Agam, Prokabar – Nenek Halimah, mungkin tak pernah mengira, dia mesti hidup sebatang kara dalam rumah sempit ukuran lima kali empat di usia senjanya. Tapi inilah jalan hidup yang harus ditempuhnya. Nenek yang akrab dipanggil nenek Imah (76), ia tinggal satu atap bersama ayam, tiga ekor kucing dan dua ekor anjing peliharaannya.
Nenek Imah hidup di desa kecil pinggiran Danau Maninjau, tepatnya di Jorong Nagari, Kenagarian Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Agam. Ia lahir bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, tepatnya “Patang kamih malam jumahaik,” enek Imah menjelaskan kelahirannya.
Dengan melihat kondisinya, tak ada yang menyangka nenek Imah masih keturunan Buya Hamka atau Prof. Dr. Hj. Abdul Malik Karim Amrullah. Siapa yang tidak kenal Hamka? Seorang ulama besar, politikus dan sastrawan yang mendunia. Hingga kini karya-karyanya masih bersinar di hati para pencintanya.
“Kakek nenek merupakan cucu dari Hamka yang bernama Abu Hasan,” ungkap Nenek Halimah.
Lebih dalam mengenai sosok nenek Imah, ketika berusia 7 tahun ia telah ditinggal oleh sang ibu, bisa dibilang telah piatu sejak kecil. Tiga tahun berlalu, sang ayah pun melepas gelar dudanya dengan menikah lagi. Nenek Imah kecil hidup bersama ibu tiri dan adik tirinya merantau di Lampung. Seperti halnya kisah ibu tiri di dalam dongeng, begitulah hidup yang dirasainya. Perlakuan yang tidak adil antara ia dan adik tirinya membuat nenek Imah hidup dalam tekanan.
Takdir hidup siapa yang tahu, kita manusia tinggal menjalankannnya. Begitulah takdir bermain dengan nenek Imah, ketika kelas 5 SD ia sudah menikah karena dijodohkan oleh mamak (saudara laki-laki ibu) kala itu.
Selama perjalanan hidupnya, nenek Imah menikah dua kali, selang beberapa tahun pernikahannya, suaminya meninggal dan ia tidak memiliki anak dari suami pertama maupun kedua. Entah apa rencana langit kala itu dan rencana apa yang sedang dipersiapkan tuhan untuk dirinya. Sehingga diusia senja setelah kepergian suaminya, ia kembali hidup seorang diri. Hidup sebatang kara, berjuang untuk bertahan hidup, menghabiskan masa senja di kampung halamannya, Sungai Batang.
Kini nenek Halimah menjalani kesehariannya dengan menjalankan kotak amal dari pasar ke pasar. Karena keterbatasan fisik dan tenaga, inilah cara yang dapat ia lakukan untuk menopang hidup sambil beramal di sisa hidupnya. Dari hasil kotak amal tersebut sebagian ia sisihkan untuk pembangunan Masjid Syekh Amrullah yang merupakan peninggalan kakek Buya Hamka, borderlands dengan tempat tingga sang nenek.
Sebagian lagi ia gunakan untuk penyambung hidup bersama hewan peliharaan, teman setia dalam hidupnya.
Nenek Imah sudah menjalani profesi ini kurang lebih 12 tahun. Mungkin inilah rencana indah langit, Allah mengambil orang yang disayang dan dicintainya namun selalu merangkulnya dengan rahmat dan kedamaian hidup. Pahit, manis, suka, dan dukanya tentu telah banyak ia rasakan.
Sudah banyak peristiwa menyenangkan, mengharukan, menyedihkan bahkan hujatan dari manusia lain yang ia terima, tak jarang ia pingsan ditengah pasar dikarenakan kondisi fisik dan tenaga yang semakin melemah, berdesak-desakkan ketika ditengah pasar. Ada yang acuh saja ketika nenek Imah menjulurkan kotaknya, ada yang mengajak nenek Imah bersenda gurau dan masih banyak lagi. Semua kepahitan seolah terasa sangat manis karena ia selalu bersyukur di setiap langkah kecilnya.
Doa sekaligus semboyan Nenek Imah ketika menjalankan kotak amal ialah “Murah rasaki, batambah anak, sehatkan juo sakeluarga, dapek anak kamba, dilindungi dek Allah yang kuaso,” begitulah kira-kira ungkapannya.
Meskipun berkerabat dekat dengan Hamka tak membuat kehidupan nenek Imah seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Malang sekali nasibnya karna tak banyak yang tahu asal usulnya bahkan jarang yang peduli. Walaupun sebenarnya nenek Imah memiliki saudara tiri yang saat ini diketahui tinggal menetap di ibu kota namun sama halnya dengan ungkapan “No One Cares Until You Die.”
Dari kisah nenek Imah kita belajar bahwa kebahagiaan hidup bukan tentang kemewahan atau materi melainkan rasa syukur atas apa yang kita peroleh untuk hidup orang banyak. Itulah sedikit motivasi hidup dari nenek Halimah. (*)
















