oleh: Rizal Marajo (wartawan Utama)
Kalau ada rivalitas atau perseteruan yang tak pernah reda antara dua negara di ajang Piala Dunia, mungkin urutan pertama adalah antara Inggris dan Argentina. Saking panasnya, kadang merembet kepada hal-hal diluar sepakbola.
Memang ada juga rivalitas lain, semisal Argentina dengan Brasil. Tapi panasnya terbatas pada unjuk taring kehebatan di lapangan sepakbola. Apalagi kalau sudah menyangkut siapa yang terhebat di benua Amerika Selatan. Selepas itu, mereka akur-akur saja.
Di Eropa, ada rivalitas segitiga yang sengit antara Belanda, Jerman, dan Italia. Ketiganya bak mendapat energi berlebih kalau saling bertemu. Uniknya, ada hal tak lazim ditengah rvalitas tiga negara ini.
Rumusnya begini, Belanda sulit mengalahkan Italia, Italia sulit mengalahkan Jerman, dan Jerman sulit mengalahkan Belanda. Maka rivalitas segitiga ini selalu menjadi hal paling ditunggu di Eropa.
Di belahan dunia lain juga ada rivalitas yang cukup sengit. Misalnya AS vs Meksiko di Amerika Tengah, Nigeria vs Kamerun dan Mesir vs Maroko di Afrika, Jepang vs Korea Selatan di Asia. Bahkan di tingkat lebih kecil, Indonesia dan Malaysia ikut-ikutan panas di Asia Tenggara kalau sudah bicara pertemuan Timnas mereka..hehehe.
Tapi semua itu tak ada yang melebihi sengitnya “permusuhan” antara Argentina vs Inggris. Setiap pertemuan mereka di ajang seperti Piala Dunia, hampir dipastikan menjadi santapan empuk media yang ikut-ikutan memanaskan persaingan.
Yang diulas tidak pernah hanya sekadar tentang pertandingan sepakbola. Sebab, rivalitas ini mengakar sangat dalam dan turut dibentuk oleh momen-momen yang melintasi batas lapangan hijau.
Namun, tidak banyak yang tahu bagaimana semua ini bermula?
Saat berjumpa pada fase penyisihan Piala Dunia 1962, laga berlangsung aman-aman saja. Inggris dengan nyaman mengalahkan Argentina 3-1. Akan tetapi, rivalitas ini sebetulnya baru benar-benar meledak empat tahun kemudian di tanah Inggris.
Bahkan hingga hari ini setelah lebih dari 60 tahun insiden itu berlalu, masih banyak orang di Argentina menyebut pertandingan perempatfinal Piala Dunia 1966 iyu sebagai El Robo atau “perampokan”.
Saat itu Antonio Rattin, kapten Argentina diusir keluar lapangan oleh wasit asal Jerman Barat, Rudolf Kreitlein, karena dituduh melakukan pelecehan verbal terhadapnya. Yang membuat situasi makin runyam Kreitlein tidak bisa berbahasa Spanyol, sementara Rattin tidak mengerti bahasa Jerman maupun Inggris.
Pada masa itu belum ada kartu kuning atau merah dalam sepak bola. Wasit pun hanya memberikan peringatan dan pengusiran pemain melalui keputusan verbal.
Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang dikatakan Rattin, atau apakah dia memang mengatakan sesuatu. Kreitlein di kemudian hari mengklaim bahwa perilaku dan raut wajah kapten Argentina itulah yang membuatnya memutuskan untuk mengusirnya.
Rattin dibuat benar-benar bingung. Dia berulang kali meminta penerjemah dan menolak untuk meninggalkan lapangan karena merasa sangat yakin bahwa dirinya tidak melakukan apa pun yang pantas membuatnya diusir.
Dia akhirnya berjalan keluar setelah penundaan yang cukup lama. Lalu, ia duduk dengan gestur menantang di atas karpet merah di depan Royal Box, dimana tamu-tamu kehormatan kerajaan Inggris duduk. Tak ayal Rattin pun dilempari bir dan cokelat batang oleh sebagian penonton.
Timnas Inggris akhirnya memenangkan pertandingan tersebut dengan skor 1-0 sebelum akhirnya mengangkat satu-satunya trofi Piala Dunia yang pernah diperoleh tim berjuluk The Three Lions ini. Sementara Argentina pulang dengan gusar dan keyakinan bahwa mereka telah dirampok.
60 tahun kemudian, pertandingan yang penuh kontroversi di Wembley tersebut tetap menjadi momen yang benar-benar memulai satu di antara rivalitas paling sengit dalam sepak bola, meski itu adalah babak sejarah yang tidak terlalu sering dibicarakan orang.
Tidak heran jika setiap Inggris dan Argentina bertemu di Piala Dunia, itu dianggap sebuah moment yang selalu melahirkan banyak cerita.
Misalnya pertemuan Inggris vs Argentina di perempatfinal Piala Dunai 1986. Sebelum laga, suasana sudah dipanasi oleh Perang 74 hari yang meletus di pulau Falklands atau Malvinas tahun 1982.
Argentina yang kalah perang sungguhan itu, mampu membalas dengan gol ‘Tangan Tuhan’ Diego Maradona yang terkenal itu. Inggrispun meradang dipermalukan dan diperdaya manusia cebol yang anehnya bisa menang duel udara dan mencetak gol melawan kiper tinggi besar seperti Peter Shilton.
Makin malu, berapa waktu kemudian Maradona seolah meperolok-olok seluruh Inggris, bahkan dunia dengan mengatakan itu gol “tangan tuhan”, ketimbang mengaku secara jujur bahwa tangannya sengaja menonjok bola sehingga Shilton hanya bisa menangkap angin.
Ditambah lagi, tak lama berselang Maradona kembali baraksi mencetak salah satu gol terbaik sepanjang masa. Dia meliuk-liuk memperdaya dan melewati tujuh pemain Inggris, lalu mencetak gol dengan sempurna dan memulangkan Inggris dari Meksiko.
Kejadian di Stadion Azteca tahun 1986 itu semakin menambah sengit rivalitas kedua negara. Ditambah kartu merah David Beckham pada Piala Dunia tahun 1998, yang berujung kekalahan Inggris dari Argentina melalui adu penalti, ikut menambah lapisan ketegangan di antara kedua negara ini.
Kini keduanya kembali bertemu di semifinal Piala Dunia 2026. Inggris tetap sebagai negara yang lebih uring-uringan ketimbang Argentina yang terlihat santai-santai saja dan lebih fokus ke pertandingan.
Bagi orang Inggris, citra Argentina sebagai tim yang licik, sudah tertanam lama. Mereka jelas belum lupa pada tiga momen Piala Dunia yang membekas, Antonio Rattin pada 1966, kartu merah David Beckham setelah terprovokasi Diego Simeone di 1998 dan gol “Tangan Tuhan” Diego Maradona pada 1986.
Kini tema serupa kembali dibakar Inggris untuk menghabisi Argentina di Piala Dunia 2026. Argentina disebut menjadi pusat kontroversi setelah menang 3-2 atas Mesir pada babak 16 besar. Kubu Mesir memprotes keputusan wasit setelah satu gol mereka dianulir melalui VAR.
Hal itu jadi santapan media sosial di Inggris, julukan “VARgentina” bermunculan. Narasi lama bahwa Albiceleste kerap diuntungkan keputusan penting wasit kembali hidup, meski FIFA menegaskan tidak ada keberpihakan dalam penggunaan VAR.
Kontroversi berlanjut pada perempat final melawan Swiss. Breel Embolo menerima kartu kuning kedua setelah VAR mengoreksi keputusan awal wasit melalui penerapan baru aturan mistaken identity. Pelatih Timnas Swiss, Murat Yakin, menyebut keputusan itu tidak dapat diterima.
Serangkaian insiden itu membuat Argentina kembali dibayangi tudingan lama bahwa mereka menang bukan semata kualitas permainan, tetapi juga karena kemampuan memanfaatkan setiap celah aturan. Hal inilah yang beberapa hari belakangan digoreng kubu Inggris.
Padahal, jurus Inggris menyederhanakan kekuatan Argentina hanya soal “kelicikan”, jelas tidak adil.
Mereka lupa, Argentina memiliki fleksibilitas taktik yang membuat mereka mampu berganti pendekatan dalam setiap pertandingan. Mereka bisa sabar menguasai bola, lalu seketika berubah menjadi tim yang menyerang vertikal ketika ruang terbuka.
Ditambah pengalaman sebagai juara bertahan dan kedalaman lini depan yang dihuni Lionel Messi, Julian Alvarez, serta Lautaro Martinez, Argentina tetap menjadi salah satu tim paling lengkap di turnamen.
Mereka juga lupa, kekuatan sesungguhnya Argentina yaitu semangat kebersamaan yang luar biasa. Argentina sejak dilatih Lionel Scaloni telah memiliki ikatan persaudaraan, sebuah identitas yang melampaui sekadar permainan sepakbola.
Sepertinya Inggris sudah kapok, tak mau kena kadali berkali-kali oleh Argentina.(*)
















