeh meniru kalimat khas sang Wapres Konoha itu yang super koplak itu.
Akhirnya pertemuan “bersejarah” itu diakhiri dengan sebuah kesepakatan, siapapun jagioannya yang menang dalam final nanti, kita bertemu besoknya di warung kecil di pojok Pasar Kuliner Padang Panjang.
“Disana teh telurnya lamak,”ucap teman saya itu. Dia berbasa basi ketika saya tungkuskan bawang merah sekarontong asoy. “Titip ini untuk nyonya.”kata saya.
Tiba-tiba saya jadi tak sabar menunggu final Piala Dunia 2026.(*)
















