Kejujuran di Ujung Tanduk

Penulis -

Sabtu, 26 April 2025 - 18:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Nurhafizah Alhusna

Mahasiswa UIN Imam Bonjol

 

“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan 

dengan pengalaman. Namun tidak jujur sulit diperbaiki”

(Mohammad Hatta)

 

Sedang ramai diperbincangkan di aplikasi X tentang pejuang SNBT (Seleksi Nasional Berbasis Tes) yang melakukan kecurangan dengan berbagai cara absurd. Mulai dari meletakkan kamera kecil di kancing baju, menempelkan cheat sheet di toilet kampus, bahkan yang paling absurd ada yang menempelkan kamera di kawat gigi. Kacau. Kejujuran sudah di ujung tanduk. Jika untuk masuk perguruan tinggi saja sudah menggunakan cara-cara tak terpuji, lantas bagaimana mereka bisa survive ketika sudah diterima kampus impian?

Academic Culture

Berdasarkan survei yang dilakukan KPK, ditemukan kasus menyontek sebesar 78% di sekolah, dan 98% di kampus. Angka yang luar biasa tinggi. Apakah menyontek sudah menjadi bagian dari Academic Culture di Indonesia? Iya, dan ini merupakan masalah serius.

Bagimana tidak? Sangat sering kita temui orang-orang yang melakukan kecurangan dalam menyelesaikan pendidikannya. Mulai dari sekolah sering menyontek saat ujian, malakukan kecurangan saat ikut tes perguruan tinggi, sampai melakukan joki skripsi demi lulus dengan instan. Belum lagi kasus-kasus plagiarisme sudah bukan lagi menjadi hal yang asing di lingkungan akademik. Ironi. Sekolah dan kampus yang seharusnya menjadi tempat pembentukan orang-orag dengan integritas tinggi, malah menjadi ladang kecurangan.

Budaya menyontek ini akan berdampak terhadap penurunan kualitas pelajar. Banyak orang-orang yang lulus dari perguruan tinggi tetapi tidak kompeten. Hal ini akan memiliki pengaruh buruk pada dunia kerja yang menerima lulusan yang tidak mempunyai integritas yang baik. Lalu lahirlah orang-orang yang melakukan pekerjaan dengan tidak jujur dan merugikan banyak orang. Lantas apa yang akan terjadi dengan Indonesia, jika generasinya mengalami krisis kejujuran seperti ini?

Melawan Arus Kecurangan

Sebagai masyarakat yang ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045, sudah sepatutnya kita meninggalkan budaya kecurangan. Dalam melawan arus kecurangan, diperlukan kesadaran yang tinggi dalam diri tiap individu. Kesadaran ini bisa dibentuk dengan menanamkan pendidikan karakter sejak kecil, karena pendidikan karakter akan menimbulkan tabiat yang akan dibawa individu sampai dewasa. Dengan melakukan penanaman karakter sejak dini, indivudu akan menjadi pribadi dengan integritas yang tinggi.

Selain itu, sekolah seharusnya memberikan penilaian terhadap usaha dan proseses yang dilakukan siswanya, bukan hanya kinerjanya saja. Penilaian terhadap kinerja siswa hanya akan membuat para siswa melakukan cara apa saja untuk mendapatkan hasil akhir yang baik, inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa budaya menyontek menjadi populer.

Budaya menyontek ini juga mesti mendapat tindakan tegas dari para pendidik. Harus ada sanksi tegas yang membuat para pelaku jera. Karena tindakan kecil yang dibiarkan terus-menerus akan menghasilkan tindakan besar suatu saat nanti.

Apalah artinya keberhasilan jika dilakukan dengan perbuatan yang tidak baik. Apalah artinya pencapaian jika bukan berasal dari usaha diri sendiri. Ayo berhenti melakukan kecurangan. Kita butuh lebih banyak orang-orang jujur di negeri ini, demi masa depan yang lebih cerah.

 

Penulis : Opini

Editor : Nofal Wiska

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB