Oleh; Aulia Septriasa Putri
Prodi Bahasa dan Sastra Arab
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Menjadi mahasiswa tidak segampang yang orang pikirkan. Bahkan banyak yang mengira bahwa kuliah itu kelihatan menyenangkan tanpa beban. Seperti kegiatan kuliah itu cuman beberapa jam, sesudah kuliah bisa nongkrong sepuasnya dengan teman-teman lain dengan waktu yang lama, atau mungkin bisa lanjut tidur, bahkan bebas memilih kegiatan yang disukai. Tapi dibalık itu semua tanpa kita sadari banyak yang diam-diam berjuang keras untuk melawan rasa capek yang tidak dapat diungkapkan secara lisan maupun melalui kata-kala saja. Bukan capek secara fisik, tetapi capek secara mental juga. Kelelahan mental ini bukanlah capek secara fisik. Bukan karena banyak aktivitas juga, tapi tidak lain dikarenakan pıkıran dan hati rasanya penuh terus. Seperti banyak pikiran, banyak nahan, begitu juga dengan tuntutan. Tugas yang menumpuk, deadline yang datang secara bersamaan, belum lagi dengan kegiatan yang datang dari organisasi yang kita ikuti, begitu juga dengan tuntutan keluarga, sampai pikiran bagaımana untuk kedepannya, tidak sadar itu semua membuat pikiran semakin penuh.
Menurut World Health Organization (WHO, 2019) kesehatan mental adalah kondisi dimana seseorang mampu menyadari potensinya, menghadapi tekanan hidup secara wajar, bekerja dengan cara produktif, dan berkontribusi di lingkungan sosialnya. Dan jujur saja, mahasiswa jelas masuk dalam kelompok yang mudah mengalami hal ini, dikarenakan masa kuliah adalah masa perubahan yang penuh dengan tekanan. Kalau dipikir-pikir, defenisi ini tidak jauh dari realita mahasiswa sekarang. Banyak mungkin dari kita yang terlihat baik-baik saja dari luar datang ke kelas, aktif di organisasi, tertawa bersama teman-teman tapi dalam hati berjuang mempertahankan diri sendiri. Tekanan dan ekpektasi diri dan orang sekitar, dan tuntutan untuk selalu kuat dan baik-baik saja membuat kita lupa istirahat dan jujur pada diri sendiri juga bagian dari produktivitas.
Psikologis klinis Tara Brach juga pernah menyampaikan bahwa saat tubuh dan pikiran terlalu lama berada dalam kondisi tertekan, seseorang akan cenderung kehilangan rasa aman dan terputus dari dirinya sendiri (Brach. 2018). Ini bisa terjadi pada mahasiswa yang merasa harus selalu menjadi kuat disaat keadaan sudah sangat lelah secara fisik dan juga mental. Yang lebih menyedihkannya Iagi, banyak mahasiswa yang tidak sadar mereka lagi berada di fase kelelahan mental. Dan tidak lain hal itu karena takut di gudje lemah. Sampai memaksa diri buat telap jalan. Namun malah sebaliknya bukan selesai, tapi malah memperumit keadaan. Bahwa beberapa kehilangan rasa semangat untuk melakukan hal-hal yang dulu disukai. Padahal, Setiap rasa lelah itu biasa, dan setiap orang itu juga berhak istirahat.
Untuk mengurangi kelelahan mental, kita bisa memulai dari hal-hal biasa dulu. Yang paling utama tentunya meluangkan waktu untuk diri sendiri, tidak mengekang diri terus-menerus. Dan mulai untuk memahami serta mengenali kemampuan dan batas kemampuan pribadi. Tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, asalkan tidak dengan kata menyerah. Jika sudah sampai terlalu berat, carilah orang yang bisa dipercaya berbagi cerita langkah awal yang dapat melegakan. Tidak semuanya harus bisa dihadapi sendiri, adakalanya bersama-sama. Menjadi mahasiswa tidak semudah yang dilihat. Tapi menjaga diri, termasuk juga dari bagian proses belajar. Semua orang itu berhak merasa lelah, maka begitu juga kita, berhak untuk sembuh, maka tidak ada salahnya untuk berhenti sejenak, dan memberi kesempatan pada diri sendiri untuk merasakan ketenangan.
Penulis : Opini
Editor : Nofal Wiska
















