Padang, Prokabar — Malamang sudah menjadi tradisi masyarakat Minangkabau menjelang masuknya bulan suci ramadhan. Di kawasan Lambung Bukik, Kota Padang, tradisi itu masih dipertahankan hingga kini.
Murni, salah seorang warga kepada Prokabar mengatakan tradisi itu masih ia lestarikan yang diturnkan nenek moyangnya.
“Setiap tahun saya terus membuat lamang,”sebutnya, Kamis (2/5).
Konon, tradisi itu muncul tak lepas dari peran Syekh Burhanuddin, ulama asal Pariaman.
Kendati demikian, malamang juga dipersiapkan untuk tradisi Badoa (Berdoa). Tetangga dan keluarga akan diundang untuk mendengarkan tausyiah dan doa dari ustadz.
Selain itu hasil lemang yang dimasak tadi akan dijadikan hantaran ke rumah mertua sebagai permohonan maaf. Tradisi ini juga dilakukan untuk menyambut hari-hari besar Islam lainnya.
Dikatakan, lamang itu sendiri dimasak dihalaman rumah, juga dibantu oleh keluarganya.
“Keluarga juga membantu memasak lamang,”tambahnya.
Seperti diketahui, bulan suci ramadhan tinggal menghitung hari lagi. (gas)
















