Prokabar.com, Agam – Peningkatan kasus perilaku menyimpang pada siswa meningkat di klinik Inspirasi Consulting Bukittinggi.
Klinik yang melayani pasien di wilayah Bukittinggi dan Agam ini menerima konsultasi untuk perbaikan sikap dan peningkatan motivasi siswa.
Owner Klinik Inspirasi Consulting Bukittinggi Yosi Maulina peningkatan ini terjadi selama pandemi Covid-19 terhitung sejak berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
Meningkatnya kasus perilaku menyimpang ini, kata Yosi, karena pengaruh dari gadget atau smartphone.
Siswa khususnya di jenjang pendidikan SMP sampai SMA, terdominasi gadget karena harus belajar daring.
Sementara anak pada tingkat pendidikan ini banyak yang tidak mendapatkan kontrol dari orantua.
Pasalnya, orangtua siswa tersebut bekerja untuk memenuhi kebutuhan selama pandemi Covid-19.
Apalagi banyak juga orangtua yang awam menggunakan gadget ataupun smartphone sehingga tak mengerti cara mengontrol akses internet anak.
“Ketika kontrol kurang, anak terpapar pada pornografi dan konten yang mengganggu psikologis,” kata Yosi Maulina pada Prokabar.com, Senin (16/8).
Alumnus Psikologi Universitas Indonesia itu sangat menyayangkan meningkatnya kasus perilaku menyimpang pada siswa.
“Tidak sedikit yang mengalami motivasi rendah. Padahal Intelligence Quotients (IQ) bagus,” katanya lagi.
Yosi bercerita terkait perilaku menyimpang pada siswa, kasus paling banyak adalah pelecehan seksual.
Banyak kasus perundungan yang sampai menelanjangi dan memvideokannya. Ada juga kasus siswa yang berani menampar orangtua karena mengganggu gadgetnya.
“Dampaknya wibawa kontrol dari orangtua menghilang,” tegasnya.
Inilah penyebab banyaknya siswa yang pencapaiannya rendah di sekolah, begitupun dengan tugas yang diberikan.
Solusi Pencegahan
Yosi menawarkan solusi untuk mengatasi peningkatan perilaku menyimpang ini bisa dengan mengaktifkan kembali sekolah tatap muka.
Syaratnya, siswa yang masuk tatap muka harus melaksanakan protokol kesehatan secara ketat.
Menurut Yosi, energi pada usia remaja yang berlebih bisa tersalurkan pada hal positif di sekolah.
Sementara di rumah, mereka akan menghabiskan energinya di gadget sehingga akan sering terpapar pornografi dan konten negatif lainnya.
Kalau di sekolah, energi itu bisa disalurkan lewat kegiatan ekstrakulikuler.
Positifnya lagi, guru-guru bisa mengawasi setiap kegiatan anak agar tidak terpapar pada hal negatif. (*)
















