Jakarta, Prokabar – Asupan makanan bergizi sangat diperlukan bagi ibu hamil dan menyusui, serta anak usia dini. Salah satunya daun kelor yang memiliki tinggi kandungan vitamin dan kalsium.
Hal tersebut disampaikan Kepala BKKBN RI, Hasto Wardoyo di acara ‘Sosialisasi Percepatan Penurunan Stunting dan Launching Pemanfaatan Kelor untuk Stunting di Sulawesi Tengah’, Kamis (3/11).
“Kami ingin mendorong kelor sebagai produk lokal untuk bisa menjadi pangan pendamping nasional. Kita ketahui kelor memiliki banyak kandungan yang lebih daripada susu dan sayuran lainnya,” jelas Hasto Wardoyo dalam siaran pers yang diterima Prokabar.com.
Saat ini menurutnya, angka stunting di Indonesia masih berada di angka 24 persen. Sedangkan Kota Palu dibawah presentase nasional, 23 persen. Inilah yang kemudian menjadi pertimbangan BKKBN menekan angka stunting dengan pendekatan kepada masyarakat.
“Dengan mengkonsumsi daun kelor, juga mampu mencegah stunting. Oleh sebab itu, dianjurkan dari hamil hingga menyusui para ibu serta baduta mengkonsumsi daun kelor,” tambahnya lagi.
Hasto berharap target Presiden Jokowi tentang penurunan stunting 14 persen akan tercapai. Pengenalan asupan makanan seperti daun Kelor harus dikenalkan kepada masyarakat.
Senada dengan Kepala BKKBN, anggota Komisi IX DPRD RI, Edi Wuryanto juga mendorong masyarakat agar mengkonsumsi kelor. Karena menurutnya kelor sangat baik untuk kesehatan, terlebih untuk pencegahan stunting.
Ia mengaku tidak banyak wilayah yang memiliki komunitas budidaya kelor sebagus Palu. Pihaknya ingin mendorong pangan lokal menjadi suplemen yang bisa diolah untuk mencegah stunting.
“Saya kira ibu hamil dan menyusui serta balita yang mengkonsumsi sayur kelor bening setiap hari itu sudah meningkatkan asupan gizi,” pungkasnya. (beb)

















