Budaya

Keteladanan Dan Budaya Malu Anak Didik

Dibaca : 122

Agam, Prokabar – Hampir setiap ruang publik dan maupun diskusi secara personal, kegelisahan cukup dirasakan setiap individu orang tua. Guru pendidik hingga para tokoh masyarakat pun merasakannya.

Terjadinya krisis moral dan malu, berlangsung pada saat ini. Begitu pula dari Budayawan Minangkabau, Angku Yus Datuk Parpatih. Tokoh Adat berkarya melalui Gurindam Pitaruah Ayah tersebar luas melalui rekaman kaset dan video.

Angku Yus Datuak Parpatih dalam setiap kesempatan mengutarakan kegelisahannya itu. Sangat merasakan kekuatiran akan hilangnya jati diri anak bangsa, terutama generasi Minangkabau 20 tahun yang akan datang. Realitanya sudah banyak prilaku dan nilai tidak sesuai lagi dengan kearifan budaya luhurnya. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Sebagian besar anak-anak muda saat ini, bahkan pada Ninik Mamak, tidak lagi memahami makna dan hakikat budaya mereka sendiri. Dan ini menjadi problematika masyarakat Minang.

Kondisi ini membuat Tetua Adat Rang Caniago Sungai Batang itu, harus turun gunung. Sering memberikan konsultasi adat ke berbagai daerah. Sering diundang dan dijemput sekelompok masyarakat, untuk berkonsultasi terkait beragam persoalan adat Minangkabau. Baik di ranah maupun di perantauan.

Baru-baru ini, beliau mendapat undangan ke Provinsi Riau. Berdiskusi dengan ratusan perantau dan Ninik Mamak yang ada di sana. Persoalan tidak hanya generasi penerus kedepannya. Seputar harta pusako tinggi dan pusako randah, juga berkenaan dengan makna atau hakikat bahasa kias dalam pribahasa Minangkabau. Mereka di perantauan maupun di kampung halaman sendiri sudah banyak yang tidak memahami.

Krisis moral dan rasa malu sudah menipis. Tidak setipis telinga yang mendapat sindiran. Rasa malu dan sopan santun memudar akibat gaya hidup melenceng.

Perubahan memang sesuatu keharusan, yang harus dilakukan. Namun bukan perubahan yang malah memperburuk keadaan. Melainkan perubahan yang semakin lebih baik diharapkan.

Generasi muda sebagai penerus kelestarian budaya, hendaknya mendapatkan bekal dan pembinaan yang maksimal. Akan tetapi itu tidak terjadi.

Hampir semua kelompok suku yang ada di Minangkabau terputus kaderisasinya. Diakibatkan prilaku individual tidak terbendung dalam kehidupan hariannya. Pengaruh perkembangan zaman tidak dapat dipungkiri. Hanya kita saja yang tidak mampu mengkanter dan beradaptasi.

Halaman : 1 2 3

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top