Budaya

Keren, Pemerintah Upayakan Tradisi Rakik Maninjau Jadi Iven Nasional

Foto : Kurniawan Mas’ud/Int

Agam, Prokabar – Bupati Agam, Indra Catri sangat senang adanya wacana Tradisi Rakik-rakik Maninjau dijadikan Ivent Wisata Nasional yang akan didaftarkan ke Kementerian Pariwisata RI oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Barat. Hal tersebut dijawabnya kepada Prokabar.com usai mengikuti kegiatan Penilaian Kader Posyandu Puskesmas Pembantu Batuang Panjang, Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, kemarin  (30/7).

Menurutnya, pengusulan tersebut malah sudah lama dihendaki agar masyarakat dapat melaksanakan Kegiatan Tradisi Rakik-rakik secara serentak di 8 pantai Danau Maninjau tersebut.

“Danau Maninjau terkenal dengan Legenda Bujang Sambilan sesuai garis pantai yang ada di sana. 1 diantaranya tidak ada pantai. 8 pantai ke semua itu punya rakit berupa kapal hias yang indah, dilaksanakan pada malam takbiran,” kata Indra Catri.

Kita mengharapkan lanjutnya, rakik-rakik tersebut dilombakan dan diajukan ke Pemerintah Daerah. “Dan saya sudah sediakan hadiah untuk lomba itu, akan tetapi hingga saat ini belum terlaksana,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Oni Yulfian menyambut baik bila memang masyarakat Danau Maninjau berkenan mengusulkan Tradisi Rakik-rakik menjadi Ivent Nasional. “Bila memenuhi syarat dan melengkapi foto dan video dokumen pendukung, kita akan ajukan ke Kementerian Pariwisata RI. Saya rasa tradisi unik ini sangat potensial dan menarik dijadikan Ivent Wisata yang terdata tetap di Sumatra Barat,” kata Oni.

Kepala Dinas Pariwisata Agam, Jetson menyebutkan peluang tersebut sudah dibuka lebar Bupati Agam. Tinggal bagaimana mematangkan pelaksanaannya dengan masyarakat.

“Kita harus lebih dulu mempersiapkan diri sebelum dipromosikan secara besar-besaran. Karena itu sudah bersifat nasional dan internasional,” tegasnya.

Semakin banyak yang menggerakannya lanjut Kadis, akan semakin lebih bagus sehingga keputusan politik secara nasional dapat memudahkan pencapaian.

Tradisi Rakik-rakik disertai wacana pengembangan Danau Maninjau menjadi Danau Konservasi, sangat kuat dilakukan perantau di Jakarta sana. Hal tersebut cukup positif terutama danau yang sudah tercemar dapat kembali membaik karena mendukung Save Maninjau.

Pada konsepnya, zonasi kawasan konservasi perairan danau dilakukan sebagai upaya penataan kawasan berdasarkan fungsi mempertimbagkan potensi sumbar daya alam, daya dukung dan proses ekologi yang terjadi. Pemetaan berdasarkan zona inti minimal 2 persen dari danau, zona perikanan berkelanjutan, zona pemanfaatan dan zona lainnya.

Artinya, Danau Maninjau dijadikan Danau Konservasi berdampak positif pembenahan kondisi danau yang telah tercemar sekaligus mengembalikan danau sebagai tujuan wisata mancanegara seperti dulu kala.

Kondisi alam dan pola manusia hidup sehat dan bersih di salingka danau juga semakin tercipta nantinya. Masyarakat akan terfokus pula pada pertanian yang menanam buah-buahan serta sayur sayuran. Membuat genarasi sehat dan hebat.

Sapta Pesona dengan tujuh unsur keamanan, ketertipan, kebersihan, kesejukan, keindahan, keramahtamahan dan kenangan dapat tercapai dengan baik.

Di sisi lain, Walinagari Maninjau, Alfian sangat mendukung bila Pemerintah Daerah bersama Perantau menjadikan Tradisi Rakik-rakik sebagai Ivent Wisata Nasional san Internasional. “Sejak dahulu, Danau Maninjau dikunjungi Tourism berbagai Mancanegar. Bahkan sampai hari ini turis dari Eropa, Amerika, dan Asia selalu ramai ke sini. Hal tersebut membuktikan mereka merasa aman dan nyaman ke sini. Dan itu menunjukan masyarakat sudah siap dengan terbuka menerima kunjungan turis dari mana saja,” kata Alfian.

Ia juga telah merencanakan program Ivent Tradisi Rakik-rakik selain malam takbiran. Bersama masyarakat membuat kegiatan di bulan Muharam.

“Semoga semua pihak dapat mendukung program tersebut sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat melalui Ivent Pariwisata Go Internasional ini nantinya,” tutup Walinagari Maninjau tersebut. (rud)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top