Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Kasus Kekerasan Seksual pada Anak di Pariaman Cukup Tinggi

Ilustrasi
Dibaca : 389

Pariaman, Prokabar — Tindakan pelecehan seksual terhadap anak di Kota Pariaman dan Padangpariaman marak terjadi. Kasus itu harus menjadi perhatian serius semua pihak dan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

“Untuk wilayah kerja Kejari Pariaman yaitu Pariaman dan Padangpariaman kasus yang nomor satu tinggi kasus pelecehan seksual terhadap anak, nomor dua baru kasus narkoba,” kata Kepala Kejari Pariaman Azman Tanjung, dilansir Prokabar dari MC Pariaman, Kamis (22/10)

Saat ini pihaknya berupaya menjalin kerja sama dengan Kantor Kementerian Agama di dua wilayah tersebut. Dengan harapan agar turut memberikan penyuluhan di tengah masyarakat sehingga kasus ini tidak lagi terjadi. “Sebab sudah jelas kasus pelecehan menghancurkan masa depan generasi muda sebab menyisakan trauma bagi korban,” ungkapnya.

Sementara itu aktivis kasus perempuan dan anak Fatmiyetti Kahar mengamini hal tersebut. Saat ini untuk Kabupaten Padangpariaman pelecehan seksual terhadap anak mencapai 51 kasus. Untuk Kota Pariaman mencapai 6 kasus. Itu belum termasuk kasus anak berhadapan dengan hukum.

“Pada tahun ini memang terjadi peningkatan yang cukup drastis, korban kasus ini rata-rata usia 15 tahun ke bawah.  Sebagian besar mereka berasal dari keluarga kurang mampu dengan orangtua yang berpisah. Sedangkan 18 orang pelakunya rata-rata berusia diatas 20 tahun ke atas,” kata Fatmiyeti Kahar.

Saat ini ke seluruh korban mendapat pendampingan dari P2TP2A Kota Pariaman bahkan dari tim psikolog Polda Sumbar. Hal ini penting agar peristiwa yang memilukan tersebut tidak sampai menjadi trauma bagi korban untuk menjalani kehidupan masa depan. Sebab korban masih anak-anak.

Teta Sabar, begitu ia akrab disapa menyebut lemahnya kontrol keluarga merupakan faktor utama pemicu terjadinya kasus ini. Apalagi jika korban merupakan anak korban perceraian sehingga minim perhatian orangtua. “Begitu juga lingkungan sekitar yang terkadang membiarkan anak-anak di lingkungan mereka bermain di luar rumah hingga larut malam,” ungkapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Anak dan KB (DP3AKB) Pariaman Nazifah menyebut tak hanya fokus menyelesaikan kasus kekerasan pelecehan terhadap anak. Namun juga rutin melakukan pencegahan agar kasus ini bisa terus ditekan. “Sosialisasi ke sekolah dan dari desa ke desa. Bahkan saya juga ikut dalam pertemuan rakor kepala sekolah untuk menyampaikan hal ini,” ujarnya.

Selain itu memperkuat ketahanan keluarga juga sangat penting bagi agar kasus -kasus seperti ini tidak terulang. Sebab waktu anak justru lebih banyak bersama keluarga dibanding saat sekolah. Sehingga kepedulian semua penting agar kasus tersebut tak terulang. (*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top