Pernah dengar kisah, anak di rantau? Berpilin jantung hati orang tua dibuatnya, jika lebaran si anak tak pulang. Juga tidak kirim uang. Dulu uang dikirim dengan wesel. Jika Pak Pos telah datang, rasa akan dijujungnya bumi oleh ibumu. Uang mu itu ia ambil ke kantor pos, memakai kartu namanya C-7. Atau ditolong oleh walinagari. Belakangan, kirim uang dengan bank.
Yang manapun zamanmu, rantau adalah sembilu, sekaligus dawai dendang dangdut kehidupan.
Makanya kalua Anda sedang di rantau dan orang tua di kampung, pulanglah. Kini berkirim SMS segampang menguap saja. Ikuti dengan berkirim uang. Jika pulang, maka pulanglah. Jika banyak uang, kirim dulu uang “pendahuluan,” biar ibundamu membuatkan masakan kesukaanmu. Sambil membuatnya, ibumu akan ingat, betapa cepak-cepongmu waktu kecil saat menyantap makanan itu. Pedusi atau Anda laki-laki, terserah.
Kalau Anda perantau sejati, jangan sampai biarkan tetangga bertanya, ‘Ada si Cap Pulang Rayo Kini Tek?” Kalau kau pulang, maka ibumu akan menjawab empat kali. Jika tidak, dia akan menunduk saja, “Lun jelas kabar lagi Ros,” kata ibumu. Ia akan bergegas naik. Tahu apa yang ia lakukan? Ujung selendangnya basah oleh air mata
Dan kau pun pulang dengan kapal terbang atau bus, sendirian atau pulang basamo. Banyak beban di pundakmu.
Bukan ibu dan ayahmu saja, tapi kawan dan dunsanak-dunsanak semua. Juga masjid, surau, bola kaki, net volley dan sebagainya. Juga dirimu sendiri, harus segala baru. Kau hutang di rantau beli kontan, itu urusanmu di rantau. Urusanmu di kampung, membuat orangtuamu bangga.
Maka lebaran ini pulang atau tidak? (nrs)
















