Kolom; Final Piala Dunia 2026 akan Jadi Panggung Sertijab Raja Messi dan Pangeran Yamal

Penulis -

Kamis, 16 Juli 2026 - 21:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama)

Tidak salah, jika final Piala Dunia 2026 antara Spanyol menghadapi Argentina sebagai laga puncak paling ideal. Tidak hanya soal pertemuan dua penguasa kutub sepakbola dunia paling depan, Eropa dan Amerika Selatan.

Namun yang lebih menyita perhatian, final kali ini bakal menghadirkan sebuah kesan yang menarik karena mempertemukan sosok dua generasi berbeda. Yang satu sedang diujung usia menguasai panggung sepakbola, yang lain calon pewaris masa depan sepakbola.

Lamine Yamal, remaja 19 tahun dari Catalonia Spanyol dan berdarah Maroko, adalah bakat muda terbesar sepakbola saat ini. Sedangkan Lionel Messi, sang raja sepakbola dunia dalam dua dekade terakhir.  Sudah berusia senja 39 tahun, Messi bersiap menyerahkan tahtanya kepada sang pangeran Yamal.

Tak ayal, final di Stadion MetLife di New York New Jersey, akan menjadi sisi terindah sepakbola karena akan menjadi arena “sertijab” antara keduanya. Penggemar sepakbola di seluruh dunia tak hanya akan menyaksikan sebuah laga paling bergengsi dalam olahraga ini, tapi juga akan mengikuti  “upacara penobatan” yang dramatis.

Majalah olahraga top dunia Sport Ilustrated menukilkan, laga ini menjadi sebuah kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Raja Messi, sekaligus menyambut Pangeran Yamal di bawah sorotan lampu yang paling terang, yaitu final Piala Dunia.

“Dari satu GOAT ke GOAT berikutnya, laga ini akan menandakan keberlanjutan mutlak dari permainan indah ini melalui pertandingan tertingginya. Ini terasa puitis. Seperti lingkaran yang sempurna, penyerahan tongkat estafet dari pemain terbaik sepanjang masa kepada sosok yang berpotensi jadi penerusnya,” tulis majalah itu.

Entah ini sebuah kebetulan atau memang takdir yang sedang berjalan, laga final ini akan menandai pertama kalinya Messi dan Yamal berhadapan di lapangan hijau. Padahal jika ditelusuri, keduanya sebenarnya sudah dipertemukan bertahun-tahun lalu ketika Yamal baru berusia tujuh bulan, dengan satu kata kunci, Barcelona.

Awal ceritanya, tahun 2007, Messi pernah ditunjuk oleh Barcelona untuk berpartisipasi dalam sesi pemotretan amal di Camp Nou. Pemotretan tersebut ditujukan untuk  menggalang dana bagi UNICEF dan program perlindungan anak dari Barca Foundation.

Menariknya, seorang bayi laki-laki asal Catalonia berusia tujuh bulan di dalam bak mandi yang difoto bersama Lionel Messi tersebut tidak lain adalah Lamine Yamal.

Saat itu, UNICEF mengadakan undian di lingkungan tempat tinggal keluarga Lamine. Mereka mendaftar undian untuk mendapatkan kesempatan difoto di Camp Nou bersama seorang pemain Barca. Dan mereka memenangkan undian itu.

Sang fotografer sesi pemotretan amal yang bernama Joan Monfort menggambarkan, saat itu Messi bahkan tidak tahu cara menggendong  bayi itu.  “Messi orang yang cukup introvert dan pemalu. Dia baru keluar dari ruang ganti dan tiba-tiba mendapati dirinya berada di ruang ganti lain dengan bak plastik berisi air dan ada bayi di dalamnya. Itu situasi yang rumit.”tulis Monfort.

Siapa sangka, bayi Yamal tumbuh besar menjadi seorang pesepakbola berbakat dan seolah mewarisi seluruh kehebatan Messi, dan yang paling menakjubkan dia memiliki foto bersejarah saat ia dimandikan Messi dan sekarang menjadi viral  menjelang laga final.

Bagi banyak penggemar sepakbola dunia, menganggap pertemuan tahun 2007 itu sebagai simbol yang meramalkan mahkota yang kelak akan diletakkan Messi di atas kepala Yamal. Hampir 20 tahun telah berlalu,  hari itu akhirnya tiba.

Deja vu, ibarat napak tilas, Yamal telah berhasil menggantikan Messi di Barcelona. Raksasa Spanyol tersebut merupakan tempat di mana Lionel Messi meniti kariernya sejak usia 13 tahun hingga akhirnya meraih ketenaran yang tak tertandingi.

Messi telah bermain selama 17 musim di Camp Nou, sering kali beroperasi di posisi sayap kanan. Puncak kejayaannya saat bersama era ikonik trio “MSN” yang menampilkan lini serang Messi, Neymar Jr, dan Luis Suarez.

Sepanjang periode itu, ia memenangkan 10 gelar La Liga dan empat trofi Liga Champions untuk mengukuhkan dirinya sebagai satu di antara pemain terbaik sepanjang masa. Tujuh dari delapan penghargaan Ballon d’Or milik Messi diraih selama masa baktinya di Barcelona.

Setelah itu, Messi meninggalkan Barcelona pada 2021. Tak sampai dua tahun kemudian, andalan baru Blaugrana muncul, seorang pemain sayap kanan juga berkaki kidal, Yamal, yang menimba ilmu di akademi muda Barcelona sejak usia 7 tahun.

Ia melakoni debutnya di tim utama Barcelona pada April 2023 pada usia yang baru menginjak 15 tahun, saat melawan Real Betis. Rekor itu menjadikannya pemain termuda yang pernah bermain untuk Blaugrana.

Yamal pun melejit sejak saat itu, memecahkan berbagai rekor di sana sini. Ia secara resmi menerima jersey nomor 10 klub pada musim panas lalu, tepat setelah ulang tahunnya yang ke-18. Nomor keramat yang sebelumnya pernah dipakai Lionel Messi selama 17 tahun.

Saat mengenakan nomor ikonik tersebut, Yamal mencetak 16 gol liga musim lalu. Sebuah torehan yang tak tertandingi oleh rekan-rekan setimnya, sembari mencatatkan 11 assist di La Liga, dan membantu Barcelona meraih gelar Liga Spanyol kedua mereka secara berturut-turut.

Ada kesamaan lagi, Messi maupun Yamal mengandalkan kemampuan elite mereka dalam membaca permainan di lapangan, dan seolah memiliki magnet yang membuat bola tetap menempel di kaki mereka.

Kini, final Piala Dunia 2026 sedang menanti epilog cerita indah Lionel Messi dan Lamine Yamal di hadapan 80 ribu penonton di MetLifa Stadium hari Minggu 19 Juli mendatang.

Saat ini, Yamal masih dalam proses pemulihan dari cedera hamstring yang dideritanya pada April 2026 dan belum mampu mencapai penampilan terbaiknya bersama Spanyol di Piala Dunia kali ini. Kendati demikian, ia sudah berada di jalur yang tepat untuk mengukir identitasnya sendiri.

Yamal baru mencetak satu gol sejauh ini dalam debutnya di Piala Dunia, ia tetap menjadi alasan signifikan di balik melajunya Spanyol ke final. Ia tetap menjadi ancaman yang menakutkan di sisi sayap, sering kali memaksa pertahanan lawan melakukan penjagaan berlebih di areanya.

Yang terbaru, pergerakannya dengan bola membuahkan hadiah penalti untuk membuka keunggulan Spanyol saat melawan Prancis dalam laga semifinal, yang berakhir dengan kemenangan 2-0. Kontribusi yang terlihat kecil, tapi sangat penting.

Dibanding Messi yang memiliki catatan luar biasa berupa delapan gol dan empat assist sampai mendaratkan Argentina di final, capaian Yamal memang masih jauh. Tapi, Messi tidak dapat final Piala Dunia pertamanya hingga ia berusia 27 tahun, yaitu pada Piala Dunia 2014 di Brasil. Yamal, sudah berada di final Piala Dunia di usia 19 tahun.

Apapun itu, Messi pun sepenuhnya telah siap menyerahkan mahkotanya dan menaruh kepercayaan penuh pada Yamal. “Jika saya harus memilih satu karena faktor usia, atas apa yang telah dia lakukan sejauh ini dan untuk masa depan yang mungkin dimilikinya, dia adalah Lamine Yamal,” kata Messi, sebelum Piala Dunia dimulai.

Ini seakan sebuah isyarat, sang legenda sepakbola dari Argentina itu sudah menyiapkan prosesi yang kemungkinan menjadi salam perpisahan terakhirnya di Piala Dunia pada final nanti.

Yamal? akhirnya dia akan memiliki kesempatan untuk berdiri sendiri, sebagai “raja sepakbola” yang baru.(*)

 

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB