Pasaman, Prokabar — Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Pasaman (JKMP) Saiyo Universal Health Coverage (UHC) open system mulai ‘tergelicir’. Program yang digadang-gadangkan pemerintah Pasaman dengan jaminan masyarakatnya 100 persen terlindungi BPJS terhitung 1 Agustus lalu itu, malah menimbulkan masalah baru.
Buktinya, sudah tiga hari ini, ribuan masyarakat memadati kantor BPJS Pasaman. Bukan main antriannya. Berdesakan pula. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang tak dapat pelayanan. Sampai-sampai ada pula yang nyaris pingsan.
Seperti yang dialami Ayu, salah seorang ibu rumah tangga yang sedang hamil. Tiga hari ia pulang balik mengurus BPJS yang biaya iuran bulanan dari APBD Pasaman (program JKMP UHC) itu, namun tak kunjung selesai.
“Yang ada saya malah jatuh pingsan, pak. Tidak tahu saya, macam apa sistem pelayanan program ini. Dulu katanya semua masyarakat yang belum dapat jaminan kesehatan bakal diberi. Tahunya, sekarang beda lagi,” kata Ayu.
Sementara itu, Kepala BPJS Kesehatan Kabupaten Pasaman Syafrudin mengatakan, setiap harinya, pihak BPJS hanya memberikan nomor antrian sekitar 200 nomor.
“Nomor antrian itu pagi sudah dibagi karena tidak sanggup melayani, nomor antrian dibagi 200, masyarakat yang datang 500, yang 200 itu melayaninya sampai jam 8 malam” kata Sayrudin.
Syafrudin juga menyampaikan mulai besok pendaftaran peserta BPJS rekomendasi dari Dinas Sosial dibatasi, diprioritaskan bagi yang emergency dan itu sudah keputusan rapat dengan bupati, Sekda dan Dinas Sosial Kabupaten Pasaman.
“Sejak tanggal 1 Agustus kemarin sudah 5.000 orang mendaftar, habis anggaran Pemda, jadi mulai besok dibatasi,” ujar Syafrudin.
Di sisi lain, untuk program JKMP-Saiyo UHC open system ini, pihak Pemkab Pasaman menganggarkan Rp1,8 miliar. Selain itu, program yang sebelumnya ada dan telah berjalan, Pemkab Pasaman telah merealisasikan Rp14,495 miliar untuk Jamkesda, Rp5 miliar untuk JKMP-Saiyo UHC. (Ola)
















