Daerah

Kasus Ibu Bunuh Anak di Tanah Datar. Bagaimana Kini Pemahaman ABS SBK ??

Tanah Datar, Prokabar — Kasus pembunuhan yang terjadi di Jorong Andaleh Baruah Bukik, Kecamatan Sungayang Tanah Datar, dimana seorang ibu tega menghabisi nyawa anaknya yang barus saja dilahirkan, membuat buncah dan menjadi tamparan keras bagi seluruh elemen masyarakat Minangkabau yang selama ini dikenal memegang teguh Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS- SBK).

Mirisnya lagi, peristiwa ini terjadi tidak jauh dari lokasi dimana Sumpah Sati Bukik Marapalam yang melahirkan filosofi Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah, Syara’ Mangato Adat Mamakai.

Menanggapi terjadinya kasus ibu bunuh bayi di Luhak Nan Tuo, Sukri Iska, Ketua MUI Tanah Datar  secara prinsip menyesali munculnya kasus tersebut di bumi Minangkabau. Dalam agama islam, tindakan membunuh orang lain sangatlah dikecam, apalagi membunuh anak kandung sendiri.

”Tidak ada satupun celah didalam islam mentoleransi tentang itu (membunuh). Seperti apapun kondisinya, yang namanya membunuh itu tidak ada dalam islam. Yang ada, memberikan sangsi terhadap orang yang membunuh dalam bentuk membunuh. Tetapi itu tidak dikenal didalam proses hukum yang ada di Indonesia,” Ucap Syukri Iska saat dihubungi Prokabar.com.

Lebih lanjut, Direktur pasca sarjana IAIN Batusangkar ini juga menambahkan, terjadinya krisis pemahaman dan pengamalan agama menjadi faktor utama penyebab terjadinya tindakan yang bertentangan dengan agama dan hukum yang berlaku di negeri ini, selain dari faktor ekonomi, paikologis, beban depresi dan sebagainya.

“Yang bikin kita terenyuh, terjadinya pemahaman dan pengamalan agama yang sangat dangkal hingga terjadinya kasus membunuh, LGBT, narkoba dan sebagainya.” ujar pria yang juga Ketua Organisasi Himpunan Ilmuan dan Sarjana Syariah Islam (HISSI) Sumatera Barat ini.

Sementara itu, menyikapi sejauh mana pengamalan ABS – SBK oleh masyarakat Luhak Nan tuo dijawab Syukri Iska yang hakikatnya pengamalan tersebut ada pada individu, komunitas, sistem sosial dan sistem pemerintahan. Jika sinergisitas antara individu, masyarakat dan pemerintah terwujud, maka segala sesuatu yang bertentangan dengan agama dan hukum tidak akan terjadi.

“Perlu duduk bersama tungku tigo sajarangan, tungku tigo tali sapilin untuk mencoba membincang bincangkan persoalan persoalan sosial, keumatan, dan tidak sebatas tampilan formal atau ceremoni. Tapi bagaimana ada sentuhan yang kongkrit dilakukan bersama sinergi tiga komponen tadi, sehingga bisa tereleminir, tidak akan hilang, terkurangilah kejadian kejadian seperti ini,” ucapnya.

Syukri menambahkan perlu adanya media konseling disetiap kecamatan. Dan hal ini bisa dilakukan oleh orang yang ahli seperti, guru, dosen dan penyuluh agama.

” Kantor KUA perlu membuka wadah atau rubrik atau ruangan untuk masyarakat yang ingin curhat dalam menyelesaikan masalah pribadi. Ada langka yang kongkrit yang perlu dilakukan, namun tidak kita lakukan,” tutupnya.

Disisi lain, tokoh masyarakat Tanah Datar, Khairul Jasmi juga angkat suara terhadap kasus yang menghebohkan Luhak Nan Tuo. Menurut beliau,  masyarakat, tokoh masyarakat dan agama serta  Pemerintah untuk berhenti menganggap bahwa ABS – SBK sudah diterapkan dengan baik di Tanah Datar. Seluruh element juga diminta untuk tidak menyanjung diri sendiri terhadap pemahaman dan pengamalam ABS – SBK yang seolah olah  telah sempurna dilakukan.

“Biarkan ABS SBK itu masak sendiri. Yang mesti dilakukan, mengaplikasikannya di tiap rumah tangga. Sepanjang riuhnya masih di tataran elit selama itu pula yang didapat hanya buih,” kata tokoh masyarakat Tanah Datar, yang akrap disapa KJ.

Ia juga menyarankan, agar pemerintah, pemangku adat, ulama dan cendikiawan, untuk lebih fokus pada akar persoalan yang terjadi ditengah tengah masyarakat,  yaitu semakin rapuhnya tatanan sosial dan kurang disiplinnya menegakkan etika bersama, moral dan agama.

“Pelaku pembunuh bayi, karena anak tak punya ayah itu, sebaiknya jangan dihukum berlebihan. Hukum sosial lebih berat dari hukuman fisik. Ia adalah korban dari rapuhnya pagar moral kita,” tutup KJ.

Sementara, Eko Yance mengatakan  hendaknya kita tidak mencari kesalahan dan pembenaran terhadap kasus ibu yang membunuh darah dagingnya sendiri itu. Menurutnya, terjadinya kasus tersebut tidak terpas dari ketidaktaatan terhadap moral dan lemahnya pengawasan kelurga dan masyarakat.

” Jangan cari lagi salahnya, karena terlalu banyak yang mesti dipersalahkan. Ketidaktaatan pada moral sekaligus juga lemahnya pengawasan keluarga dan masyarakat. Perlu juga pembuktian

sebab sebelumnya dia hamil, sebelum itu tentu ia disetubuhi, sebelum itu ia melakukan dengan kesadaran atau dipaksa? Perlu dibuktikan,” tulis Eko Yance saat menjawab pertanyaan yang dilayangkan Prokabar.com

Eko Yance juga menanggapi jika kasus ibu membunuh bayi bukanlah hal yang baru terjadi di kabupaten, provinsi dan bahkan di negeri ini. Pegangan hidup ABS-SBK oleh masyarakat Minangkabau sangatlah ideal, dan hanya sebagian kecil orang yang tidak memahami dan mengamalkanya.

“Untuk kasus seperti ini bukanlah hal yang baru. Jadi kita serahkan saja pada polisi. Dna Jangan kambinghitankan pula ABS SBK, karena filosofi ideal itu sudah benar. Yang tidak benar adalah sebagian orang tidak menjadikan itu tuntunan,” tutupnya. (eym)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top