Karpet Masjidil Haram, Sepanjang Jalan Padang – Bukittinggi

Penulis -

Rabu, 18 Maret 2020 - 00:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Khairul Jasmi

Karpet hijau Masjidil Haram seharum mawar.  Selembut bulu kucing kesayangan. Jika ujung dan ujung dipertemukan, karpet itu akan melingkari Ka’bah, namun tidak. Alas shalat itu terpotong-potong. Jumlahnya 30 ribu lembar yang jika direntang maka panjangnya sekitar 100 Km, sepanjang jalan Padang – Bukittinggi. Titik nol Padang balaikota lama hingga ke kaki Jam Gadang, titik nol Bukittinggi, lewat sedikit sampai pacuan kuda. Pas 100 Km.

Jutaan jemaah sujud di situ, sesujud-sujudnya, bahkan menangis. Di situ orang-orang miskin shalat, mereka yang mengumpulkan sen demi sen. Di situ orang kaya shalat. Siapapun dia, tak ada beda, sama-sama mencium bau mawar. Sama-sama terbenam dalam kehambaan di masjid paling agung. Kaki telanjang yang lembut atau tumit retak-retak berdaki. Sama saja. Hamba Allah.

Karpet lembut nan mahal itu, dirawat sedemikian rupa. Kini, dalam beberapa hari terakhir, semua menghilang. Kabarnya sengaja digulung karena jemaah kian banyak mendekati wukuf di Arafah. Kenapa digulung? Untuk menghindari penyebaran virus, terutama flu dan batuk. Akan halnya batuk, tak dapat akal lagi, bersahut-sahutan bagai bunyi katak di hamparan sawah bancah sebelum disiangi.

Dilansir Al Arabiya pemerintah mempekerjakan petugas terlatih untuk menjaga karpet itu. Pekerja membersihkan debu atau kotoran apapun yang menempel di karpet memakai vokum. Lalu karpet digulung, diganti yang baru. Yang lama dicuci dengan sabun dan bahan khusus pencabut bakteri. Selesai, maka karpet dibilas lalu dijemur pada alat khusus yang terus-menerus bergerak. Jika selesai maka masuk pada tahap pengeringan elektrik hanya 1,5 menit dan kemudian dijemur di bawah terik matahari Saudi. Kering sudah, permadani halus itu dibersihkan dengan sapu. Necis sudah. Lalu disemprot aroma mawar. Bau mawar harum semerbak itulah yang tercium saat sujud. Untuk kenyamanan jemaah itu, diperlukan 20 ribu liter bunga mawar.

Untuk urusan kebersihan masjid itu, ororitas membeli 40 kendaraan pembersih, 120 carrier dan 60 mesin pencuci. Para pekerja bisa membersihkan lantai sekitar Ka’bah dalam 30 menit di tengah padatnya orang tawaf.

Apapun di Masjidil Haram dibersihkan, dinding, pintu, lampu, jendela dan entah apalagi. Untuk semua pekerjaan itu pemerintah mempekerjakan 200 staf kebersihan, 2.700 pekerja kebersihan dan 260 petugas kontrol serta  100 supervisor. Angka ini belum termasuk staf perempuan.

Republika.co.id melaporkan karpet Masjidil Haram diganti lima kali dalam setahun. Direktur Unit Kebersihan Lantai Masjidil Haram, Ir Muhammad bin Sulaiman al-Waqdani, mengungkapkan perkembangan perjalanan karpet di masjid, telah melewati sejumlah fase dalam sejarah. Baik dari segi produksi, kualitas dan kerja sama dengan perusahan-perusahan terbaik dunia.

Menurut catatan pejabat di sana karpet Masjidil Haram dibuat di beberapa tempat. Pada periode pertama (1402 H-1409 H), karpet didatangkan dari Belgia dengan warna dasar merah. Petugas toko di mall Bin Daud menawarkan sajadah buatan Swedia kepada saya. Harganya Rp4 juta sampai Rp6 juta.

Kedua, periode 1409 H-1416 H, karpet diimpor dari Jerman dan berwarna merah.

Periode 1416 H-1420,  dari Lebanon. Lantas  1420 H-1434 H dibuat perusahan lokal, Arab Saudi dengan warna merah. Lalu sejak 1434 samlai sekarang masih buatan lokal dengan warna hijau.
Kini karpet itu sudah digulung, jemaah shalat di atas marmer. Karena itu sudah disarankan agar membawa sajadah agar lutut tertelekan tak sakit. Sejauh itu, banyak yang tak hirau atau lupa.

Di  Makkah sajadah harganya bisa 10 riyal sampai 1000 riyal. Sama dengan tasbih harga 10 riyal sampai 900 riyal. Ada sajadah lipat untuk keperluan di alam terbuka, harganya 10 riyal. Ada sajadah sekaligus bisa jadi alas duduk dan ada sandarannya, harga mulai 150 riyal. Di Makkah dan Medinah, memang banyak warga setempat yang membawa sajadah plus tempat bersandar itu, seperti topangan pada laptop mahal Anda.*

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB