Beberapa hari sebelum lebaran, kampung sudah meriah. Perantau banyak yang pulang, dari se antero negeri yang luas ini. Pulang dengan gaya dan kaya masing-masing. Pulang bujang atau pulang bersama anak istri.
Ini kisah yang pulang bujang:
Sore, sehabis mandi. Semua coga-coga, apalagi anak rantau. Di lapau-lapau, di simpang-simpang, bercerita apa saja. Juga tentang, “babinilah lai, samak utak den mancaliak ang.”
Tubo kawan-kawan itu, mengena. Di rantau berhasil tapi kalua pergi nanti masih sendirian, tak enak rasanya.
Banyak anak gadis yang manis-manis melintas-lintas di jalan. Salah satunya bunga desa, anak Tek Minar. Sudah tamat SMA, tak kuliah sebab, malas saja dia kuliah. Sudah patut dapat junjungan.
Anak Tek Minar, jadi rebutan pemuda kampung, rantau atau bukan. Maka pemuda-pemuda pun berebut di suasana hari raya itu. Silih berganti saja pergi berhari raya ke rumahnya. Datang berombongan, dua atau lima orang.
Siapa yang mendapat? Si Cap!
Si Cap ini memang elok laku. Dia ganteng pula, apalagi di kampung pakai kacamata hitam pula. Maka sehabis lebaran mereka baralek, lalu pergi ke rantau. Berdua, diantar sampai ke BIM, naik pesawat menjelang senja, tiba di Jakarta, malam sudah. Langsung ke rumah kontrakan Uda di dekat Salemba. Setelah itu, ya sudah.
Tak hanya si Cap. Si Ujang Mudiak Labuah juga dapat istri, bakonya, yang tamat SMA pula tapi kemarin itu sudah merantau ke Selat Panjang. Kini dengan suaminya ia pergi pula ke rantau. Ke Batam. Dekat dari Tanjung Pinang.
Nah, Anda bagaimana? (nrs)
















