Kisah Pilu Nenek Imah, Habiskan Waktu Senja bersama Hewan Peliharaannya

Penulis -

Rabu, 5 Januari 2022 - 08:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Agam, Prokabar – Nenek Halimah, mungkin tak pernah mengira, dia mesti hidup sebatang kara dalam rumah sempit ukuran lima kali empat di usia senjanya. Tapi inilah jalan hidup yang harus ditempuhnya. Nenek yang akrab dipanggil nenek Imah (76), ia tinggal satu atap bersama ayam, tiga ekor kucing dan dua ekor anjing peliharaannya.

Nenek Imah hidup di desa kecil pinggiran Danau Maninjau, tepatnya di Jorong Nagari, Kenagarian Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Agam. Ia lahir bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, tepatnya “Patang kamih malam jumahaik,” enek Imah menjelaskan kelahirannya.

Dengan melihat kondisinya, tak ada yang menyangka nenek Imah masih keturunan Buya Hamka atau Prof. Dr. Hj. Abdul Malik Karim Amrullah. Siapa yang tidak kenal Hamka? Seorang ulama besar, politikus dan sastrawan yang mendunia. Hingga kini karya-karyanya masih bersinar di hati para pencintanya.

“Kakek nenek merupakan cucu dari Hamka yang bernama Abu Hasan,” ungkap Nenek Halimah.

Lebih dalam mengenai sosok nenek Imah, ketika berusia 7 tahun ia telah ditinggal oleh sang ibu, bisa dibilang telah piatu sejak kecil. Tiga tahun berlalu, sang ayah pun melepas gelar dudanya dengan menikah lagi. Nenek Imah kecil hidup bersama ibu tiri dan adik tirinya merantau di Lampung. Seperti halnya kisah ibu tiri di dalam dongeng, begitulah hidup yang dirasainya. Perlakuan yang tidak adil antara ia dan adik tirinya membuat nenek Imah hidup dalam tekanan.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Takdir hidup siapa yang tahu, kita manusia tinggal menjalankannnya. Begitulah takdir bermain dengan nenek Imah, ketika kelas 5 SD ia sudah menikah karena dijodohkan oleh mamak (saudara laki-laki ibu) kala itu.

Selama perjalanan hidupnya, nenek Imah menikah dua kali, selang beberapa tahun pernikahannya, suaminya meninggal dan ia tidak memiliki anak dari suami pertama maupun kedua. Entah apa rencana langit kala itu dan rencana apa yang sedang dipersiapkan tuhan untuk dirinya. Sehingga diusia senja setelah kepergian suaminya, ia kembali hidup seorang diri. Hidup sebatang kara, berjuang untuk bertahan hidup, menghabiskan masa senja di kampung halamannya, Sungai Batang.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Kini nenek Halimah menjalani kesehariannya dengan menjalankan kotak amal dari pasar ke pasar. Karena keterbatasan fisik dan tenaga, inilah cara yang dapat ia lakukan untuk menopang hidup sambil beramal di sisa hidupnya. Dari hasil kotak amal tersebut sebagian ia sisihkan untuk pembangunan Masjid Syekh Amrullah yang merupakan peninggalan kakek Buya Hamka, borderlands dengan tempat tingga sang nenek.

Sebagian lagi ia gunakan untuk penyambung hidup bersama hewan peliharaan, teman setia dalam hidupnya.

Nenek Imah sudah menjalani profesi ini kurang lebih 12 tahun. Mungkin inilah rencana indah langit, Allah mengambil orang yang disayang dan dicintainya namun selalu merangkulnya dengan rahmat dan kedamaian hidup. Pahit, manis, suka, dan dukanya tentu telah banyak ia rasakan.

Sudah banyak peristiwa menyenangkan, mengharukan, menyedihkan bahkan hujatan dari manusia lain yang ia terima, tak jarang ia pingsan ditengah pasar dikarenakan kondisi fisik dan tenaga yang semakin melemah, berdesak-desakkan ketika ditengah pasar. Ada yang acuh saja ketika nenek Imah menjulurkan kotaknya, ada yang mengajak nenek Imah bersenda gurau dan masih banyak lagi. Semua kepahitan seolah terasa sangat manis karena ia selalu bersyukur di setiap langkah kecilnya.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Doa sekaligus semboyan Nenek Imah ketika menjalankan kotak amal ialah “Murah rasaki, batambah anak, sehatkan juo sakeluarga, dapek anak kamba, dilindungi dek Allah yang kuaso,” begitulah kira-kira ungkapannya.

Meskipun berkerabat dekat dengan Hamka tak membuat kehidupan nenek Imah seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Malang sekali nasibnya karna tak banyak yang tahu asal usulnya bahkan jarang yang peduli. Walaupun sebenarnya nenek Imah memiliki saudara tiri yang saat ini diketahui tinggal menetap di ibu kota namun sama halnya dengan ungkapan “No One Cares Until You Die.”

Dari kisah nenek Imah kita belajar bahwa kebahagiaan hidup bukan tentang kemewahan atau materi melainkan rasa syukur atas apa yang kita peroleh untuk hidup orang banyak. Itulah sedikit motivasi hidup dari nenek Halimah. (*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB