Keluhan Ninik Mamak Dicatat Jenderal

Penulis -

Rabu, 28 Oktober 2020 - 22:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar – Ninik mamak kita di bawah mengurus segala soal, tapi tak ada anggaran. Ban kalau tak ada angin, mobil tak bisa jalan. Itulah sebabnya, jenderal mencatat semua masukan dan keluhan tersebut.

Adalah Kerapatan Adat Nagari (KAN) di Sumatera Barat yag memikul beban adat istiadat Minangkabau. Nagari punya banyak urusan. Kalau Pak Wali, ada anggaran, sedang KAN sayuik-sayuik sampai. Suatuketika ada, saat lai tidak.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Basis atau pondasi pelaksanaan adat tentulah di nagari. Ada nagari yang kaya, ada yang miskin. Sumar daya alam tak ada. Yang semacam ini, kata Jenderal perlu mendapat perhtian khusus. Ini namanya kebijaksanaan kepala daerah.
Jika ninik mamak pemangku adat bisa bertemu dalam rapat sekali sebulan, maka masalah di nagari bisa diraih.

Rapat bisa dilaksanakan jika ada yang dibahas. Membahas saja tanpa ada anggaran, bisa tapi lambek jalannya.
Nagari akan elok kalau posisi pemeritah dan pemangku adat seimbang. Demikian juga ulama dan cadiak pandai. Penghormatan yang diberikan juga seimbang.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Ajaran adat menyebut, “kato pangulu manyalasaikan, mandareh kato dubalang. Adaik kok kurang takuasoi, dunia menjadi takupalang.

Untuk niat baik itulah KAN harus mendapat perhatian. Tidak saja dari sengi anggaran tapi juga dari pelatihan-pelatihan. Bukankah adat dipakai baru, kain dipakai usang.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Jenderal bermaksud membahas secara terperinci apa saja kebutuhan KAN di nagari. Ini penting dibicarakan, karena untuk kuatnya sebagai nagari, KAN memang harus bekerja maksimal untuk warga komunalnya.

Dalam kenyataan banyak urusan mesti singgah dulu ke KAN, baru kemudian pemerintah nagari. Kesadaran berbudaya Minang juga bisa tumbuh jika KAN telah memainkan perannya di desa adat. (malin kapalo koto)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB