Penulis: Yuwanda Efrianti
Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Imam Bonjol Padang
Di tanah yang kaya akan petuah, mengapa suara bijak mulai redup dari percakapan?
Minangkabau dikenal punya banyak hal yang bisa dibanggakan, perempuan yang jadi pusat adat, sistem matrilineal yang langka di dunia, merantau yang sudah seperti DNA, dan tentu filosofi hidup yang tajam walau disampaikan lembut.
Tapi satu warisan yang paling mudah hilang justru yang tak tercetak: kata-kata.
Hari ini, berapa banyak dari kita yang masih paham maksud dari “Bak basiang ka ateh, lupo daratan” atau “Kok indak sagalo ditanyo, kok ditanyo indak sagalo ka di jawek”? Generasi muda lebih akrab dengan trending sound TikTok daripada kato pusako yang dulu dijaga dengan hati-hati.
Padahal menurut data Balai Bahasa Sumatera Barat (2022), lebih dari 60% remaja Minangkabau tak lagi mengenali pepatah tradisional, bukan hanya tak mengerti, tapi bahkan tak pernah mendengarnya. Tak hanya sampai disitu sekitar 63% pelajar SMA di kota Padang tidak bisa menyebutkan lima ungkapan Minangkabau yang bermakna nasihat. Bahkan sebagian besar menganggap pepatah itu kuno dan tidak relevan dengan kehidupan modern.
Padahal dalam filosofi Minang, kata bukan hanya alat bicara, tapi juga medium berfikir. Kata-kata adalah pakaian nilai, dan petuah adalah bentuk paling halus dari pendidikan. Namun, ketika ia tak lagi hidup dalam percakapan, maka kita sedang menggali liang sunyi untuk kebijaksanaan yang mestinya diwariskan.
Minangkabau tak pernah membesarkan anak dengan bentakan. Mereka tidak biasa menyuruh, tapi membisikkan arah. Anak-anak tak dihardik dengan tangan, tapi diajak berpikir dengan kalimat. Itulah kekuatan urang awak: mendidik tanpa melukai, menasehati tanpa menyakiti.
Di ranah ini, “anak dipangku, kamanakan dibimbiang” bukan hanya simbol kasih, tapi metode mendidik yang lembut namun tegas.
Ketika seorang anak mulai keluar jalur, tak langsung dipermalukan. Cukup dengan satu ungkapan:
“Dima bumi dipijak, disitu langik dijunjuang”
Pesannya jelas, patuh pada nilai di mana pun kaki berpijak.
Bayangkan, betapa tingginya kecerdasan sosial yang tersimpan dalam satu kalimat.
Namun hari ini, mereka seakan lebih cepat mengutip quotes dari selebgram ketimbang petuah dari nenek sendiri. Lebih percaya motivasi satu menit dari reels, daripada nasihat yang hidup selama ratusan tahun di nagari.
Apa jadinya jika kata tak lagi dikenang? Ia menjadi sejarah. Dan sejarah yang tak dikenang, akan lenyap. Dan ketika cara itu hilang, kita kehilangan lebih dari sekadar tradisi. Kita kehilangan cara manusiawi untuk menjadi bijak.
Sebagai mahasiswa komunikasi, aku sadar bicara bukan sekadar soal menyampaikan, tapi soal melestarikan. Dalam kata ada kuasa, dalam kalimat ada arah. Jika kita ingin menjaga Minangkabau tetap bernyawa, kita harus mulai dari hal paling sederhana: membiasakan kembali petuah hidup dalam obrolan, bukan sekadar disimpan di arsip.
Aku menulis ini bukan karena tahu segalanya, tapi karena mulai merindukan suara-suara yang tak terdengar lagi. Kata-kata yang dulu bisa membuat seorang anak berhenti bermain hanya dengan satu perumpamaan, kini kalah oleh notifikasi.
Karena sesungguhnya, ketika kata tak lagi dilafazkan, maka ingatan pun perlahan mati.
Dan Minangkabau tidak akan punah karena ditinggal teknologi. Ia akan punah jika kita memilih diam, dan membiarkan warisan yang paling halus itu hilang di lidah, padam di ingatan.
Bahasa minang tak pernah butuh panggung besar untuk bicara, cukup dengan sepenggal kalimat, dunia bisa terdiam. Tapi kalau tak dijaga, sepenggal itu akan ikut hilang, bersama siapa kita.
Penulis : Opini
Editor : Nofal Wiska
















