Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Kesejahteraan Petani Sumbar Lima Terendah di Sumatera, Ini Masalahnya

Dibaca : 440

Padang, Prokabar – Kontribusi sektor pertanian pada Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) ternyata tidak berbanding lurus dengan nasib petani di Sumatera Barat.

Setiap tahun sektor pertanian merupakan penyumbang tertinggi dalam pertumbuhan ekonomi daerah. Sementara, tingkat kesejahteraan petani di Ranah Minang berada di posisi ke lima terendah di Sumatera.

“Meski begitu, kesejahteraan petani masih belum optimal. Ini tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang mengalami penurunan,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Padang, Wahyu Purnama pada Prokabar di Padang, Senin (18/11).

Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), NTP Sumbar pada Oktober 2019 tercatat 95,87. Angka itu naik 0,02 persen dibanding bulan sebelumnya yang hanya 95,86.

Kendati demikian, harga yang diterima petani masih lebih rendah dari harga yang dibayar. Pada triwulan II, indeks harga yang diterima petani 129,11. Sedangkan indeks harga yang dibayarkan 135,63.

Artinya, lanjut dia, harga jual hasil produk pertanian yang diterima petani jauh lebih rendah dari biaya kebutuhan hidup sehari-hari yang mereka keluarkan.

“Ini termasuk untuk biaya belanja modal yang mereka keluarkan untuk kebutuhan bercocok tanam,” terangnya.

Penurunan itu, ulasnya, terjadi akibat tiga sub-sektor pertanian mengalami penurunan. Ketiganya antara lain sub-sektor tanaman pangan, perikanan dan perkebunan rakyat.

Bank Indonesia mencatat, dari 10 provinsi di Simatera NTP tetinggi adalah Bandar lambung, 102,09. Kepri, 98,52, Jambi 98,51, Sumatera Utara, 97,89.

Kemudian disusul Sumbar 95,21, Riau 94,7. Bengkulu, 93,12, Aceh 91,47 dan Sumatera Selatan 91,38. (tds)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top