Kemiskinan di Tengah Kemakmuran Pemimpin

Penulis -

Sabtu, 2 Mei 2020 - 04:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Abdullah Khusairi

Bantuan kepada korban terdampak pandemi Covid-19 mulai bergulir dari berbagai kalangan yang terpanggil untuk beramal di bulan suci Ramadan 1441 H ini. Terutama kalangan berada, yang saban tahun ketika bulan penuh berkah ini tiba, mereka memang sudah berbagi. Mengamalkan perintah Allah Swt untuk bersedeqah dari harta yang dimiliki.

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (QS.51:19). Sebaik-baik bersedeqah dianjurkan untuk tak perlu tahu banyak orang. Rasulullah menyampaikan tentang orang yang dinaungi Allah Swt. salah satunya bersedeqah sembunyi-sembunyi.

Kini hampir sulit mencari yang sembunyi-sembunyi. Jangankan sedeqah, hal-hal sepele saja dikabarkan kepada publik dengan mudah. Sudah menjadi budaya baru di era informasi ini, semua orang hendak eksis dengan informasi yang dimilikinya. Cekrek! langsung upload. Agaknya di musim bagi membagi ini, penting mengingatkan agar sembunyi-sembunyi dalam bersedeqah.

Berbagi dalam suasana beramal di bulan suci adalah kegiatan yang sudah menjadi budaya di tengah kehidupan sosial. Ini modal sosial yang harus terpelihara tanpa bermaksud memelihara kemiskinan. Menekan angka kemiskinan adalah tugas pemerintah. Pemerintah itu dijabat oleh pemimpin-pemimpin beserta perangkatnya, ditetapkan melalui kontrak sosial sesuai mekanisme yang sudah disepakati dalam berbangsa dan bernegara.

Bagaimana kalau pemerintah memberi bantuan? Emha Ainun Nadjib dengan gaya satire menyatakan itu pekerjaan yang terbalik. Jika kita mengusung demokrasi maka kedaulatan ada di tangan rakyat; oleh rakyat, untuk rakyat, dari rakyat. Kemudian dimandatkan kepada mereka yang mendapatkannya. Ketika kekuasaan itu diberikan, maka amanat itu harus dijalankan. Di sinilah mulai ada persoalan, menjalankan mandat dan amanat tidak semudah membalik telapak tangan, semudah mengucapkan pada pidato kampanye dan sambutan waktu dilantik.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Pemerintah harus menjalankan amanat untuk mensejahterakan dan memakmurkan rakyat yang telah memberi mandat. Melalui kebijakan-kebijakan, kerja-kerja kolektif pemerintahan, diharapkan dapat memenuhi hajat hidup rakyat, keamanan, kesejahteraan, kemakmuran, dst. Sayangnya, itu belum terpenuhi secara maksimal. Sungguhpun beberapa aspek telah dapat dipenuhi.

Logika Emha

Kini di masa pandemi melanda, jalan yang ditempuh pemerintah, menyiapkan dana Rp 110 triliun untuk bantuan sosial. Pemerintah membantu rakyat. Rakyat yang telah memberi mandat. Sampai di sini, satire Emha di atas tadi menjadi terasa lucu dan menggemaskan. Tetapi begitulah kenyataannya, idealitas dengan realitas selalu tidak ingin sama.

Pemerintah menyiapkan total anggaran Rp405,1 triliun penanggulangan pandemi Covid-19 ini. Hiruk pikuk mekanisme penyaluran masih terdengar, validitas data masih gaduh, tetapi kepastian bantuan itu tiba memang sudah ada. Ini soal waktu saja.

Mengacu logika Emha, Pemerintah memberi bantuan bukanlah kewajiban melainkan tugas yang diamanatkan. Jadi tidak tepat bernama bantuan, tetapi jaminan penyelamatan sosial, yang dituju untuk mereka yang tak mendapatkan peran, kesempatan kerja, pengangguran, karena ketidakberdayaan pemerintah memberikannya.

Dana sosial, baik pada masa pandemi maupun pada hari biasa, bila hendak sedikit mencerdaskan anak bangsa, membangun mentalitas rakyat, hendaknya pemerintah tak menggunakan diksi, bantuan. Apalagi bila bantuan-bantuan dalam bentuk sporadis, tidak pernah akan menyelesaikan masalah kemiskinan. Kemiskinan itu menunjukkan ketidakadilan pemerintah dalam pemerataan pembangunan. Kemiskinan struktural dampak dari sistemik pembangunan.

Korban Pandemi

Semua orang menjadi korban pandemi, bedanya ada yang sangat gawat, cukup gawat, tidak gawat, dst. Begitu banyak saudara kita yang berada di level terdampak sangat gawat dan tidak gawat. Datanya satu institusi negara dengan yang lain bisa beda, itulah yang divalidasi membuat kelambanan bantuan tiba kepada yang berhak.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Sebelum pandemi ini tiba, kemiskinan itu ada. Angka dan presentasenya selalu dikemukakan secara kontinyu oleh kepala daerah. Biasanya akan cepat diberitakan oleh pihak pemerintah jika mampu menekan angka kemiskinan, sebagai sebuah prestasi. Sebaliknya akan cepat diberitakan oleh media jika bertahan, atau terjun bebas. Semua itu berhubungkait dengan prestasi kepemimpinan, daerah, juga politik kekuasaan yang berbasis citra.

Kini angka kemiskinan itu tentu sedang terjun bebas. Membengkak. Mereka berhak mendapat perhatian cepat. Semoga sampailah ke tangan mereka, dana sosial yang digulirkan itu. Selain dari pemerintah, juga ada bantuan sosial dari para politisi, para pengusaha, badan usaha milik negara, semuanya ikut andil agar tak ada yang kelaparan.

Pada hari biasa, gerakan ini ada juga tetapi tidak signifikan. Teman-teman aktivis filantropi yang aktif membantu mereka yang berada di garis terdepan. Pemerintah sibuk dengan menjalankan program pembangunan, termasuk memperhatikan, membantu, para usaha kecil mikro dan koperasi. Sayangnya, kemiskinan selalu ada. Kemiskinan sepertinya terpelihara, tidak pernah bisa diselesaikan pihak yang diamanatkan membuat terhapusnya kemiskinan.

Kemiskinan akhirnya menjadi komoditas, bukan dibantu agar mereka tak lagi miskin. Seandainya ada cara yang mutakhir agar kemiskinan ini bisa berakhir, harusnya segera dipakai. Kemiskinan berhubungkait dengan kesempatan kerja, tingkat pendidikan, juga kebijakan pemimpin dalam memberi ruang dan kesempatan bagi siapapun untuk mendapat peran. Pada konteks yang terakhir ini, nyatanya tidak mudah. Juga hampir tak ada pemimpin yang mengakuinya sebab bisa dianggap gagal. Hal ini aib dalam politik pencitraan.

Adapun kini, kemiskinan seperti dirayakan dengan bantuan-bantuan, walau tidak menyelesaikan masalah tetapi paling tidak bisa membuat saudara-saudara kita bisa bertahan. Hanya saja, memberikan bantuan atas kenderaan harus dianggap penghinaan terhadap kemanusiaan dan sistem demokrasi, yang secara idealnya rakyat berdaulat, rakyat yang kaya, rakyat yang mengamanatkan para pemangku kebijakan publik agar mengatur dengan baik sebuah tatanan sosial ini.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Pemimpin kita terjebak dalam laku citra sebagai pemurah, padahal kontrak sosialnya bukan begitu. Pemimpin kita terjebak dalam laku menghibur, bukan mencari solusi. Membiarkan kemiskinan dirayakan, mengunjungi orang miskin lalu memberi bantuan, sekali lagi, itu tetap tidak menyelesaikan masalah kemiskinan. Justru membuat mental miskin menjadi tumbuh. Tidak mendidik.

Adakah pengandaian paling mungkin, misalnya jika semua orang bisa kaya? Bisa dan ada. Jika pemimpinnya amanah, mampu dan kuat mendorong terbukanya kesempatan bagi semua orang yang dipimpinnya mengambil peran, dapat pekerjaan, pendapatan tetap, di atas standar kemiskinan, kemiskinan bisa ditekan hingga ke angka paling kecil. Itu bisa terjadi jika pemimpin menyadari setiap kepemimpinan diminta pertanggungjawaban setelah mati.

Jadi, ini tanggung jawab yang berhubungan dengan iman, ketika diberikan kekuasaan mesti dijalankan jika tak mau mendapat adzab yang pedih dari Allah Swt. Menjadi pemimpin tidaklah selesai dengan memberi bantuan, tetapi lebih dari itu, mampu membuka jalan, mengangkat harkat martabat kaum papa menjadi hidup lebih sejahtera.

Bantuan kepada mereka yang terdampak harus tetap dihargai sebagai kewajiban pemimpin tetapi bukan kesuksesan dalam memimpin. Sebab, jauh lebih dari itu, tanggung jawab seorang pemimpin agar memastikan hajat hidup orang banyak, “kesejahteraan dan kemakmuran” yang diamanatkan dalam perundang-undangan.

Semoga tas, pakaian, rumah, yang mewah-mewah serta tabungan para pemimpin menjadi saksi dan bisa membuat malu jika tidak total menjalankan amanat. Wallahua’lambishshawab. *

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB