Oleh : Vinna Melwanti
News Director caping / Direktur Pemberitaan prokabar.com
“Kekuasaan bisa membunuh dirimu, juga orang lain.” Quote ini saya buat dan diposting di FB, lalu muncullah komentar-komentar dengan korelasi yang sama. Sejak zaman lampau, para bijak sudah mengingatkan hal itu. Sewaktu-waktu, “harimau mu, akan menerkam kepalamu.”
Tentu saja ini berkorelasi dengan kasus Duren Tiga. Kasus polisi tembak polisi di rumah polisi. Sudah viral, melampaui “ketentuan viral”. Viral di atas viral. Sambung-bersambung. Terbaca oleh khalayak dan netizen bahwa Pak Jenderal FS, memiliki emosi tak terkendali. Bayarannya dengan tembakan. Peluru!
Maka, 31 orang terseret oleh ulah Sambo. Mungkin inilah yang disebut arogansi kekuasaan. Mereka masuk jurang sudah. Seorang polisi lainnya, Brigjen Krishna Murti menulis, ” Kalau naik gunung itu pijakan kaki harus kuat, jangan mengandalkan tarikan orang dari atas. Kekuatan diri sendiri yang membawa kita ke atas. ” Netizen menduga pesan ini untuk FS, mantan bawahannya, yang kini di atas pangkat Krishna.
FS jenderal otak pelaku dalam kasus penembakan Brigadir J di rumah dinas FS. Kasusnya terendus pertama kali oleh pers di Jambi, baru kemudian meruyak.
Hangat dan viral sudah kasus itu. Netizen meluncurkan bombardir di medsos. Media arus utama melakukan investigasinya masing-masing. Penguasa negeri ini pun ikut mengawal, 3 kali statemen yang jarang terjadi pada satu kasus.
Saya menulis quote, seperti di atas. Ada yang menanggapi, “kekuasaan ibarat dua mata pisau.” Yang lain: kekuasaan itu rentan seperti bambu. Juga ada yang menulis, “kekuasaan di tangan sebagai batu uji kepribadian seseorang. Kalau ingin tahu kepribadiannya, beri dia kekuasaan.” Inilah suatu pemahaman yang sama atas kasus yang melingkar dalam wilayah kekuasan di negeri ini.
Yang terbaru pengakuan FS, motif yang dipakai membela harkat martabat keluarga. Sayangnya, korelasi ini menyeret kawan dan anak buahnya ke jurang. Rantai kekuasaan bisa menarik seseorang ke atas, bisa menjatuhkannya ke dasar sumur terdalam.
Lalu, datang lagi berita mengejutkan, Bharada E mencabut kuasa hukumnya atas Olip. Itu memang haknya untuk mencabut, tapi muncul dugaan ada intervensi. Penguasa memberi lalu mencabut karena merasa tidak nyaman.
Kekuasaan memang mahligai, juga pedang tajam yang sewaktu-waktu bisa diayunkan ke arah mana saja. Pedang itu mahal. Semahal harga diri. Dan harga itu, kata FS yang terzalimi, ia lalu menangis kepada beberapa orang. Inilah yang dibeberkan oleh Mahfud MD di podcast Dedi Corbuzeir.
Jumat 8 Juli 2022 sore sampai Senin 11 Juli 2022 sore, adalah rentang penembakan J dan penjelasan yang diskenario. Tiga hari yang meruntuhkan dan bersayap-sayap. Sayap yang mengepak dalam kegelapan ruang-ruang ber-AC kantor polisi.
Sekarang apalagi? Rakyat Indonesia sudah tahu dan mereka menunggu kelanjutannya. Makin lambat atau kian bertele-tele, kian besar kecurigaan rakyat atas polisi. Yang dipertaruhkan adalah lembaga kepolisian.
Dan, Kapolri menyandang beban berat. Namanya saja Kapolri, tentu berat. Ada kasus pembunuhan dan serajut rahasia umum lainnya, seperti mafia, baking, narkoba, judi dan entah apalagi. Di sinilah kita menunggu seprofesional apa polisi kita.
Kekuasaan bukan kawan bercumbu, bukan senjata tapi amanah. Sayang banyak yang haus dan berusaha terus mendapatnya dengan menipu rakyat. Di sini di Indonesia tiap kita berjuang untuk kebaikan dan itu perlu suara bersama.
*
Penulis news director caping
















