Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Ke Mapattunggul Selatan, Pasaman, Mau Pula Bertukar Letak Jantung dan Hati

Dibaca : 797

Pasaman, Prokabar — Serine voorijder membelah hutan Kecamatan Mapatunggul Selatan, Minggu (23/2). Meraung-raung sampai ke anak telinga, bunyinya. Sesekali, serine voorijder ini mati. Disambut bunyi uwia-uwia yang saling sautan di pepohonan kebun karet yang luasnya sejauh mata memandang.

Di dalam mobil, Budhi Hermawan, menatap tajam jalanan yang dibelah voorijder bersama rombongan Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno dan Pemkab Pasaman. Budhi tak banyak bicara, ia sibuk mengendalikan setir mobil mengikuti jalanan yang teramat buruk saat rombongan hendak menuju lokasi bencana galodo sepekan lalu, di Jorong Pintuai, Nagari Muaro Sungai Lolo, Kecamatan Mapattunggul.

“Ini sudah mendingan jalan ke Sungai Lolo. Kalau dulu, entahlah,” kata Budhi Hermawan, Kasi di Diskominfo Pasaman saat mendampingi Kadiskominfo Willian Hutabarat dan rombongan lainnya ke Nagari Muaro Sungai Lolo.

Di lain sisi, pantauan Prokabar.com, sepanjang perjalanan dari jalan lintas provinsi, jalan menuju Kecamatan Mapattunggul Selatan benar-benar mengerikan. Ada yang sudah beraspal, ada yang belum. Lebih banyak yang belum atau rusak. Mau pula bertukar letak jantung dengan hati saat melewati jalan ini. Kalau tidak mobil bergardan dua dan mobil berangka tinggi, jangan coba-coba melewati jalanan ini. Bakal tersangkut. Sebab, banyak lubang besar. Belum lagi sisi kiri dan terkadang di kanan, menganga jurang yang begitu dalam. Benar-benar parah.

Penuh perjuangan dan tantangan, rombongan Gubernur Sumbar dan Pemkab Pasaman akhirnya memutuskan mengakhiri perjalanan untuk merealisasikan bantuan hanya sampai di Kantor Camat Mapatunggul Selatan di Silayang. Ini diakibatkan, jalan dari Silayang ke lokasi bencana yang berjarak lebih kurang 12 kilometer ini, belum bisa dilalui roda empat pasca galodo.

“Info dari tim Basarnas Pasaman, TNI, Polri dan BPBD di lapangan, jalanan baru bisa dilalui roda dua. Makanya pendistribusian bantuan dipusatkan di kantor camat ini,” kata William.

Diakui William, dari lokasi kantor camat, ke Muaro Sungai Lolo, meski hanya sekitar 12 kilo, dalam keadaan normal sebelum bencana, butuh sekitar dua jam perjalanan baru bisa sampai jika dengan mobil. Ini teramat lama, lantaran jalannya yang sangat teramat buruk. Jika dikira-kira, dari Ibu Kota Pasaman di Lubuk Sikaping, untuk sampai ke Muaro Sungai Lolo, butuh perjalanan sekitar empat jam lebih.

Lebih lanjut, saat rombongan gubernur datang, suasana masyarakat yang menanti tidak begitu ceria. Di wajah-wajah warga masih tersirat rasa penat, takut bahkan ada yang pasarah pasca kampung mereka diterjang galodo. Apalagi sampai menimbulkan dua orang korban yang meninggal dunia akibat dihantam galodo pada Jumat (14/2) malam lalu.

Camat Mapattunggul Selatan, Firsya Edwis memaparkan, akibat bencana ini, selain mengakibatkan dua warga meninggal dunia, juga ada figa warga yang rawat jalan dan inap. Selain itu ada pula dua unit rumah rusak berat, lima rusak sedang dan sembilan rumah rusak ringan. Galodo juga merusak dua unit sarana air bersih, tiga unit irigasi, satu jalan nagari dan empat unit jembatan. Ada juga satu gilingan padi dan tiga unit PLTA mini yang ikut dirusak galodo. Bahkan sampai ke areal sawah dan kebun seluas delapan hektar ikut terkena dampaknya.

Menanggapi hal ini, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, didampingi anggota DPR RI Nevi Zuraina dan Bupati Yusuf Lubis beserta rombongan Pemrov Sumbar dan Pasaman menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas musibah yang menimpa masyarakat Muaro Sungai Lolo.

Usai mengunjungi masyarakat di pusat kecamatan, Gubernur Irwan memberikan bantuan senilai Rp125 juta dari BPBD Provinsi, Rp100 juta dari Baznas Sumbar dan beberapa bantuan lainnya berbentuk sembako dan barang kebutuhan sehari-hari. (Ola)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top