Trending | News | Daerah | SemenPadangFC

Opini

Ketika Perempuan Minangkabau Jadi Pengemis


Refleksi Hari Perempuan se Dunia

Dibaca : 866

 

Oleh : Sarah Muthia Fatmi
Mahasiswa Sastra Minangkabau, FIB, Universitas Andalas

 

Menyambut momentum Hari Perempuan Sedunia yang termasuk ke dalam hari besar di seluruh penjuru dunia, yaitu bertepatan pada 8 Maret, sudah seharusnya kita membahas dan memikirkan tentang nasib perempuan saat ini.

Perayaan Hari Perempuan Sedunia ini bukanlah sebuah momen yang baru saja dilakukan, tetapi sudah dimeriahkan sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Mengingat sejarah awal ditetapkannya sebagai Hari Perempuan Sedunia ini, yaitu ketika ada 140 orang perempuan tewas pada sebuah peristiwa mengenaska di Pabrik Triangle Shirtwaist di New York yang terbakar pada tahun 1911. Kemudian kejadian itu mengundang aksi damai, namun pemerintah Amerika menyambut keras aksi tersebut.

Oleh peristiwa itulah, Hari wanita Sedunia ini sempat menghilang sebelum bangkitnya feminisme pada tahun 1960. Hingga sampai akhirnya, sejak tahun 1975 Hari Perempuan Sedunia kembali diperingati oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk yang pertama kalinya sejak menghilang tersebut.
Feminisme tersebut ialah sebuah gerakan perempuan yang dilakukan untuk memperjuangkan hak-hak, memperjuangkan kedukukan, serta memperjuangkan persamaan gender. Di mana memperjuangkan persamaan gender ini merupakan suatu usaha kaum perempuan untuk menyetarakannya dengan laki-laki, sehingga tidak ada lagi perbeedaan derajat, perbedaan kedudukan, maupun perbedaan hak-hak antar keduanya. Sehingga kaum wanita juga dapat mengembangkan kemampuannya, baik dalam bidang, pendidikan, ekonomi, sosial, maupun politik.

Namun jika ditinjau dari realitanya, kini banyak sekali perempuan yang mengalami ketertindasan terutama di bidang sosial dan ekonomi. Sesuai dengan data yang diungkap oleh BPS, yaitu hingga tahun 2011, terdapat sebanyak 5,90% perempuan Indonesia mengalami rawan sosial ekonomi di daerah perkotaan dan 12,03 di daerah perdesaan. Dari data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kaum perempuan sangat rentan sekali diterpa oleh kemiskinan.

Berbicara masalah kemiskinan ini sudah hampir merata di seluruh Indonesia, salah satu yang rawan yaitu perempuan Minangkabau di Sumatera Barat. Selain menjadi wanita karir, seperti menjadi guru, dosen, tenaga medis, polisi wanita, kepala sekolah, bahkan menjadi pejabat. kaum perempuan minang cendurung tidak terlalu bisa beradaptasi terhadap ketegangan sosial ekonominya. Banyak dari perempuan Minang yang tidak mendapkan pekerjaan yang layak, sehingga harus menjadi pedangan jalanan, pemulung dan bahkan pengemis.

Menjadi pengemis inilah salah satu pekerjaan yang sangat buruk pada perempuan Minang saat ini. Ia harus menampung dan meminta-minta demi sesuap nasi kepada orang yang kasihan padanya. Namun ternyata tidak semua orang yang punya rasa iba, banyak diantara orang-orang yang tidak suka pada pengemis, bahkan ada yang sampai membentak dan mengusir paksa pengemis itu karena merasa terganggu dengan kedatangannya.

Biasanya perempuan-perempuan yang mengemis ini dapat kita temui di berbagai tempat, seperti POM bensin, lampu merah, rumah warga, pasar, bahkan masuk ke lingkungan kampus. Orang yang mengemis ini mulai dari yang masih kuat berjalan sampai yang hanya mampu duduk menanti belas kasihan atau kepedulian orang terhadap nasibnya. Sedangkan orang yang mampu berjalan tersebut kerap sekali meminta dengan paksa, bahkan tidak akan pergi sebelum orang yang ditujunya memberikan sedekah untuknya. Hal inilah yang membuat sebagian orang membenci pengemis tersebut.

Perempuan pengemis itu disebabkan oleh beberapa hal, seperti; yang pertama, untuk mencukupi kebutuhan dirinya sendiri yang semakin meningkat, atau biaya hidup berbanding terbalik dengan pendapatan. Tentu, kebutuhannya tidaklah sedikit, sehingga harus banting tulang sebagai penyambung hidup dari hari ke hari.

Yang kedua, yaitu karena nikah dini. menikah diusia yang terlalu dini ini dapat membuatnya menjadi terlantar, karena seharusnya pada usia dini tersebut ia harus mendapatkan pendidikan yang bagus untuk mempersiapkan masa depannya nanti, namun ketika menikah, haknya akan direnggut untuk melayani suami dan bertugas selayaknya istri.

Penyebab ketiga, yaitu karena banyak dari perempuan sekarang yang terlalu menggantungkan hidup kepada orang lain, misalnya menompang hidup kepada suami. Pada keadaan ini, jika perempuan kehilangan suaminya tersebut maka ia akan kesulitan bahkan sangat susah untuk keluar dari ruang kemiskinan, baik karena cerai maupun meninggal dunia.

Jika dipandang dari kasus perceraian, laki-laki tidak akan sesulit perempuan, laki-laki tersebut bisa saja terlepas dari tanggung jawab. Sedangkan perempuan, ia berada pada tanggung jawab yang ganda, baik itu mengurus dirinya sendiri, mengurus anak, dan bahkan harus menjadi tulang punggung keluarganya, apalagi jika suaminya meninggal dunia tentu nasibnya menjadi sangat buruk.

Padahal jika bertumpu pada garis adat Minangkabau itu sendiri, perempuan ini tidak akan tertindas sampai hidup susah payah seperti menjadi pengemis tersebut. Karena di Minangkabau ini telah mengatur tatanan adatnya sebaik mungkin untuk perempuan, termasuk memuliakan perempuan. Hal ini tampak pada sistem kekerabatan yang dianut oleh adat Minangkabau, yaitu memakai sistem matrilenial yang artinya bertumpu pada garis keturunan ibu.

Berdasarkan sistem matrilineal tersebut, sejatinya perempuan Minang itu adalah Bundo Kanduang yang memiliki posisi, peran, dan fungsi yang sangat penting. Seperti yang terdapat pada bunyi gurindam yang berbunyi Bundo Kanduang limpapeh rumah nan gadang. Amban puruak pegangan kunci. Amban puruak aluang bunian. Pusek jalo kumpulan tali. Hiasan dalam nagari.

Artinya perempuan Minangkabau itu berfungsi sebagai penyangga rumah gadang, penjaga harta pustaka, kunci penyelesaian masalah, pemersatu perbedaan, dan sebagai lambang moralitas dari masyarakat Minangkabau.

Untuk itu, sebagai adat yang memuliakan kaum perempuan, sudah seharusnya kita memikirkan nasib perempuan-perempuan itu dan diharapkan dapat meminimalisir pekerjaannya jadi pengemis. Sebab, kita hidup di ranah yang menjunjung tinggi rasa persaudaraan. Jangan sampai kita membiarkan saudara-saudara kita mati dalam kemiskinan. Karena sejatinya, perempuan itu makhluk yang lemah, ia butuh dipedulikan, disayangi, dihormati, serta perlu dilindungi. Namun, walaupun dipandang sebagai makhluk yang lemah, hendaknya perempuan-perempuan Minangkabau tetap memperjuangkan hak dan kedudukannya.

Perempuan Minangkabau harus menjadi perempuan yang kuat dan hebat, sehingga mampu bergerak menerobas kesenjangan agar mendapat kaedilan serta kesetaraan, namun tetap berada pada jalan yang semestinya dan sesuai dengan norma-norma yang berlaku di Minangkabau. Sehingga harkat dan martabat perempuan Minangkabau akan tetap terjaga.(*)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top